Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pertemuan dengan F. Budi Hardiman: Sebuah Renjana Filsafat

Oleh: Robi Mardiansyah         Diposkan: 29 Dec 2018 Dibaca: 1991 kali


Ketika kita jujur, ketika kita berani, seringkali kita memang sendirian. Jalan yang paling sunyi, yang sering ditempuh oleh para pemikir besar itu, adalah keberanian untuk menyangsikan – dan itu adalah jalan yang sangat… sepi. —Karlina Supelli (Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan; 2017)

 

Ketika kita belajar, ketika kita mengumpulkan remah-remah pengetahuan, ketika membaca nyatanya tak selalu bertepuk-junjung dengan pemahaman, kita memang sendirian. Pertanyaan demi pertanyaan berkelebat. Kata-kata mencari makna. Jawaban-jawaban tak ada. Memilih persimpangan yang keliru; salah jalan. Menyumpah-serapahi ingatan yang demikian pendek – kembali ke awal. Ialah waktu-waktu paling sunyi dalam periode formatif seseorang.

Tapi, seandainya kita sedia bersabar dan melihat lebih awas, tak sunyi-sepi amat sebetulnya.

Tanpa bermaksud mengetengahkan betapa dalam dan sahajanya ucapan Karlina Supelli, kata-kata itu sendiri seperti merentang ke segala penjuru. Tuturnya akrab. Nadanya tenang. Tertuju kepada siapa saja yang tak letih-letih mencari terang-kejelasan. Menyentuh mereka yang bersetia membaca dalam diam – dalam pencarian akan tahu. Tidakkah ini sebuah penegasan, atau justru suara parau anjuran tabah?

baca juga: Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Bagi orang-orang seperti saya, yang tidak mempelajari filsafat secara akademis namun keburu gandrung (bahkan tenggelam) dengan bacaan-bacaan filsafat, tak sunyi-sepi benar mulanya.

Selalu ada buku-buku bagus. Buku-buku yang ditulis dengan kegempalan semangat dan komitmen tegap, yang pada awalnya mengiringi serta berperan tak ubah pelontar dalam petualangan intelektual saya. Saya katakan ‘pelontar’, sebab ia meletakkan pikiran saya pada ekstrem yang sedia sigap, pada ujung yang mencipta daya untuk melentik. Kadang hampir tak berarah, dan dengan cara yang tak disangka-sangka. Tampil dalam dialog imajiner antara saya dengan tokoh; terbayang diri laksana petualang, terperosok di sebuah dunia yang tak akrab dan acap kali asing – siap tersesat ke segala entah.

Tentu saja itu cuma imajinasi saya. Sebuah imajinasi yang agaknya juga diandaikan Carlos María Domínguez dalam Rumah Kertas. Bahwa susunan dan tampilan teks yang terdapat pada sebuah buku membuat teks jadi tak sekadar teks, tapi sekaligus sesuatu yang punya ruh. Keistimewaannya terletak pada rangkaiannya yang tak rapi, menyelubungi huruf demi huruf, kata demi kata, berada di antara kalimat-kalimat yang membentuk paragraf, atau tanda baca yang menolak keteraturan namun mampu mereka-cipta isi dan bentuk (teks). Ia mungkin seperti awan di langit atau kotoran di dinding. Ia bisa jadi gambar dari sebuah wajah atau binatang atau gedung atau….

baca juga: Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Teks itu, meminjam pandangan Ricoeur, datang dan bicara – dan kita, selaku pembaca, dituntut untuk senantiasa “telanjang” manakala berhadap-hadapan dengannya. Apa yang diajukan Ricoeur berdiri di atas anggapan – ia merespon Derrida – bahwa teks adalah medan di mana “Aku” (penulis dan pembaca) berebut hadir. Riuh kendati tidak bising. Jernih kendati tidak senyap. Ricoeur tampaknya hendak mengajukan situasi semacam itu sebagai ideal pembacaan, sebagai medium, agar setiap ikhtiar dalam mendekati teks tetap “dialogis”, dan makna berpendar bersamaan dengan Aku yang timbul-tenggelam.

