Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pesantren: Keaksaraan dan Indonesia

Oleh: Bandung Mawardi         Diposkan: 24 Oct 2018 Dibaca: 640 kali


Mr. Assaat meresmikan Masjid Syuhada di Jogjakarta (1952), simbol mengenangkan sejarah Indonesia. Nama syuhada berarti pahlawan. Niat mendirikan masjid dibarengi jelmaan memori simbolik bagi para pahlawan. Mereka itu para santri, pahlawan berlatar religiositas Islam untuk menggerakkan gagasan Indonesia. Nurcholis Madjid (1988) mengartikan itu intimitas gerakan agama dan politik santri berdalih pembentukan dan pemuliaan Indonesia. Kematian mereka demi semaian gagasan dan imajinasi Indonesia meski mereka rata-rata tak menguasai aksara Latin. Apakah relasi pesantren, aksara Latin, dan nasionalisme?

Jejak-jejak sejarah mesti ditelusuri pelan-pelan, menengok catatan-catatan berserakan, dan menata ulang dalam mozaik tafsiran. Lakon sejarah Indonesia selama abad XIX dan permulaan abad XX dipengaruhi geliat pesantren. Institusi pendidikan Islam itu bertebaran di Jawa dan Sumatra, menebarkan ide-ide tentang misi agama, agenda transformasi sosial-kultural, dan edukasi di kalangan boemipoetra. Sartono Kartodirdjo (1977) menilai pesantren adalah pusat mobilisasi resistansi atas kolonialisme sepanjang abad XIX. Peran kiai dan santri identik sebagai pelaku-pelaku berlumur ide dan darah demi afirmasi iman menggerakkan semaian imajinasi bangsa.

Pandangan sejarah mengartikan signifikansi pesantren mengonstruksi Indonesia. Resistansi atas kolonialisme dilambari gairah belajar agama dan ilmu memakai kitab-kitab beraksara Arab. Kitab-kitab itu sumber ilmu, rujukan mengolah iman, dan suluh mengimajinasikan bangsa. Kita jadi ingat peran dan ketokohan Syaikh Nawawi Al-Bantani, ulama ensiklopedis, penggerak dakwah dan nasionalisme di Hindia Belanda abad XIX. Penulisan pelbagai kitab beraksara Arab memicu sebaran ilmu ke pelbagai pesantren di Nusantara dan negeri-negeri di Timur Tengah. Ia pun gampang dicurigai oleh penguasa kolonial. Snouck Hurgronje malah mendapati misi dari pemerintah kolonial agar mengawasi pengaruh politik dari agenda dakwah Syaikh Nawawi Al-Bantani (1814-1897). Abad XIX menjadi abad sensitif berdalih racikan Islam sebagai agama dan paham politik. Pemerintah kolonial cemas dan gerah.

baca juga: Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Kebermaknaan kiai dan santri mengaji kitab-kitab beraksara Arab mungkin agak terabaikan dalam sejarah semaian nasionalisme di Indonesia. Kita mendapati pandangan Ben Anderson tentang pembentukan (bangsa) Indonesia awal abad XX turut ditentukan sebaran media cetak (buku, koran, majalah, brosur). Deskripsi historis itu cenderung mengarah ke literasi menggunakan aksara Latin. Penggunaan aksara Jawa dan Arab agak terpinggirkan oleh arus latinisiasi secara material (huruf) dan nalar-imajinasi. Dominasi semaian nasionalisme kemungkinan identik dengan kosmologi aksara Latin jika kita meneropong awal abad XX adalah abad “kemadjoean” di Hindia Belanda. Abad bergeliat melalui organisasi, sekolah, kaum elite terpelajar, dan media massa cetak.

Sorotan itu agak mengalpakan peran kiai dan santri dalam kosmologi aksara Arab mengejawantahkan proyek (bangsa) Indonesia. Pemerintah kolonial memang represif atas garis politik pesantren selaku institusi pendidikan boemipoetra. Sengketa politik muncul dalam menentukan sistem pendidikan, subsidi, penggunaan aksara (Latin atau Arab), dan sulut gagasan nasionalisme. Pesantren pun dalam pengucilan. Politik kolonial itu dilema, memberikan girang atas selebrasi politik dan agama di pesantren tapi mengontrol-menertibkan dalam nalar diskriminatif.

Abad XIX dan XX menandai ambisi kolonial membentuk sekolah-sekolah modern “menandingi” pesantren dan jenis-jenis institusi pendidikan tradisional. Latinisasi melanda Hindia Belanda dan nalar-imajinasi Barat memasuki ruang-ruang hidup kaum pribumi. Kondisi ini tidak merampungi misi pesantren. Gairah dakwah dan pamrih politik (kebangsaan) jutru membesar di pesantren sebagai konsekuensi politik kolonial dan rengkuhan iman dalam hurf-huruf Arab. Ilustrasi impresif adalah ekspresi iman dan politik masyarakat Aceh saat melawan kolonial: “Mereka yang menulis dalam huruf Latin akan dipotong tangannya pada hari akhirat” (Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, 1987). Persoalan huruf atau aksara menjadi pusat konfrontasi politik.

baca juga: Historiografi Musik dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

Modernitas bergerak tergesa di Hindia Belanda. Model pendidikan pesantren tradisional mesti melaju dalam godaan-godaan kalangan boemipoetra masuk ke sekolah-sekolah modern, hidup dalam buaian aksara Latin, dan mendandani diri dalam aksesoris pembaratan. Gairah (nasionalisme) Indonesia memang disemaikan bersama dalam jalan tradisional dan kemodernan. Peran santri masih besar dan pesantren tetap basis untuk resistansi atas kolonialisme. Deliar Noer (1980) justru memunculkan konklusi: nasionalisme Indonesia bermula dari nasionalisme Islam. Abad XIX dan XX menjadikan kolonial Belanda membuat pandangan politis bahwa Islam identik dengan kebangsaan.

Embusan nasionalisme dari pesantren, ruang pendidikan agama dan ilmu memakai aksara Arab, perlahan “disaingi” oleh geliat kaum elite terpelajar. Mereka mengartikulasikan nasionalisme dalam aksara Latin, organisasi modern, dan adonan ideologi-ideologi modern. Dominasi latinisasi tampak “mengalahkan” embusan nasionalisme melalui aksara Arab dan aksara-aksara etnik di Nusantara. Pesantren bertumbuh tapi rentan dengan usul-usul pembaruan dalam sistem, aksara, dan misi. Pembaruan pun berlangsung di Pesantren Tebu Ireng (Jombang) pada masa 1920-an dengan memasukkan mata pelajaran umum: berhitung, ilmu bumi, bahasa Melayu, dan bahasa Belanda. Pemodernan dilangsungkan tapi relasi agama dan paham kebangsaan tak luntur.

Fragmen-fragmen sejarah memberi ingatan tentang makna pesantren dalam keaksaraan dan arus nasionalisme. Afirmasi iman dan gerakan melawan kolonial mengundang refleksi kebermaknaan pesantren, latinisasi, dan nasionalisme. Sejarah nasionalisme Indonesia adalah sengketa aksara. Tema itu mungkin (hampir) hilang dari selebrasi nasionalisme abad XXI, terpinggirkan akibat kealpaan membaca peran pesantren dan politik (pendidikan) Islam dalam selebrasi (kebangsaan) Indonesia. Kita sering memiskinkan sejarah dan makna nasionalisme tapi genit dalam memunculkan sensasi-sensasi nasionalisme berpamrih modal dan kekuasaan. Begitu.

 

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: