Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pesantren Tak Melayani Cebong dan Kampret

Oleh: Safar Banggai         Diposkan: 20 Dec 2018 Dibaca: 1994 kali


Pesantren itu sarang calon cendekiawan atau calon teroris; calon ustaz pemarah atau pemurah. Semestinya, dari pesantren lahirlah ide-ide segar tentang Islam. Bukan terlibat pada pergulatan cebong dan kampret.

Pertarungan ide—seperti dilakukan Ahmad Wahib, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, dan cendekiawan (muda) lain yang hidup pada Orde Baru—nyaris kita tak temukan di era ini. Semua melempem, semua menunduk. Di awal 2000-an, Ulil Abshar Abdala sempat membuat geger wacana Islam (di) Indonesia. Sayangnya, selesai di situ saja.

Pesantren muncul sebelum Indonesia merdeka. Lembaga serupa pesantren sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu-Budha. Hanya saja Islam yang melanjutkan dan diubah dengan nuansa keislaman. Keunikan Islam terletak di situ, bisa masuk dan mengakulturasi. Persilangan budaya asal dengan gagasan keislaman masuk tanpa tumpang tindih, tanpa ada yang tersisih.

baca juga: Ketika Sapiens Tak Lagi Relevan

Narasi dari pengikut “Islam Kanan” mencoba membersihkan atau memurnikan Islam dari akar budaya Indonesia atau budaya setempat. Konon, ajaran Islam sekarang sudah jauh dari semangat Nabi Muhammad; keislaman sekarang harus kembali ke ajaran asal yang dibawa oleh Sang Nabi. Ini keliru. Sebab, banyak pertanyaan lahir bila pemikiran itu disemat pada umat Islam di Indonesia. Salah satunya, ajaran mana saja yang murni? Bukankah ajaran Islam yang kita terima sekarang adalah hasil dari penafsiran sahabat nabi, ulama, dan seterusnya. Tawaran dari “Islam Kiri” atau “Islam Progresif” mesti diterapkan pada pemeluk Islam (di) Indonesia: bukan merespons ini bidah atau tidak. Tetapi, melakukan tindakan nyata menghadapi kesewenang-wenangan penguasa dan korporasi.

Bila kita lihat perampasan hak tanah di beberapa daerah, para cendekiawan dan ulama tak hadir mengadvokasi atau menjadi benteng untuk rakyat. Malahan, mereka membantu melegitimasi penguasa dan korporasi untuk berbuat apa saja atas tanah rakyat. Apakah itu terjadi karena pendidikan kontemporer di Indonesia? Pendidikan modern di Indonesia berhutang kepada pendidikan ala pesantren. Banyak tokoh bangsa Indonesia memiliki latar pendidikan pesantren, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur).

Menurut Nurcholish Madjid, “Dari segi historis pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous)”. Glosari dalam buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton mengartikan pesantren adalah sekolah Islam yang menyediakan asrama dengan tekanan khusus pada pendidikan Islam. Hingga saat ini, kebanyakan pesantren terletak di pedesaan dan hanya berurusan dengan pelaksanaan pendidikan Islam tradisional. Kurikulum pesantren dewasa ini kebanyakan merupakan perpaduan antara pokok-pokok studi sekular dan juga yang berbahasa Arab/bersifat agama. Pelajaran juga diberikan dengan cara yang tak banyak berbeda dengan yang terjadi di sekolah-sekolah konvensional sekular.

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Saya cek arti pesantren di Kamus Besar Bahasa Indonesia mutakhir memiliki arti yang terlalu sederhana dibandingkan glosari dalam Biografi Gus Dur. Yaitu, asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Semoga lema “mengaji” diartikan sebagai membaca buku-buku atau belajar di luar membaca alquran.

Pesantren adalah tempat belajar ilmu agama dan sekular. Lalu, apa bedanya pesantren dan boarding school?

Pesantren kerap identik dengan pendidikan Islam tradisional sehingga pesantren hanya milik kelompok tertentu, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Dan, Muhammadiyah yang mendaku sebagai organisasi Islam modern membuat lembaga pendidikan Islam—serupa pesantren—tak berani atau sungkan menyebut lembaga pendidikan tersebut sebagai pesantren, namun Boarding School.

baca juga: Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Banyak kisah yang Ahmad Khadafi hamparkan dalam bukunya. Yang bikin teriris—setidaknya menurut saya—perihal pengampunan dosa. Khadafi membagi kisah itu menjadi tiga bagian: “Kembali ke Fitri dan Adakah Dosa yang Tak Terampuni”.

