Alam kerap mengirim pertanda akan datangnya suatu kejadian besar. Malam itu, langit berubah serupa bejana air raksasa yang dibalikkan, hingga menumpahkan seluruh isinya. Ada yang mengenangnya sebagai malam tergulita yang pernah menyungkupi kampung. Hujan menggemuruh, angin menebar tempias, membuat orang lebih memilih merapatkan kemul sarung. Area istal senyap, deretan bendi membisu, kuda-kuda terangguk-angguk penuh kantuk ketika laki-laki itu mengendap berjingkat....
*
Bila kelindan duka dan pedih mendominasi 20 cerpen dalam buku ini, itu tidak saya niatkan sebagai cara menebar susah-hati ke Sidang Pembaca; tapi sebaliknya, saya malah ingin membagi sukacita, karena duka yang amat memedihkan dalam cerita-cerita ternyata tidak sampai menimpa kita. Seorang pengarang tua dalam cerpen “Perempuan yang Menemuinya di Dermaga” berkata, “Pembaca tidak suka sosok yang selalu bernasib baik dan hidup bahagia. Tokoh cerita yang hidupnya lurus seperti itu, sangat membosankan dalam cerita.”
Kisah-kisah duka memang sulit terlupakan. Begitu mengobsesi, sehingga cerita yang diniatkan sebagai kisah cinta yang manis pun ternyata berujung dengan nada pedih.
Judul Buku: Tanah Orang-Orang Hilang
Penulis : Pangerang P. Muda
Penyunting: Muhamad Aswar
Penerbit: Basa Basi, 2019
Kategori: Kumpulan Cerpen
Dimensi: 14x20 cm l Softcover
Tebal: 180 hlm l Bookpaper