“Aku percaya semesta memiliki getah abadi yang saling menghubungkan kita dengan segala makhluk di jagat raya ini. Getah itu bening, terlalu bening hingga tak terlihat tapi bisa dirasakan. Seperti spasi yang bisa kautekan dan rasakan lewat sentuhan. Tercipta, tapi tak berwujud. Siapa bilang spasi itu menciptakan jarak? Ia ada sebagai getah bening penghubung kata agar kita bisa memaknai semesta.”
– Sigidad
***
Di balik cahya matahari yang memudar dan kerlip bintang yang menyulam senyum, Sigidad mengajak kita mengarungi gelap dan terang kehidupan manusia. Lewat puisi yang mendalam, setiap halaman berbicara tentang perlawanan tak tampak—baik itu dalam jerit ibu-ibu samin yang menginjakkan kaki di depan istana, nelayan yang berjuang demi hidup di tengah hempasan ombak ketidakadilan, maupun kisah cinta yang tertulis di sela-sela peristiwa kelam. Dengan lensa tajam yang menangkap sisi-sisi gelap dari politik, korupsi, dan kekuasaan, Sigidad menyingkap realitas tak terungkap tentang DOM, pengungsian, dan aktivis mahasiswa yang
mempertaruhkan segalanya demi hak asasi manusia. Namun, di balik semua derita itu, masih
ada benih-benih harapan yang tumbuh dalam kesunyian, bahkan di tengah tumpukan cerita yang tak pernah selesai. Menyelami tanah, manusia, dan cita-cita, setiap kata membawa kita pada refleksi hidup yang lebih luas, seperti dialog antara agama dan kemiskinan, antara kemajuan dan kerusakan. Sebuah perjalanan yang penuh dengan kontradiksi dan keajaiban, yang pada akhirnya,
mengingatkan kita bahwa cinta—mungkin—adalah ciptaan Tuhan yang paling adil, yang selalu hadir di tengah gelombang kehidupan yang penuh warna. Tidak hanya itu, tetapi juga bergulat dalam alam pikiran dan perasaan, ketika kebenaran dan kebohongan, perlawanan dan kepasrahan, selalu saling berdansa dalam harmoni yang kekal.
Penulis: Sigidad
Penerbit: Bulandu, 2025
Kategori: Fiksi – Puisi
ISBN: 978-623-10-7810-0
SKU: BRD23182
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 13 x 19 cm l Softcover
Tebal: 105 hlm | Bookpaper
Harga: 64.000