Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Potret Penerbitan Buku Baru (Bukan) Karya Jung sebagai Sebuah Tragedi

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 10 Apr 2020 Dibaca: 935 kali


HAL pertama yang penting diobrolkan dan dipahami tentang buku ini adalah bahwa buku ini bukan karya Jung. Pada kover buku dicantumkan judul Dreams and the Stages of Life: Mimpi dan Tahap-Tahap Kehidupan dan di pojok kanan bawah ditulis The Essential Jung. Tak ada nama pengarang sehingga sangat berpotensi membuat pembaca menarik kesimpulan pengarangnya adalah Jung. Potensi itu diperkuat pula oleh informasi di punggung buku berupa penyematan nama Carl Jung pada lokasi yang biasa ditempati nama penyusun. 

Tegasnya, buku ini terjemahan buku Anthony Stevens, nama yang bisa ditemukan di kover dua edisi naskah sumber buku ini, Jung: A Very Short Introduction (Oxford, 2001) dan Jung: A Brief Insight (Sterling, 2011). Entah pertimbangan apa yang digunakan oleh penerbit terjemahan ini dengan tidak mencantumkan nama Anthony Stevens di kover buku, namanya hanya dicantumkan di bagian kolofon buku. 

Buku ini adalah buku pengantar untuk memahami pemikiran Jung. Maka dari itu, pembagian bab di dalamnya juga mengikuti pola sebuah buku pengantar: satu bab biografi ringkas, lalu enam bab selanjutnya masing-masing membahas pemikiran dia secara tematik, bab kedelapan rangkuman, lalu diberi satu bab tambahan di akhir yang mendaftar bacaan lanjutan. Pola penyusunan buku ini bisa dikatakan senada buku karangan Calvin Hall berjudul A Primer of Jungian Psychology (terbit tahun 1973, sudah diterjemahkan oleh Cep Subhan KM dan diterbitkan oleh Basabasi tahun 2018 dengan judul Psikologi Jung: Sebuah Bacaan Awal). 

baca juga: Subaltern dan Pesan Si Pembakar Jerami

Sedikit aneh bahwa kolofon buku terjemahan ini mencantumkan angka 2017 sebagai tahun penerbitan naskah sumber (Jung: A Very Short Introduction) karena sejauh penelusuran penulis maka edisi Inggris buku ini pertama diterbitkan tahun 1994 oleh penerbit Oxford sebagai bagian dari seri past masters, lalu diterbitkan kembali tahun 2001 oleh penerbit yang sama sebagai bagian dari seri very short introduction, seri buku saku berkover luks dengan gambar kover khas sapuan warna beragam corak. 

Tahun 2011, edisi Inggris buku ini diterbitkan ulang oleh penerbit Sterling sebagai bagian dari seri brief insight, seri buku-buku pengantar yang dicetak hardback luks dengan kertas konten tebal dan dilengkapi ilustrasi-ilustrasi berwarna. Tak ada perbedaan konten teks edisi ini dengan edisi Oxford, perbedaannya ada pada konten ilustrasi. Edisi Oxford memuat 16 ilustrasi hitam putih sementara edisi Sterling memuat 46 ilustrasi yang sebagian besar berwarna. Keterangan ilustrasi edisi Sterling juga jauh lebih panjang. 

Dari penelusuran di internet, penulis tak menemukan edisi Oxford tahun 2017. Meskipun demikian, penulis yakin bahwa edisi terjemahan ini menggunakan sumber edisi Oxford 2001 dan bukan dari edisi Sterling 2011 ataupun edisi Oxford 2017, kalaupun memang ada, karena edisi terjemahan ini memuat semua ilustrasi hitam putih edisi Oxford, meski hal itu dilakukan dengan tanpa menyertakan daftar ilustrasi berikut hak ciptanya yang dalam edisi Oxford 2001 dicantumkan setelah daftar isi. Selain itu, fakta bahwa The Red Book tidak tercantum dalam bagian “Bacaan Lebih Lanjut” membuktikan bahwa naskah sumber tidak mungkin diterbitkan tahun 2009 ke atas karena The Red Book adalah salah satu buku wajib Jungian yang baru dirilis untuk umum pada tahun 2009. Kalau misal ada edisi Oxford 2017 maka buku ini pasti ditambahkan ke bagian Bacaan Lebih Lanjut.  