Dialog semacam itulah yang membayang setiap kali saya membaca. Teks-teks itu menghasut saya. Berkali-kali. Ia datang sebagai bayangan para tokoh atau corak sebuah zaman. Sekonyong-konyong membaca bertukar menjadi petualangan yang mendebarkan, kerumitan yang asyik, menghantarkan saya dalam pencarian-pencarian yang tiada akhir.

Membaca sebagai laku pencarian itu dewasa. Yang kanak-kanak adalah perasaan cukup dan penuh pengetahuan. Orang berhenti membaca dan belajar; kebenaran menjadi teramat mudah digemari dan diucapkan, sementara kesalahan tak dapat ditolerir. Apa jadinya bila semua orang percaya bahwa pengetahuan-nya lah yang pasti benar tanpa ada yang bersedia menanggungkan kesalahan? Pengetahuan, merujuk Hawkings, seketika berubah jadi sesuatu yang menyeramkan, perangkat keras yang digunakan untuk mempersalahkan dan menakut-nakuti, dan ilmuwan seperti gelar untuk seorang idiot. “Musuh terbesar pengetahuan bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi pengetahuan itu sendiri.” Kita toh tahu, pengetahuan ada bukan karena jawaban-jawaban ada, melainkan karena adanya pertanyaan.

baca juga: Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

Ketidaktahuan itu purba segala ihwal; dan itu sebab pengetahuan melulu arif. Kita boleh heran, atau bila perlu menaruh curiga, kepada mereka yang bicara pengetahuan dengan urat beton di leher atau kepalan tangan menjelma tinju. Maksud saya, guru-guru kita, pemimpin-pemimpin kita, agamawan-agamawan kita, mereka yang kerap bersembunyi di balik gelar, nama besar, dan otoritas, yang garang ketika kita bersoal namun memberi apresiasi tinggi tatkala pendapatnya diamini. Barangkali di situlah membaca sebagai laku pencarian bukan saja perlu tapi juga ikhtiar menjadi bijak.

Lantas, apa yang paling asyik dari membaca? Jika yang asyik dari menulis adalah punya rahasia, yang asyik dari membaca adalah membongkar rahasia (penulis). Setangkup ide yang sengaja tak hendak dibagi dan diperlihatkan oleh penulis kepada pembaca, bersembunyi di balik huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tanda baca. Barangkali itu pula yang membuat sikap bid’ah lebih sering datang sebagai ilham, mengarah pada yang-baharu, sehingga perasaan penuh pengetahuan dapat ditangguhkan. Barangkali itu pula yang membuat setiap pemberontakan yang tercatat di lembar-lembar sejarah – di setiap lini kehidupan: agama, sains, politik – datang sebagai kehendak, bukan kesadaran.

Dialog imajiner, pertama-tama, muncul saat pembaca menyatakan pemberontakan dan ketidaksetujuannya terhadap sebuah ide, dalam upayanya mencari-cari arti sebuah teks. Dalam pengalaman saya, itu berarti permulaan untuk percakapan yang tak putus-putus.

baca juga: Pembaratan dan Suara Lain dari Amazon

Franz Magnis Suseno, Ignas Kleden, Bambang Sugiharto, Karlina Supelli, F. Budi Hardiman, ialah sederet nama, atau lebih khusus lagi sekumpulan teman (-imajiner), yang pada awalnya bercakap dengan saya. Mereka seperti pendongeng yang berkisah tentang ide seorang tokoh yang hidup pada suatu zaman, pada suatu masa di mana lampu-lampu kota belum semencolok sekarang, dan pengetahuan masih dipercaya sebagai perisai untuk setiap rasa takut. Khusus nama terakhir, F. Budi Hardiman, saya punya kesan yang tak biasa dengan orang ini.

