Wittgenstein mengatakan bahwa filsafat bukanlah salah satu dari pengetahuan alam. Sebaliknya, filsafat adalah aktivitas penjernihan pikiran yang bertugas membuat pikiran—dan dengan itu, pernyataan ilmu pengetahuan—menjadi jernih dan berbatas tegas. Walhasil, tugas filsafat ialah membuat proposisi menjadi lebih jelas, bukan malah membuat proposisi-proposisi filosofis—ini yang sering keliru dalam tradisi lama. Sementara, logika, menurutnya, adalah kerangka pemikiran yang menentukan sesuatu dapat dipikirkan secara bermakna. Di luar batas logika, yang ada hanyalah omong kosong: dapat diucapkan, tetapi tidak dapat dipikirkan. Misalnya, kita bisa mengucapkan “lingkaran persegi”, tetapi tidak bisa memikirkannya.
Dengan landasan ini, Wittgenstein membangun tesis radikal: dunia adalah totalitas fakta, bukan kumpulan benda. Bahasa dan pikiran hanya bermakna sejauh mampu menggambarkan fakta-fakta tersebut secara logis. Adapun, proposisi bekerja sebagai gambar logis realitas, dan struktur internal bahasa harus kongruen dengan struktur dunia agar makna, kebenaran, dan kesalahan menjadi mungkin—tidak kabur.
Dari konsep-konsep ini, Wittgenstein berupaya menelanjangi kerancuan-kerancuan filsafat dan ilmu pengetahuan karena kegagalan mereka dalam memahami logika bahasa. Baginya, “Batas bahasaku adalah batas duniaku.”
Penulis: Ludwig Wittgenstein
Penerbit: IRCiSoD, 2026
Kategori: Filsafat
SKU: BRD24958
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14 x 20 cm l Softcover
Tebal: 196 hlm | Bookpaper
Harga: 80.000