Menunggumu di batas musim adakah percakapan berubah nostalgia.
Ranting kehidupan yang saban hadi kita rajut, runcing matanya menatap jidat bebatuan yang gigil.
Bulan meleleh, aura matamu mengendon letih perjaka.
Siapa mengetuk pintu semalam, mimpi berguguran ditinggalkan angin belantara.
Saya menyukai kesunyian dan kesendirian. Kedua suasana tersebut membuat saya bisa menikmati hidup lebih dalam dan tajam. Dalam kesunyian, saya melihat beribu kenyataan berkelindan seakan mengajak saya berialog secara intens. Kesunyian telah menyadarkan saya pada pentingnya bercengkrama dengan batu, angin, musim, garam, air, sungai, akar, senja, kertas, masjid, rumput, daun, akuariaum, belati, celurit, dan lainnya.
Berdialog dan bercengkrama dengan realitas itu membuka mata batin saya pada kenyataan-kenyataan baru. Yaitu kenyataan di mana benda-benda itu sesungguhnya aktif berbicara dan berkomunikasi dengan kita, manusia. Tentu, dengan bahasa dan kata-kata yang mungkin kita tidak pernah mengerti. Benda-benda itu, kadangkala, mengeluarkan suara perih dan pedih. Manakala kita memperlakukannya di luar nalar kemanusiaan kita. Dengarkan suara lapar pepohonan, ketika hujan tak turun. Dengarkan pula jeritan rumput yang diinjak seenaknya setiap saat, setiap waktu. Kesediaan berdialog dengan benda-benda sejatinya akan semakin memperkaya mata batin kita.
Judul Buku: Di Batas Sunyi
Penulis: Moh. Hamza Arsa
Penerbit: Bening Pustaka, 2017
ISBN: 9786026109620
Kategori: Kumpulan Puisi
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 13 x 19 cm | Soft Cover
Tebal: vii + 59 hlm l Bookpaper
Harga: 45.000