baca juga: Jejaring Sejarah Meruwet

Pada bagian “Kata Pengantar” (hal. x) buku ini tercantum “…tugas tersebut dapat dibuat sedikit lebih mudah oleh sebuah pengantar singkat sejenis buku kecil ini”. Edisi terjemahan ini dicetak ukuran 13 x 20 dengan ketebalan x + 302 hal, wujud yang sama sekali tak sesuai dengan bayangan kita tentang sebuah buku kecil. Bandingkan edisi Inggris yang memang merupakan edisi small book: edisi Oxford 2001, 11 x 17,5 cm, 192 hal.; edisi Sterling, 13 x 18 cm, x + 214 hal. Perbedaan ini tak bisa dikambinghitamkan pada membengkaknya jumlah kata dalam terjemahan Indonesia karena tata letak serta ukuran dan jenis huruf edisi terjemahan ini pun sebenarnya memungkinkannya menjadi “buku kecil” sungguhan.   

Kini mari beranjak ke masalah lain: tajuk The Essential Jung pada kover buku terjemahan. Dalam tradisi buku berbahasa Inggris biasanya tajuk itu dicantumkan di kover buku yang berisi pemikiran orang yang bersangkutan. Sebagai contoh The Essentials of Psycho-analysis (2005) terbitan Vintage berisi seleksi tulisan-tulisan Freud tematik dan nama Freud dicantumkan di kover depan. Contoh yang lebih dekat: The Essential Jung (1983) terbitan Princeton University Press berisi seleksi tulisan-tulisan Jung yang disusun tematik; pada kover depan buku ini dicantumkan keterangan bahwa konten buku ini dikurasi dan diberi pengantar oleh Anthony Storr. 

Pencantuman nama penyusun di kover sebuah buku bukan hal sepele. Sebagaimana pencantuman naskah sumber dengan sejujur-jujurnya, hal tersebut secara teknis berkaitan dengan aspek filologi naskah. Secara praktis orang sangat mungkin salah mengira buku ini sebagai “karya Jung”, frasa yang jelas sangat berbeda dengan “karya tentang Jung”. Penerbit idealnya mencegah kemungkinan salah kira ini kecuali kalau memang hal itu yang diincar, misalnya karena pertimbangan buku terjemahan “karya Jung” akan lebih laku daripada “karya tentang Jung”. 

baca juga: Hawa, Feminitas, dan Masa Depan

Kasus keteledoran filologis buku Dreams and the Stages of Life: Mimpi dan Tahap-Tahap Kehidupan ini memang bukan satu-satunya dalam ranah buku terjemahan. Contoh lain yang agak dekat misalnya terjemahan karya Sigmund Freud The Interpretation of Dreams (Immortal, 2020) yang mencantumkan informasi bahwa naskah sumbernya adalah edisi Inggris terbitan Vintage Books 1911. Informasi yang tampak normal itu menjadi menggelikan saat kita tahu bahwa edisi bahasa Inggris The Interpretation of Dreams baru diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1913 dan Vintage Books baru didirikan oleh Alfred A. Knopf pada tahun 1954.

Sebagai sebuah pengantar untuk memahami Jung, Dreams and the Stages of Life: Mimpi dan Tahap-Tahap Kehidupan adalah buku bagus, sama bagusnya dengan buku Calvin Hall. Anthony Stevens adalah seorang Jungian dan beruntungnya dia Jungian yang sadar bahwa praktik psikologi analitis bukanlah praktik analisis klien berdasarkan prosedur tekstual saklek, melainkan berdasarkan spirit prosedurnya yang disesuaikan oleh analis dengan karakteristik klien. Sebagaimana dikatakan dengan nada bergurau oleh Jung (hal. 291): “Terima kasih, ya Tuhan, sebab aku adalah Jung dan bukan seorang Jungian.”