F. Budi Hardiman adalah orang pertama yang menumbuhkan minat saya terhadap filsafat dan teks-teks yang sifatnya lebih teoritis. Di penghujung tahun 2011 yang tak lagi saya ingat kapan persisnya, pertemuan saya dengan F. Budi Hardiman untuk yang pertama terjadi. Sebagaimana mahasiswa di tahun-tahun awal, tak banyak yang saya baca (walau dapat dipastikan bacaan saya lebih banyak ketimbang 3 tahun menempuh pendidikan di SMA). Namun, ada satu buku yang memaksa saya menabung, menekan segala kebutuhan yang pada waktu itu memang tak memungkinkan saya menggunakan uang untuk sekadar belanja buku: Kritik Ideologi.

Saya banyak mendapat cerita seputar buku pertama F. Budi Hardiman itu, dari teman-teman dan salah seorang guru, yang konon merupakan sebuah prestasi akademik yang rasa-rasanya mustahil dicapai oleh mahasiswa setingkat sarjana. Saya tak ingat bagaimana perjumpaan dan dialog saya dengan F. Budi Hardiman berlangsung, yang jelas, setelah saya melahap habis Kritik Ideologi sampai saat tulisan ini dituliskan, pengalaman itu membentuk sebuah ideal pembacaan dalam mendekati teks. F. Budi Hardiman berhasil mendorong saya mencari lebih jauh tentang apa yang ia tulis, memeriksa referensi-referensi yang ia cantumkan, mengajarkan saya bagaimana cara sebaik-baiknya membaca – menajamkan logika, menguji daya tahan dalam memahami, bertahan di satu-dua kalimat yang sialnya kerap membingungkan.

baca juga: Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Yang juga saya ingat dari pertemuan itu, saya membayangkan, F. Budi Hardiman seolah duduk satu meja dengan saya, bicara apa yang hendak dinyatakannya, tentang suatu pokok gagasan di dalam sebuah kalimat atau paragraf, dengan sahaja bahkan tanda seru. Asyik. Tapi tetap tak membuat saya merasa cukup paham. Maka, sekurang-kurangnya bagi saya, buku-buku yang ditulis F. Budi Hardiman melulu suplemen – ia seperti sebuah asupan untuk daya tahan saat membaca di babak awal petualangan intelektual saya.

Dalam pandangan saya, dan ini lebih umum sifatnya, sebuah buku menjadi ideal-pengetahuan bila diasumsikan sebagai “Pengantar”. Asumsinya, pemahaman menjadi senantiasa terbuka untuk dibongkar, lepas dari segala bentuk esensialisme dan primordialisme (dua hal yang seharusnya memang kita jauhi bila hendak menjadikan membaca sebagai laku pencarian). Dan petualangan berlanjut; dan membaca sebagai laku pencarian menjadi tak main-main lagi.

Pengertian itu juga yang agaknya berlaku untuk buku-buku F. Budi Hardiman. Buku-buku yang memang diperuntukkan sebagai “Kata Pengantar” suatu pemikiran tokoh (tentang Jürgen Habermas: Kritik Ideologi dan Menuju Masyarakat Komunikatif; tentang Martin Heidegger: Heidegger dan Mistik Keseharian) atau suatu tema/aliran pemikiran (Melampaui Positivisme; Seni Memahami; Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern).

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Sebab, tak ada yang tak berarti di dalam “teks”. Setiap pembacaan atas sebuah teks sudah merupakan mukadimah untuk teks lainnya. Juga untuk pengulangan-pengulangan yang menyertainya. Namun, jika “gerak teks” melulu berada dalam pengulangan, sampai sejauh mana membaca dapat dikatakan sebagai laku pencarian?