Tokoh utama adalah si “pria”. Ia risau pada malam terakhir Ramadan. Apakah dosanya akan diampuni olehTuhan atau tidak? Sebab, ia merasa dosa-dosanya begitu besar. Kita tahu bahwa pengampunan Allah sangat besar kepada hamba-Nya. Coba kita lihat Q.S. An-Nisa: 110: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Namun, si pria tak mempan dengan ayat-ayat seperti itu. Ia masih saja gamang. Ia terus bertanya kepada ustaz dan kiai. Ia bertanya, “Apa benar Tuhan akan mengampuni segala dosa hamba-Nya yang bertobat?” Gus Amar menjawab: “Lha, iya, memang benar. Selagi napas dan kesadaran masih ada, jika seseorang bertobat, insyaallah, akan diampuni.”

baca juga: Pembaratan dan Suara Lain dari Amazon

Apa dosa-dosa yang si pria lakukan? Pertama, ia nikahi anak dari seorang yang menghutang banyak kepadanya. Hutang itu lunas apabila anak dari pemiliki hutang diserahkan kepada si pria. Kedua, mabuk-mabukan. Ketiga, main judi. Keempat, saling bertengkar dan memukul istrinya. Kelima, ia memerkosa anaknya sendiri. Keenam, ia menghamili anaknya sendiri. Ketujuh, istri dan anaknya gantung diri. Kedelapan, memerkosa mayat anaknya. Dengan deretan dosa yang dilakukan si pria, apakah Tuhan mengampuninya? Khadafi mengisahkan dengan sederhana. Kisah tersebut mengandung pesan moral untuk kita.

Sandal jepit menjadi ilustrusi tunggal pada sampul buku ini. Mungkin karena dunia pesantren identik dengan sandal jepit. Sandal jepit adalah simbol kesederhanaan. Atau, mungkin karena satu kisah tentang sandal jepit: “Kiai As’ad Situbondo dan Para Preman Penjaga Sandal”. Kisah ini ditempatkan di urutan pertama di halaman pertama.

Alkisah, masjid pesantren kerap kehilangan sandal tiap salat Jumat. Para jemaah (santri dan warga) merasa bahwa yang mencuri sandal-sandal itu adalah kepala preman kampung. Kiai As’ad Syamsul Arifin—pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo—mendatangi dedengkot preman tersebut.

baca juga: Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

“Sandal jemaah di masjid ini sering hilang kalau salat Jumat. Saya bisa minta tolong untuk mengamankannya?” pinta Kiai As’ad kepada sang dedengkot preman.

“Gampang itu, Kiai. Paling yang curi, ya, masih anak buah saya. Biar saya yang jaga,” tanggap si preman. Salat jumat selanjutnya, kepala premanlah yang jaga, berlangsung cukup lama. Pada akhirnya, sandal di masjid tersebut tak ada lagi yang hilang.

Namun, pada momen tertentu si kepala preman merasa bosan menjaga sandal dan malu bahwa ia seorang kepala preman ditakuti di kawasan itu, kok, menjadi penjaga sandal jemaah masjid. Ia pengin sandalnya juga dijaga seperti ia menjaga sandal para jemaah. Akhirnya, ia meminta kepada anak buahnya untuk menggantikan posisinya. Ia salat jumat dan rutin melakukannya. Anak buahnya pun merasa bosan dan ingin seperti kepala preman: dijaga sandalnya saat salat Jumat.

baca juga: Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Metode dakwah yang dilakukan oleh Kiai As’ad sangat manjur. Ia tidak menggurui dengan mengeluarkan ayat-ayat Tuhan dan sabda-sabda Nabi agar para preman menjalankan perintah Allah. Tetapi, ia meminta menjaga sandal karena aduan para jemaah. Dan, akhirnya sandal-sandal tidak ada lagi yang hilang dan para preman istiqamah melakukan salat Jumat.

Ada empat puluh dua kisah yang ada di daftar isi. Banyak kisah kiai hadir. Ada Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Wahab, Kiai Bisri, Kiai Umar Solo, Kiai Ma’ruf, dan tak lupa ada kisah Gus Dur.

Kisah Gus Dur saat kuliah di Kairo. Kadafi memberi judul “19 Ekor Anjing Peliharaan Gus Dur” pada halaman 23. Saya tak menceritakan ulang kisah itu. Sebab, ada makna yang tersirat tak mampu saya ceritakan di sini. Tiap pembaca punya kadar pengetahuan masing-masing menangkap apa yang ia baca.

baca juga: Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Saya malahan tertarik dengan testimoni Gus Dur terhadap buku Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan karya Zuhairi Misrawi. Apa kata Gus Dur? Ini: “Saya banyak menyimpan kenangan pada masa saya tinggal di Mesir, saat belajar di al-Azhar. Masa-masa itu adalah saat yang paling penting dalam hidup saya, sebab saat itu merupakan pembentukan kepribadian. Saya lahir tahun 1940 dan saat di Mesir itu saya in the prime of life”.

Saya kira testimoni tersebut adalah gelagat untuk tahu bagaimana kisah Gus Dur dan 19 ekor anjing peliharaannya.

Selama dua jam membaca Dari Bilik Pesantren emosi saya perpindah-pindah dari ceria (tertawa) dan sedih. Kisah-kisah sederhananya memiliki pesan yang tak sederhana. Sayang, buku ini hanya mengisahkan pesantren dan serpihan-serpihan lainnya, tak ada kisah tentang boarding school.

  •  

Judul: Dari Bilik Pesantren

Penulis: Ahmad Khadafi

Penerbit: EA Books

Tebal: xxviii + 254 halaman

  •  

Sumber tulisan:

  1. Alquran
  2. Greg Barton. 2002. Biografi Gus Dur. Bantul: LKiS.
  3. Nurcholish Madjid. 1997. Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.
  4. Zuhairi Misrawi. 2010. Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan. Jakarta: Kompas.
  •  


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: