Pramoedya Ananta Toer : Pujangga Penuh Paradoks - Gramedia
Tahun 2025 menandai satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar yang hidup dan karyanya sarat paradoks. Jejaknya terekam kuat dalam arsip Harian Kompas, bermula dari penangkapannya pasca-Peristiwa 1965 hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya.
Di negerinya sendiri, Pramoedya mengalami pembuangan, pelarangan, dan pemusnahan karya. Namun di panggung dunia, ia justru diakui sebagai salah satu sastrawan terpenting abad ke-20.
Karya-karya Pram lahir dari keyakinan ideologis yang dipegang teguh hingga akhir hayat. Tulisan-tulisannya mengembuskan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan, menjadikannya suara yang tak pernah jinak di hadapan kekuasaan. Tak mengherankan jika sejumlah karya terpentingnya justru lahir dari balik jeruji dan pengasingan, termasuk Tetralogi Pulau Buru yang monumental dan sempat dianggap “berbahaya” di Tanah Airnya sendiri.
Di tengah kontroversi dan penyingkiran, karya-karya Pramoedya terbukti bertahan dan terus menggema, seiring dengan berbagai penghargaan sastra internasional yang ia terima dan memicu polemik panjang di Indonesia.
Pramoedya Ananta Toer: Pujangga Penuh Paradoks menghadirkan kembali penggalan perjalanan hidup dan pemikiran Pram melalui artikel-artikel Harian Kompas, merekam kisahnya sejak penangkapan, pembuangan di Pulau Buru, hingga kembalinya ia ke tengah masyarakat.
Sebuah potret utuh tentang sastrawan yang tak pernah berhenti melawan lewat kata-kata.
Penulis: Catatan Arsip Kompas
Penerbit: Buku Kompas, 2026
Kategori: Memoar
ISBN: 9786235236995
SKU: BRD25595
Bahasa: Indonesia
Dimensi: 15 x 23 cm l Softcover
Tebal: 256 hlm | Bookpaper
Harga: 144.000