Kata pengantar atau karya sekunder seperti yang dituliskan oleh F. Budi Hardiman bukanlah “pusat”, melainkan “luaran” dari sebuah ide pokok seorang tokoh – ia mengitari teks pusat yang tepat berada di belakangnya. Dalam Oxford English Dictionary, diterangkan bahwa Prefatory berasal dari Prae-fatio (Latin) yang berarti “berbicara terlebih dahulu, terburu-buru, nyerocos”. Itu juga yang pernah disampaikan Hegel, dalam Kata Pengantar Phenomenology of Mind, “Anda jangan terlalu serius menanggapi saya dalam kata pengantar ini. Karya filosofis saya yang sebenarnya adalah segala hal yang baru saja selesai saya tulis, yaitu Phenomenology of Mind.” Dalam pandangan Hegel, Kata Pengantar atau teks pengantar, diharuskan ada sejauh ia berkepentingan untuk “memperkenalkan”.

Dengan kata lain, pokok pemikiran dari sebuah karya terhampar di seluruh bagian buku, dan oleh karenanya Kata Pengantar tidak termasuk ke dalam bagian dari substansi keseluruhan karya. Dalam konteks inilah dapat disimpulkan bahwa Heidegger dan Mistik Keseharian, misal, bukanlah pemikiran Heidegger itu sendiri, melainkan pemikiran Heidegger menurut F. Budi Hardiman.

baca juga: Ketika Sapiens Tak Lagi Relevan

Yang mesti dicatat: setiap teks yang diposisikan sebagai Pengantar tak mungkin dituliskan tanpa pemahaman memadai mengenai substansi dari keseluruhan struktur bangunan karya. Di sinilah penjelasan Hegel mengenai Kata Pengantar menjadi teramat berarti; bahwa signifikansi sebuah Kata Pengantar terletak pada sifat “generalitas abstrak”-nya. Di satu pihak, Kata Pengantar itu pelengkap teks. Di lain pihak, kehadirannya sudah selalu mengandaikan fungsinya sebagai “pemersatu” untuk setiap kemungkinan keterceceran pemahaman (pembaca). Ia berkekurangan akibat sifat abstraknya yang meringkus detail ke dalam generalitas.

Pengandaian Hegel sesungguhnya hendak memerikan makna dari Kata Pengantar. Bahwa Kata Pengantar merupakan sesuatu yang penting sekaligus tidak penting dari teks pusat. Persoalannya, mengandaikan Kata Pengantar bukan merupakan bagian dari karya berarti setuju bahwa struktrur teks punya hierarki sehingga Kata Pengantar menjadi tak penting lagi untuk dibaca. Namun, jika kita berasumsi bahwa Kata Pengantar harus diperlakukan sebagai acuan dalam setiap aktivitas pembacaan, itu pun jelas keliru. Sebab, di dalam Kata Pengantar ada sesuatu yang tetap tak terjelaskan, yang hanya terdapat pada isi keseluruhan karya atau teks pusat.

Penjelasan Hegel soal Kata Pengantar, dalam pandangan saya, telah memberikan arti lain untuk setiap modus pembacaan terhadap suatu karya (dalam hal ini karya-karya seperti yang dituliskan F. Budi Hardiman, termasuk dialog-dialog imajiner saya dengannya). Bahwa ketika membaca idealnya kita mampu meletakkan bacaan kita terhampar, tidak berjenjang – melintang, bukan tegak lurus. Dengan demikian, setiap buku atau karya yang kita baca sebelumnya dapat menjadi dasar refleksi ketika dihadapkan dengan bacaan yang sama sekali baru.

baca juga: Pesantren Tak Melayani Cebong dan Kampret

Ketidakmengertian saya dengan teks-teks F. Budi Hardiman di awal petualangan saya, lewat dialog-dialog (juga debat) yang meski hanya berlangsung di dalam imajinasi saya, telah menempa daya tahan saya dalam membaca dan berpetualang di rimba pengetahuan yang memang acap membuat ciut nyali dan tak ada habis-habisnya.

Tentu saja tak sunyi-sepi sangat.

Kepada Fransisco Budi Hardiman, seorang teman yang dengannya saya telah menuntut tanya dan berbagi risau, saya ucapkan, terimakasih. Terimakasih telah mendorong saya membaca lebih dalam, mencari lebih jauh, menjumpai segala entah – tentang filsafat dan hal-hal tak selesai lainnya.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: