Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Perlawanan Mangir: Jalan Pedang Menentang Mataram

Oleh: Lintang Selatan         Diposkan: 21 May 2019 Dibaca: 892 kali


“Leluhur dan siapa saja yang dengar, inilah Wanabaya, akan tetap melawan Mataram.”

– Ki Ageng Mangir

 

Keraton Mataram mempunyai hasrat yang begitu besar untuk melebarkan kekuasaan dan menjadi raja tungal di atas tanah Jawa. Bagi Mataram, Perdikan Mangir merupakan kerikil tajam yang menghalangi takhta, sebuah desa yang harus segera dibersihkan keberadaannya. Namun, panglima perang balatentara Mataram, Tumenggung Takih Susetya, kalah telak melawan balatentara Perdikan Mangir yang dipimpin Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya. Dengan strategi perang Ronggeng Jaya Manggilingan, balatentara desa Mangir dapat memukul mundur balatentara kerajaan Mataram hingga tunggang-langgang.

Sekitar tahun 1575 hingga 1577, Keraton Mataram (lokasi saat ini: Kota Gede) ingin memperluas kerajaannya ke daerah Perdikan Mangir (lokasi saat ini: daerah Bantul) hingga garis pantai selatan. Sri Baginda Panembahan Senapati yang mendaku sebagai raja Ing Ngalaga Sayidin Panatagama ing Tanah Jawa, kewalahan untuk menundukkan Perdikan Mangir beserta Kedemangan yang enggan bersujud pada takhtanya. Tuntutan untuk takluk dan upeti hanya dibalas dengan tertawaan. Serbuan perang terhadap perdikan juga tak mudah dimenangkan.

Baru Klinting ahli siasat desa Mangir menyiapkan ratusan mata tombak tambahan. Bukan untuk menjadikan Wanabaya Muda sebagai raja dan Perdikan Mangir menjadi sebuah kerajaan. Menurut Klinting, Mangir tetap akan menjadi desa perdikan. Tanpa diperintah oleh seorang raja dan tanpa ada yang memerintah rakyat dengan semena-mena. Sebab bagi Klinting, “Semua orang boleh bersumbang suara, semua berhak atas segala. Yang satu tak perlu menyembah yang lainnya, yang lain sama dengan semua.”

baca juga: Religiositas: Aforisma Nietzsche dan Rabi’ah al-Adawiyah

Klinting ditanya mengapa Mangir memerlukan ratusan tombak tambahan, melebihi apa yang dibutuhkan untuk melawan Mataram. Dengan tegas Klinting menjawab, “Buat tumpas semua raja.”

Perdikan Mangir memiliki Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, seorang anak muda yang tangguh (sekitar umur 23 tahun), lihai dalam perang, dan gagah berani di garis depan. Desa tersebut juga memiliki Baru Klinting (sekitar umur 27 tahun), anak muda yang cerdas, prajurit yang tangkas, ahli strategi yang mumpuni, dan terkenal bijaksana.

Tampaknya Mataram memahami, bahwa perang secara terbuka terhadap Mangir tidak mudah. Oleh sebab itu, Panembahan Senapati mengirimkan telik Mataram (mata-mata kerajaan)  untuk mengawasi pergerakan Perdikan Mangir. Demi kekuasaan Mataram, segala cara akan dilakukan. Bahkan, Raden Rangga sang putra mahkota digantung di puncak pohon ara dan mayat anak raja tersebut dipertontonkan pada rakyatnya. Sebagai peringatan dari Keraton Mataram: anggota keluarga raja sendiri akan dibantai, apalagi rakyat biasa jika tak patuhi perintah kerajaan.

baca juga: Jalan Terjal Pembangunan Jalan Tol

Keraton Mataram memiliki Tumenggung Mandaraka Juru Martani, seorang pujangga sekaligus penasihat raja. Meski telah berumur hampir 100 tahun, Ki Juru Martani tetap lincah dan berpikiran tajam. Bapak tua “machiavellis” tanah Jawa tersebut ahli strategi perang –bahkan sebelum Niccolo Machiavelli dikenal dunia, cerdas membaca situasi lapangan sekaligus tak ragu bertindak kejam. Ki Juru Martani juga dikenal sebagai think thank di balik berdirinya Kerajaan Mataram. Baginya, “semua titah berasal dari takhta, kalis dari dosa bersih dari nista, harus dilaksanakan sebaiknya, tak peduli bagaimana caranya.” Ayah sang raja Panembahan Senapati, yang juga saudara kandung Ki Juru Martani, sang perintis Mataram Ki Ageng Pamanahan bersabda: “Untuk seorang raja, tak ada tanah tempat berpijak. Dia bersemayam di atas takhta, di bawahnya lagi kepala semua manusia.”

Panembahan Senapati –atas siasat Ki Juru Martani, akhirnya mengirimkan putrinya sendiri untuk pergi menuju Perdikan Mangir. Sebagai telik Mataram, Putri Pembayun dikawal langsung gerombolan Ki Juru Martani yang menyamar sebagai orang desa. Putri cantik kerajaan tersebut menyusup sebagai waranggana bayaran, menjadi penari dari desa ke desa mencari penghidupan.

