Soe Hok Gie adalah salah satu arsitek gerakan mahasiswa pada 1966. Ia berada di barisan terdepan dalam aksi-aksi demonstrasi menentang Demokrasi Terpimpin dan menumbangkan Pemerintah Orde Lama yang menyimpang dari cita-cita Proklamasi. Ia juga mengritik keras pembantaian komunis dan korupsi oleh rezim Orde Baru.
Selain aksi demonstrasi, Gie aktif menyuarakan pendapatnya melalui tulisan. Artikel-artikelnya tersebar di berbagai media massa. Dalam rentang 1965-1969 ia menulis lebih dari seratus artikel.
Gaya tulisannya mampu menggetarkan nurani pembacanya yang berada di lingkaran kekuasaan maupun yang menjadi korban perubahan politik. Ia secara lugas menggugat penyimpangan kekuasaan Orde Lama dan Orde Baru. Ia juga menolak masuk dalam kotak-kotak kelompok kepentingan karena dasar dari semua tindakannya adalah kejujuran dan kebenaran. Baginya, politik adalah dunia yang kotor.
Keresahan Gie atas kondisi di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru membuatnya terkucil. Idealismenya tak sesuai kenyataan yang diharapkannya. Ia gelisah, merasa sendirian, dan frustrasi. Untuk menghilangkan keresahan itu, ia memilih pergi ke alam. Ia merasa alam lebih mencintai dirinya dan ia nyaman di hutan-hutan serta gunung-gunung.
Gie meninggal dunia dalam usia muda, sebelum usianya genap 27 tahun. Dalam sebuah pendakian ke Gunung Semeru pada Desember 1969, maut menjemputnya setelah ia menghirup gas beracun di Puncak Mahameru. Ia tewas bersama rekannya dari Mapala UI, Idhan Lubis.
ㅤㅤ
Penulis: Anom Whani Wicaksana
Penerbit: Octopus, 2024
Kategori: Tokoh
ISBN: 978-602-17685-7-0
SKU: BRD20656
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14 x 20 cm l Softcover
Tebal: xiv + 210 hlm l Bookpaper
Harga: 90.000