Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Petualangan Don Quixote Petualangan Intelektual

“Halo, Jim!” sapa Huck sambil beranjak keluar dari semak-semak

Jim Terkejut dan menatap Huck dengan liar. Lalu ia jatuh berlutut, menyembah seraya berkata dengan lidah cedalnya.

“Jangan sakiti aku – jangan! Aku tidak pernah berbuat sesuatu jahat pada hantu. Aku selalu menyukai orang mati, dan melakukan segala yang bisa kulakukan untuk mereka. Pergilah, kembalilah ke sungai, di sanalah tempatmu, jangan berbuat sesuatu apapun pada si tua Jim, yang selalu menjadi temanmu.”

Huckleberry Finn tersenyum gembira. Rupanya Jim menyangka dirinya telah mati. Bagaimanapun ia sangat senang berjumpa dengan laki-laki negro itu.

Petualangan Huckleberry Finn adalah salah satu karya klasik Mark Twain yang bercerita tentang seorang anak gelandangan bernama Huckleberry Finn yang hidup sebatang kara. Huck, demikian ia dipanggil, berusaha membanu Jim, budak kulit hitam milik Nona Wilson, melarikan diri untuk mencari kebebasannya. Berdua dengan menggunakan rakit mereka mengarungi sungai Mississipi. Banyak orang beranggapan, bahwa persahabatan Huck dan Jim merupaka refleksi pandangan Twain terhadap masalah perbudakan di Amerika. Melalui kisa ini, Twain menyoroti kontradiksi yang terjadi antara kondisi sosial dengan moralitas dasar yang berlaku di masyarakat. Dan karena alasan itu pula maka beberapa orang beranggapan bahwa bukunya ini adalah novel terbaik yang pernah ditulis di Amerika.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : Windy A
Ketebalan : Juniriang Zendrato, dkk
Dimensi : 13x19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Narasi
Penulis: Mark Twain
Berat : 600 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by