Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Produk Gagal Patriarki Itu Pelacur Buas

Oleh: Fitriana Hadi         Diposkan: 29 Jan 2019 Dibaca: 1177 kali


Baiq Nuril dipenjara; kasus Agni; jokes perkosa oleh Nurhadi-Aldo (Dildo); Ahok cari istri yang gantikan peran ibunya; artis FTV VA digerebek dan harus minta maaf. Patriarki memang benar-benar brengsek. Tentu saja sistem ini memang sudah brengsek dari sono-nya. Tetapi, saya kembali menyumpah-nyumpahi kebrengsekkannya kala membaca kisah Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol. Tidak ada yang lebih buruk daripada kolaborasi antara sistem penindasan tua ini dengan agama yang sama-sama tuanya.

Firdaus telah merasakan pengalaman-pengalaman ketertindasan yang paling buruk dari sistem ini. Eksploitasi kerja domestik, sunat klitoris, tiadanya akses pendidikan, pelecehan seksual oleh anggota keluarga, pemerkosaan, dan lainnya. Ia lari dari suaminya, Syekh Mahmoud yang tukang pukul dan bertemu Bayoumi, pria brengsek lain yang mengiming-iminginya pekerjaan, tetapi hanya menjadikan Firdaus budak seks. Begitu berhasil kabur dan bertemu Sharifa, Firdaus kemudian dijadikan pelacur tanpa pembagian hasil sama sekali. Perempuan yang menjerumuskan perempuan lain ke dalam kubangan penderitaan. Woman womini lupus.

Berbagai ketertindasan itu membuat hatinya lempang. Patriarki adalah monster licik bagi perempuan. Dan, hidup di negeri yang masih amat patriarkis, seperti dicetak sebuah mesin otomatis yang menghasilkan produk-produk budaya—dalam hal ini perempuan—yang patuh dan pasrah. Sementara, tetap akan ada produk yang berbeda dari standar dan harus "dibuang" untuk merasakan kekejaman penghancuran. Firdaus adalah contoh produk terakhir. Tetapi, alih-alih hancur, ia melawan segala narasi ketimpangan gender dengan memilih membebaskan tubuhnya

baca juga: Dildo: Kisah Daud Melawan Jalut

Melawan dengan Merangkul Stigma

Saya jadi ingat perdebatan soal kasus VA yang dibayar hingga 80 juta oleh kliennya. Banyak orang yang nyinyir dan berkata seorang istri bahkan tidak dibayar sebesar itu untuk “melayani” hasrat suaminya. Orang melupakan bahwa pernikahan bukanlah transaksi: ada yang membayar dan ada yang dibeli. Pernikahan—idealnya—mempertukarkan kasih sayang, tanggung jawab, rasa hormat, dan rasa aman. Dan, perasaan-perasaan itu datang tanpa paksaan atau bayaran.

Catat, itu idealnya. Tetapi, jika memang pernikahan membuat perempuan hanya harus melayani kebutuhan seks suaminya tanpa consent, tidak ada rasa aman, kasih sayang, dan hormat, maka pernikahan itu tidak ada bedanya dengan eksploitasi seksual. Malah bisa jadi lebih parah karena permasalahan yang lebih kompleks sebab melibatkan kekerasan, manipulasi, hingga tuntutan akan pengabdian menyeluruh oleh istri bagi suami.

Sayangnya, tipe pernikahan seperti itulah yang hadir di hidup Firdaus. Jika memang sistem yang menjadikan perempuan sebagai objek seks belaka telah terbangun sedemikian kuat, maka ia menjadi objek seks itu. Ia menggunakan penindasan itu sebagai caranya untuk melawan. Tetapi, dengan bayaran yang tinggi.

baca juga: Peristiwa-Peristiwa yang Perlu Diwartakan

Di negeri di mana hubungan seksual memiliki kekuasaan yang timpang, menjadi pelacur adalah sebuah perlawanan. Dari sana, Firdaus menghargai tubuh setinggi-tingginya. Ia tidak dimiliki oleh siapa pun selain dirinya sendiri. Tubuhnya tidaklah eksklusif “milik seseorang” sehingga bisa diperlakukan semena-mena oleh lelaki. Ia tidak terikat dengan kewajiban-kewajiban konstruktif sebagai perempuan. Ia menciptakan regulasi antara dirinya dan kliennya sendiri. Karenanya, menjadi pelacur berarti membebaskan dirinya dari sistem yang menindas itu.

“Lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak.” (hlm.133)

Bukan Hanya Tubuh yang Telanjang

(1) Paman Firdaus yang kuliah di Universitas El Ahzar meraba-raba paha Firdaus kecil yang dadanya bahkan belum tumbuh. (2) Syekh Mahmoud yang usianya lebih dari 60 tahun memperlakukan istrinya seperti sand sack pukul, pembantu, dan alat pemuas libido. (3) Bayoumi menggarap tubuh Firdaus dengan sangat liar pada satu waktu, lalu beberapa saat kemudian memaki-maki dan mengutuknya dengan membawa nama Tuhan. (4) Seorang Pangeran Arab memohon-mohon untuk ngewe dengan Firdaus lalu dengan enteng membayarnya sebesar tiga ribu pon di saat rakyatnya mati kelaparan. Kenyataan-kenyataan itu seharusnya sudah cukup untuk mengobarkan pada diri Firdaus satu hasrat saja pada para lelaki: untuk mengangkat tangan dan menghantamkannya ke muka mereka. (hlm. 16) 

Lewat seks, standar-standar moralitas keislaman di Mesir ditelanjangi. Karenanya, kejahatan seksual seharusnya tidak diidentikkan dengan kurangnya pemahaman ilmu agama atau kesalehan perempuan, tetapi dominasi maskulin yang mengakar kuat.

baca juga: Lubang Hitam Manusia Modern

Novel ini mengupas bagaimana narasi-narasi agama digunakan sebagai tameng atas pembenaran perilaku menyetubuhi istri secara paksa, marjinalisasi atas pelacur, hingga kekerasan terhadap perempuan karena “agama membolehkannya”. Dunia maskulinitas dalam buku ini benar-benar sakit. Gilanya, semua itu dianggap normal dan “sudah semestinya”. Dan, mengingat kisah Firdaus adalah nyata, kita tidak lagi dapat membantah dengan berkata bahwa ini hanyalah karya fiksi.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari karya memukau ini adalah: kesadaran akan penindasan oleh sistem patriarkis ditelanjangi, pertama-tama, lewat membaca. Harus diakui bahwa Paman Firdaus, si tukang grepe-grepe keponakannya itulah pihak pertama yang mengenalkan buku pada Firdaus. Ia pula yang membawa Firdaus pindah ke Kairo untuk disekolahkan. Ketika menjadi pelacur kelas atas pun, Firdaus menggunakan uang yang ia dapatkan untuk membeli buku dan membangun perpustakaan pribadi. Ia tahu ilmu pengetahuan dan kesadaran yang timbul karenanya adalah senjata mematikan.

Patriarki pada akhirnya akan melahirkan perempuan-perempuan berbahaya seperti Firdaus. Ia perempuan dan pelacur yang buas. Sangat buas, hingga kita tak akan pernah percaya bahwa seorang wanita yang begitu lemah lembut dapat membunuh. (hlm. 4) Karena sejak semula, ayah, paman, suami, dan laki-laki mengajarinya untuk dewasa sebagai seorang pelacur. (hlm. 144) Maka, yang mengingatkan saya untuk menggambarkan sistem patriarki adalah terjemahan novel ini dalam bahasa Jerman, Ich Spucke Auf Euch, yang artinya Aku meludahi semuanya.

  •  

Judul : Perempuan di Titik Nol

Penulis : Nawal el-Saadawi

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Penerjemah : Amir Sutaarga

Tebal: xxiii+176 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: