Dalam perdebatan antar bidang pengetahuan, Planck memberikan ketegasan sikap: menolak dikotomisasi antara fisika dan filsafat. Menurutnya, setiap filsafat yang mengklaim paling komprehensif sekalipun, tetap tidak bisa mengabaikan hukum-hukum alam, yang merupakan kajian utama fisika. Sebaliknya, fisika tidak pernah hidup dalam ruang hampa, melainkan selalu dipengaruhi oleh praduga filosofis, etika, hingga karakter pribadi sang ilmuwannya.
Menurut Planck, ilmu pengetahuan menjadi rantai yang berkelanjutan yang tak terputus, misalnya, dari fisika dan kimia, melalui biologi dan antropologi, hingga ilmu sosial. Inilah bagian penting dari Prinsip Totalitas: bahwa mempelajari suatu sistem atau objek penelitian dengan membagi-baginya hingga ke bagian terkecil kerap kali malah menghilangkan sifat-sifat penting yang muncul dari keseluruhan. Bahkan, bagi Planck, kejujuran, kebenaran, dan keadilan—yang merupakan landasan penting dalam etika—ternyata juga merupakan prinsip dasar yang menjamin kemajuan dan integritas ilmu pengetahuan, khususnya fisika.
Meski tidak terlalu tebal, buku karya Planck ini mengajak kita untuk kembali merenungkan bahwa ketidakpastian dari suatu teori bukan berarti akhir dari pengetahuan, dan bahwa di bidang ilmu yang diklaim paling objektif sekalipun, tetap ada sisi-sisi subjektifnya.
Penulis: Max Planck
Penerbit: IRCiSoD, 2025
Kategori: Filsafat
SKU: BRD24860
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14 x 20 cm l Softcover
Tebal: 128 hlm | Bookpaper
Harga: 60.000