Jung menolak adanya rumus universal yang bisa diterapkan untuk analisis seluruh klien dan dari situlah kemudian lahir konsep dia tentang individuasi diri (hal. 144-150). Dari situ lahir juga salah satu konsepnya yang paling terkenal berupa delapan tipe psikologis manusia (hal. 160-174). Kelak berdasarkan kategori ciptaan Jung ini Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers melakukan perluasan menjadi enam belas tipe dan dikenal sebagai MBTI (Myers-Briggs Type Indicator).  

baca juga: Rosa Luxemburg, Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi    

Begitulah, buku ini memang pengantar yang bagus dan juga diterjemahkan dengan bagus. Penerjemah misalnya menerjemahkan currency (hal. 89) sebagai prevalensi, pilihan istilah yang bagus dan juga sudah masuk KBBI meski mungkin belum dikenal luas; sebuah pilihan bagus karena memang tak mudah mencari padanan-satu-kata untuk istilah yang biasa dideskripsikan secara naratif dalam kamus Inggris-Indonesia itu. 

Dalam buku ini, penerjemahan istilah-istilah Psikologi Analitis juga tampak pas, misalnya unconscious diterjemahkan sebagai ketidaksadaran, istilah yang secara filosofis lebih tepat dibandingkan istilah yang lebih biasa digunakan kebanyakan penerjemah buku Psikoanalisis dan Psikologi Analitis: alam bawah sadar. Istilah alam bawah sadar ini mengingatkan pada alam gaib dan selama ini lebih digemari mungkin karena didorong kegemaran taksadar kita terhadap hal-hal mistis.  

Kita mesti sadar memang bahwa selalu ada kekurangan dalam setiap terjemahan, tetapi dalam kasus buku ini kekurangan itu tidak fatal dan bisa dihindari andai penyuntingan terjemahannya dilakukan lebih teliti. Masih kita temukan misalnya Zofingia Society diterjemahkan Masyarakat Zofingia (hal. 20) sementara lebih tepatnya Himpunan atau Komunitas Zofingia. Pada keterangan diagram skema model psike yang disodorkan Jung (hal. 84) tertulis K = Kompleks, sementara pada bagan tak ditemukan huruf K yang dimaksud karena luput belum diterjemahkan dan masih dicantumkan sebagai C (yakni Complex). 

baca juga: Kemiskinan, Identitas dan Senjata

Contoh lain, dalam pembahasan tentang cara fungsi pikiran menghadapi data yang rumit, common denominator masih diterjemahkan sebagai penyebut yang sama (hal. 174). Meskipun benar bahwa salah satu makna dari denominator adalah penyebut tetapi itu biasanya dalam konteks matematika, kata itu bisa juga dimaknai ciri atau standar, dua makna yang lebih tepat jika mempertimbangkan konteks pembahasan di halaman tersebut. 

Kalimat di halaman penutup buku ini yang berbunyi ia akan menjadi sebuah mesin yang tak masuk akal semata dan keberadaan Manusia tiada guna (hal. 290) luput menerjemahkan nomina yang disifati adjektiva tiada guna. Kalimat aslinya berbunyi: it would be a mere senseless machine and Man’s existence a useless freak. Kata freak bisa diterjemahkan sebagai keajaiban atau keanehan, tentu saja mengatakan keberadaan Manusia tiada guna itu berbeda dengan mengatakan keberadaan manusia akan menjadi sebuah keanehan tiada guna (struktur klausa itu menyiratkan kesejajaran dengan klausa sebelumnya sehingga bentuk sebenarnya adalah and Man’s existence [would be] a useless freak). 

Pada akhirnya, bagi penulis, terbitnya buku Dreams and the Stages of Life: Mimpi dan Tahap-Tahap Kehidupan ini analog dengan konsep drama tragis Aristotelian: bermula dengan sukacita dan berakhir dengan dukacita. Pemikiran Jung sangat layak disebarkan di Indonesia dan penerjemahan karyanya ataupun karya-karya tentangnya yang merupakan upaya awal mengarah ke situ layak pula diapresiasi setinggi dan seriang mungkin, apalagi ketika penerjemahannya dilakukan dengan apik. Namun, dalam euforia itu, melupakan Anthony Stevens dengan cara menghapus namanya dari kover terjemahan buku yang disusunnya ini terdengar sebagai harga yang tak sebanding dengan pencapaian apapun yang mungkin diraih. Dengan sebuah belasungkawa untuk Jungian kelahiran 1933 itulah maka tulisan singkat ini diakhiri. 

  •  

Judul: Dreams and the Stages of Life: Mimpi dan Tahap-Tahap Kehidupan

Penulis: Anthony Stevens

Penerbit: BACA, 2020

Tebal: x + 302 hal.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: