Ngatemin cuma ingin pulang ke Palungloro. Kembali ke desanya dan memeluk emaknya. Setahun telah dijalaninya di bui. ‘Cuti’ dari Lembaga Pemasyarakatan menjadi kesempatan Ngatemin membuktikan diri. Ngatemin bukan lagi Ngatemin yang dulu, otak komplotan pencurian gabah. Tidak disangka, Wiedha, Astrid, dan Sweta, juga sedang berlibur ke Palungloro. Wiedha-lah yang membongkar rencana pencurian gabah itu. Adakah dendam dan prasangka di antara keduanya?
Beberapa orang memang menantikan Ngatemin kembali. Namun, ada musuh tidak terlihat yang diam-diam menjebak Ngatemin dalam kejahatan sekali lagi. Saatnya berkenalan kembali dengan karya sastra semasa kecil dari penulis-penulis ternama Indonesia. Suasana klasik yang dipertahankan akan membawa kita kembali ke masa ketika karya ini sedang berjay
Prolog:
Setelah Astrid dan Bandit kami pilih sebagai buku pertama yang diterbitkan kembali dari sembilan buku di seri Astrid, rasanya tidak mudah memutuskan dua buku lagi untuk diterbitkan bersama dalam “Seri Klasik Semasa Kecil”. Buku Astrid dan Bandit bukan hanya terkenang dan populer karena menjadi yang pertama. Nuansa aksi yang melibatkan mafia internasional dan Interpol begitu menonjol dan heboh. Buku Astrid di Palungloro serta Astrid: Rumah Pohon bukan jenis cerita aksi yang badas seperti itu. Djokolelono sendiri mengakui paling “favorit bahasanya” untuk Astrid di Palungloro. Sedang buku Astrid: Rumah Pohon disebutnya dengan frasa “paling dramatis hatinya”.
Selling Point:
- Djokolelono sudah punya nama di dunia literasi.
- Seri Astrid sudah dikenal.
- Rangkaian dari Seri Klasik Semasa Kecil.
Penulis: Djokolelono
Penerbit: KPG, 2025
Kategori: Kids
ISBN: 9786231343918
SKU: BRD23813
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 13 x 19.5 cm l Hardcover
Tebal: 160 hlm | Bookpaper
Harga: 105.000