Novel fiksi ini mengisahkan perlawanan warga Betawi di Kampung Mlinjo, Jakarta Selatan, saat proyek properti global mengancam menggusur tanah dan warisan budaya mereka.
Bonge, istrinya Patme, dan para warga tak melawan dengan kekerasan, tetapi dengan budaya—tanjidor, ondel-ondel, gambang kromong, nasi uduk, pohon mlinjo yang mengutuk, serta pohon jengkol yang menolak tumbang. Bagi mereka, tanah bukan hanya ruang t inggal, tetapi tempat jejak leluhur dan Doa dilantunkan.
Di sekitar mereka hadir tokoh-tokoh dengan latar belakang beragam: Sabran, pendekar penjaga kampung; Komar, saudara seperguruan di pihak korporasi; Udin Ngaco, seniman satir jalanan; Mune Gacor, mantan lady companion yang menyuarakan luka kolektif perempuan; Sapar, pengemudi buldoser yang terseret ke dalam tragedi spiritual; Andri dan Citra mewakili korporasi; Mme Ching, BB, dan Henry sebagai kekuatan kapitalis global.
Narasi mengalir liris sekaligus politis, memadukan realisme sosial John Steinbeck dan S.M. Ardan, nuansa magis Gabriel García Márquez, dan satir getir Firman Muntaco. Semangat deep ecology dari Arne Naess juga menyelimuti cerita—alam tampil bukan sekadar latar, melainkan tokoh, arwah dan jin turun tangan, pohon berbicara, burung membawa pesan, tanah menolak dan berteriak. Lebih dari sekadar cerita penggusuran, novel ini adalah seruan untuk merawat budaya Betawi—meski sebagian tanah telah hilang atas nama “pembangunan”, ingatan tetap hidup di antara yang tumbuh dan bertahan.
Penulis: Yan Lubis
Penerbit: Obor, 2026
Kategori: Novel Fiksi
ISBN: 9786238771509
SKU: BRD25188
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 14 x 20 cm l Sofcover
Tebal: 359 hlm | Bookpaper
Harga: 145.000