Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Pramoedya Ananta Toer: Melawan dan Menulis

Oleh: Safar Banggai         Diposkan: 05 Oct 2018 Dibaca: 1216 kali


Buku ini adalah indeks beberapa tokoh, tempat, pemikiran Pramoedya Ananta Toer dan perihal yang sempat bersinggungan dengannya. Dihimpun oleh adik Pram, Koesalah Soebagyo Toer.

Koesalah menghimpun dari pelbagai sumber. Sumber utamanya dari karya-karya Pram sendiri dan sumber dari penulis lain. Nama-nama tokoh, kosakata subteknis, dan kosakata teknis yang berkaitan dengan Pram dihimpun menjadi satu.

Mungkin kita tidak bisa bedakan arti Pramoedya Ananta Toer, Pramis, dan Pramisme. Pram mengartikan namanya sendiri adalah “... sampai sekarang pun aku masih tetap Pramoedya Ananta Toer yang dulu” (hlm. 232). Artinya, Pram adalah orang keras kepala yang tidak bisa berkompromi. Sekali melawan, tetap melawan. Sekali menulis, tetap menulis. Itulah prinsip yang Pram jadikan pedoman hingga ajal menjemput.

Lalu, apa arti Pramis? Menurut Muhidin M. Dahlan, "Pramis bukan menunjuk pada ‘para pengikut/pembaca’ Pram, sebab Pram sendiri anti terhadap pemujaan idola". ‘Pramis’ menunjuk pada sebangunan keyakinan Pram sendiri yang paling personal sebagai pengarang yang terus menampung kontradiksi tindakan individualisme dan gerak sosial dalam masyarakat” (hlm. 231).

Dan, Pramisme—yang tertulis di Suara Pembaruan, 1 Mei 2006—adalah “Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri. Tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial.”

Pram memang tidak ada habisnya dibahas, diulas, ditulis. Selalu ada celah dari kehidupannya untuk bahan kajian. Khususnya, kajian sastra. Karyanya banyak. Kutipan-kutipan “motivasi menulis” bejibun beredar di media sosial. Pernyataannya yang kerap dikutip oleh penulis belia adalah “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kutipan itu diulang-ulang sampai kuping saya ini muak. Sebab, mereka men-tasbih-kan pernyataan Pram, namun tidak eksekusi dalam tindakan. Nihil hasilnya. Penulis, tidak sekadar curhat di pagina berhalaman-halaman. Penulis punya emban “kalis” pada masyarakat. Setidaknya itu berlaku untuk Pram: “... penulis adalah intelektual yang turut mengemban aman politis untuk memperbaiki tatanan kehidupan masyarakatnya, sekaligus mencerdaskan bangsanya” (hlm. 221).

Pram seorang individu penyendiri, tak banyak mengindahkan kehidupan sosial, asosial, tidak bisa bergaul pada khalayak umum. Wajar bila Pram keras dengan kehidupan sendiri dan di sekitarnya. Penyendirinya bukan berarti ia tidak memedulikan masalah sosial dan bangsa. Bahkan, ia memikirkan ketidakadilan yang ia alami dan orang lain alami. Ia memikirkan negara yang dikuasai oleh penguasa otoriter sehingga ia melawan. Dengan cara ia sendiri yaitu menulis. Apa kata Pram perihal kerja keabadian itu? Menurutnya, “Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.”

baca juga: Sejarah Umat Manusia

Seorang pejuang sejati tidak sempat memikirkan keinginan atau nafsu pribadi, namun ia memikirkan dan bertindak untuk rakyat. Di Bintang Timur, 22 April 1960, Pram menulis untuk memperingati 90 tahun Lenin bahwa segala berasal dari rakyat maka segalanya harus kembali pada rakyat. Begitulah Pram mengartikan rakyat. Rakyat bukan boneka yang diperlakukan manasuka. Tetapi, rakyat adalah dasar perjuangan untuk melawan kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang.

Pram, bukan saja menulis yang ia jadikan gelanggang bertarung. Tetapi, organisasi pun ia masuki. Seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra adalah lembaga budayawan dan seniman yang bernaung di Partai Komunis Indonesia (PKI) yang didirikan oleh Iramani alias Njoto, D. N. Aidit, A. S. Dharta, M. S. Ashar pada 17 Agustus 1950 (hlm. 152).

Awal-awal Lekra berdiri, lembaga ini kuat tanpa tanding. Namun, tigabelas tahun kemudian Lekra tak sendiri. Pada 17 Agustus 1963 lahirlah Manifes Kebudayaan (Manikebu) hasil pertemuan 13 orang seniman dan cendekiawan di Jakarta, yaitu H. B. Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Sukito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, A. Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe Hok Djin alias Arief Budiman, D. S. Muljanto, Ras Siregar, Sjahwil, dan Djufri Tanissan.

Para pendukung Manikebu berseberang dengan politik Orde Lama. Tindakan melawan itu jelas dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka hadir dengan ideologi humanisme universal, melawan Lekra yang memiliki semboyan “Seni dan sastra revolusioner, yaitu realisme-sosialis yang mengabdi buruh, tani, dan prajurit”.

baca juga: Cerita Menolak Akhir

“Lekra bukan organisasi bandit,” begitu kata Pram.

Menurut A. Teeuw (1997) bahwa Pram menjadi penyumbang lidah ideologi kebudayaan itu (Lekra) antara lain lewat kegiatannya sebagai redaktur “Lentara” di lampiran kebudayaan harian Bintang Timur. Posisi Pram sungguh dilematis. Sebab, kadang, ia dinilai dengan argumen sastra sekaligus politik. Karena, menurut Muhidin M. Dahlan bahwa “... kedua-duanya melekat padat dalam diri Pram” (hlm. 230).

Kita tak bisa pungkiri bahwa karya Pram ada yang bagus, ada juga yang buruk. Ada kualitasnya menjulang ke langit, ada juga yang biasa-biasa saja. Dalam buku Ideologi Saya adalah Pramis: Sosok, Pikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer, Muhidin M. Dahlan—selaku penulis buku—memilih 9 buku terbaik Pram. Sebut saja: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Bukan Pasar Malam, Cerita dari Blora, Arus balik, Gadis Pantai, Sang Pemula, dan Perburuan. Terus, buku Pram apa yang (tidak) baik? Yah, itu tugas pembaca menilainya.

Sehebat apa pun penulis, pasti ia terpengaruh oleh karya orang lain atau sosok tertentu. Misalnya, Eka Kurniawan—saat menulis Cantik Itu Luka—terpengaruh dari karya Gabriel Garcia Marquez, One Hundred Years of Solitude.

Saya kira, Pram juga mengalami demikian. Seperti dalam buku ini, Koesalah menyebut beberapa tokoh yang memengaruhi pemikiran Pramoedya Ananta Toer: Chairil Anwar, I Njoman Pandji Tisna, John Steinbeck, Maxim Gorky, Multatuli, Soekarno, terakhir Tirto Adhi Soerjo.

Pram mengabadikan Tirto Adhi Soerjo lewat buku Sang Pemula dan Tetralogi Buru. Dan, insyaallah kita akan menyaksikan sosok Tirto (Minke) pada Iqbaal Ramadhan. Kita nantikan film itu. Film Bumi Manusia.

  •  

Penulis: Koesalah Soebagyo Toer

Penerbit: Warning Books dan Pataba Press

Tahun: Mei 2018

Tebal: v + 351 halaman

ISBN: 978-602-6197-52-8

  •  

Safar BanggaiPegiat Sarekat Peresensi Jogja dan Komunitas KUTUB

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: