Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Petunjuk Menikmati Hidup yang Lebih Bermakna Pigura Tanpa Penjara Esai-Esai Seni Rupa

Pias: Kumpulan Tulisan Seni dan Budaya

“Radikal itu menjual!” ungkap Aris Setyawan dalam Pias terhadap buku The Rebel Sell yang mengulas sisi lain produksi budaya tandingan yang katanya merupakan bentuk perlawanan terhadap kapitalisme. Ulasan Aris terhadap buku tersebut barangkali membuat kita mengernyitkan dahi, bahkan ada pula yang tersinggung. Akan tetapi, apa yang diungkapkan Aris memang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Itu hanya salah satu pernyataan kontroversial Aris dalam buku Pias. Bisa jadi, ada begitu banyak hal-hal nyeleneh lain yang diungkapkannya dalam buku ini.

“Kumpulan tulisan Aris di bukunya ini adalah testimoninya terhadap banyak hal yang dapat membuat yang lainnya juga berpikir ulang soal pentingnya tulisan remeh temeh pengalaman personal dan irisannya dengan musik dan budaya populer pada umumnya. __(Herry “Ucok” Sutresna. Homicide, Bars of Death)

“Aris, Potensial dan menjanjikan. Bisa jadi, kita tidak terlalu sepakat dengan pendapatnya. Namun, dari situ, kita bisa memulai perdebatan untuk mempertajam dan mencari jalan keluarnya jika diperlukan. Saya tidak akan heran jika pada masa depan, tulisannya, pertanyaannya, dan gugatannya terhadap suatu fenomena akan seliweran di media sosial maupun media cetak.” __(Cholil Mahmud. Gitaris/vokalis Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi)


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit
Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

ISBN : Lelaki Budiman
Ketebalan : xvii+323
Dimensi : 14x20 cm
Bahasa : Indonesia/SC/Book Paper
Stock: Out of Stock
Penerbit: Warning Books
Penulis: Aris Setyawan
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by