Bagi sang penguasa Mataram: bila balatentara Mangir tak bisa dikalahkan dengan pedang, maka Putri Pembayun harus dikirimkan sebagai ‘tumbal’ kejayaan Mataram.

baca juga: Mengurai Benang Kusut Sofisme

Tafsir Ulang Cerita Perlawanan

Naskah buku Drama Mangir merupakan karya Pramoedya Ananta Toer. Rampung ditulis pada tahun 1976, berdasarkan tutur cerita yang berkembang di masyarakat Jawa. Pram menuliskan-kembali cerita tentang perlawanan Mangir terhadap Mataram. Pentingnya kisah tersebut, bagi Pram, bukan persoalan bentuk sastranya, melainkan nilai-nilai yang dikandung dalam sejarahnya.

Berbeda dengan sastra sejarah yang telah banyak dialihkan ke berbagai bahasa, seperti Rara Mendut-Pranacitra, cerita perlawanan Mangir melawan Mataram bahkan belum diindonesiakan. Dalam Babad Tanah Jawa, penulisan sejarah pertikaian Mangir-Mataram dari kejadian sebenarnya juga sangat jauh, terpaut sekitar 150 hingga 200 tahun lamanya. Hal ini melahirkan beragam tutur cerita: versi Mataram dan versi Mangir; versi istana dan versi desa. Yang mana cerita yang paling benar, sulit diterka, jalan yang paling memungkinkan untuk ditempuh yaitu tafsir atasnya.

Lamanya penulisan sejarah pertikaian Mangir-Mataram diduga karena pada masa itu Jawa dilanda peperangan yang berkepanjangan. Selama satu abad, disebut sebagai masa kekuasaan yang penuh dengan kekejaman dan membuat banyak darah tertumpah di tanah Jawa.

baca juga: Intrik dan Tragisme Manusia

Tumenggung Mandaraka alias Juru Martani, seorang pujangga, penasihat raja, sekaligus dalang peperangan dan otak di balik Mataram juga tidak menuliskan kejadian tersebut. Selain sibuknya dengan peperangan, juga terjadinya pertikaian ulah kerajaannya merupakan hal yang memalukan untuk dituliskan. Tentu saja tak layak menjadi cerita: balatentara kerajaan kalah melawan balatentara pedesaan. Jika pun menang, jalan yang ditempuh dengan cara licik dan sama sekali tak ada kehormatan.

Setelah berabad lamanya, penceritaan sejarah yang dilakukan penguasa Mataram juga dengan cara mengaburkan makna sejarahnya. Bahkan hingga hari ini, kerajaan yang berkuasa menggambarkan Ki Ageng Mangir telah tunduk di bawah kuasa Mataram, pembangkang yang tak tahu diri, dan dimana tubuhnya dikubur pun tak jelas keberadaannya. Demikian pula dengan Baru Klinting, ia digambarkan sebagai manusia setengah hewan, seekor ular jejadian, hingga digambarkan sebagai sebuah senjata pusaka. Baru Klinting tidak hanya dihabisi nyawanya dan dirampas perdikannya. Penggambaran si ahli siasat Mangir bukan sepenuhnya manusia adalah tipu muslihat Mataram untuk menghapuskan jejaknya dari sejarah.

Penceritaan-kembali dalam Drama Mangir merupakan tindakan jenius dari tangan dingin Pram. Bukan sebab mengindonesiakan cerita panggung ketoprak tersebut ke panggung nasional, tetapi karena mengulas kembali apa kemungkinan sebenarnya yang terjadi pada masa itu. Mengurai dengan sedemikian rupa dalam ‘pertanggungjawaban’ sebagai pengantar buku, Pram mempreteli sekaligus menganalisis berbagai sanepa atau kiasan yang dilakukan para pujangga dahulu. Selain itu, Pram berani melucuti para lakon sejarah tersebut dari baju dongeng dan aroma mistik yang kerap bertebaran dalam sastra Jawa. Para lakon sejarah Mangir-Mataram disodorkan apa adanya: sebagai manusia biasa, dengan segala kekurangan dan keunggulan, dengan berbagai sukses sekaligus gagalnya.

baca juga: Menjadi Seekor Ikan di Pusaran Zaman

Buku Drama Mangir tentu bukan cerita tunggal dan satu-satunya tafsir yang paling benar. Namun, dari sekian banyak macam tutur, penceritaan-kembali yang dilakukan Pram adalah yang paling masuk akal. Naskah tersebut juga bukan tafsir yang telah rampung –Pram pun menyadari itu. Alih-alih sebagai tafsir akhiran, Drama Mangir justru sebuah ikhtiar permulaan. Sebuah penggalian kembali sejarah mereka yang dipaksa-kalah oleh mereka yang curang-menang untuk melanggengkan kekuasaan.

Sebab harus diakui, sejarah selalu mengulangi pola yang sama, meski dalam peristiwa yang berbeda. Hasrat dan liciknya watak Mataram diwariskan hingga hari ini, meski di satu sisi, semangat yang diperjuangkan Mangir tak benar-benar mati. Dus, buku Drama Mangir tidak hanya penting dibaca oleh para pembelajar sejarah, pengagung keraton, pengamat kerajaan, pemerhati sosial, dan pembaca sastra Jawa. Cerita perlawanan orang-orang desa melawan raja dan kerajaan yang menindas tersebut, juga penting dibaca oleh mereka yang akan dan sedang melanjutkan perjuangannya.

  •  

Judul : Mangir

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal: 163 halaman

  •  
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: