Di tengah zaman yang serba-digital, serba-instan ini, sesungguhnya manusia sedang menghadapi sebuah paradoks. Hidup menjadi lebih gampang, tapi pada saat yang sama juga bertambah sulit. Kita dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan. Mudah mendapatkan informasi, mudah berkoneksi, dan mudah menemukan fasilitas untuk membuat hasrat hedonis, yang Sigmund Freud sebut sebagai "id", terpuaskan.
Namun demikian manusia juga menghadapi kesulitan untuk mendapatkan vitamin jiwa berupa kehangatan antar-manusia. Senyum dan keramahan tulus yang banyak diajarkan generasi boomers, kini dipertanyakan untuk apa, bahkan hanya dilakukan sebagai transaksi. Walhasil, terasinglah kita di tengah keramaian. Mudah sekali kita merasa kesepian. Tiba-tiba kita sudah jauh melangkah menjauhi diri dan menjadi asing dengan diri sendiri.
Dalam situasi demikian, buku Menulis Membaca Kehidupan mengajak kita untuk kembali ke diri sendiri. Menuliskan atau meletakkan pikiran dan perasaan kita pada selembar kertas adalah perilaku konkret untuk kembali ke diri sendiri; kembali menyapa dan ramah pada diri sendiri. Kita tidak lagi menjadi seorang diri—dewean, karena ada diri lain yang berhikmat sebagai teman untuk berefleksi, teman mengobrol dengan hangat, tanpa takut dinilai. Ungkapan tertulis tentang diri kepada diri ini juga bisa membuat self-awareness meningkat. Kita makin tahu situasi, makin paham di mana posisi kita berdiri.
Buku ini menjadi begitu relevan karena membantu menjawab isu kekinian. Isu kesehatan mental. Isu yang saat ini menjadi topik obrolan banyak kalangan, tua pun muda. Penulis membahas bagaimana deraan media sosial membuat kita menjadi pribadi yang setiap saat dipenuhi kecemasan. Ketakutan ketinggalan zaman, takut jadi kuno. Ketakutan dan kecemasan itu munculnya begitu saja, tanpa kita sadari. Di sinilah menuliskan perasaan dan pikiran menjadi piranti sederhana namun berguna karena kita bisa becermin kepada diri yang jujur. Hasilnya, kita pun dibantu untuk menemukan kebahagiaan yang autentik, bukan berlagak bahagia dengan tampil ceria namun pedih di lubuk hati.
Penulis: Kristin Samah
Penerbit: Gramedia, 2023
Kategori: Pengembangan Diri
ISBN: 9786020673820
SKU: BRD20224
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 13,5 x 20 cm l Softcover
Tebal: 144 hlm l Bookpaper
Harga: 117.000