Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Puisi dalam Pandangan Remaja Masa Kini

Oleh: M. Dihlyz Yasir         Diposkan: 02 Nov 2018 Dibaca: 5026 kali


Akhir-akhir ini saya sering berpikir, mengapa di kalangan remaja dan mahasiswa saat ini, puisi, seringkali diidentikkan dengan kecengengan? Saya tidak mengatakan bahwa semua remaja menanggapi demikian, namun paling tidak, saya berani menjamin, tentu selain saya sendiri, banyak teman-teman yang mengalami hal serupa: yakni dianggap cengeng cuma karena membaca buku puisi!

Ketika seseorang nongkrong di kafe dengan buku puisi di tangannya, terlebih lagi jika seseorang itu adalah laki-laki berambut gondrong yang juga kebetulan seorang perokok aktif, maka suara spontan yang muncul dari sekitarnya adalah: “Bacaanmu kok puisi, sih, lagi galau ya?”, “wajahnya sangar kok bacaannya puisi?”, “Kok mau sih baca puisinya orang?” atau respon paling parah yang biasa diberikan oleh si penanya ­– setelah tahu bahwa seseorang yang ditanya itu membaca buku puisi – hanya sekedar: “Oh..”, lalu ditutup dengan raut wajah yang seolah-olah menganggap puisi itu tak lebih dari sekedar kumpulan kata-kata indah yang hanya cocok dikonsumsi laki-laki baperan.

Apakah jika seandainya laki-laki itu tak membaca buku puisi, tapi jenis buku berbeda, maka responnya akan tetap sama? Tentu saja, tidak. Misalnya dalam kasus lain yang serupa, tanpa bermaksud membanding-bandingkan, kita tahu, seorang mahasiswa yang nongkrong dengan buku tentang politik atau filsafat di tangannya, akan lebih dianggap “garang” dengan seorang mahasiswa yang membaca buku kumpulan puisi. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Jika yang satu dianggap keren, kenapa yang lain tidak? Bukannya politik, filsafat dan sastra sama-sama sebuah ilmu yang dipelajari di Universitas di negeri ini bukan? Bukankah disiplin ilmu yang berbeda punya peran sendiri-sendiri, bahkan saling melengkapi dalam kehidupan ini?

baca juga: Hidup Sehat ala Murakami, Takdir, dan Pramoedya

“Puisi itu imajinasi, keindahan bahasa, bedalah sama politik, filsafat, maupun sains, sudah tentu cara memandangnya juga berbeda.” Demikianlah tanggapan yang sering saya dengar. Tanggapan yang sekaligus membuat saya semakin bingung: Sejak kapan bahasa yang indah dan imajinasi dijadikan indikator untuk menilai mana hal yang cengeng dan mana yang bukan? Mungkinkah Einstein menemukan teori relativitas tanpa adanya imajinasi?

Apa puisi diidentikkan dengan kecengengan karena dominan dengan tema cinta? Tidak juga. Meskipun cinta adalah tema yang sering ditulis dalam puisi. Tapi jika kita perhatikan, setiap penyair pasti punya cara sendiri dalam memandang apa itu cinta. Penggambaran cinta secara mendayu-dayu seperti yang sering kita temukan pada puisi-puisi di sosial media misalnya, tentu tak ada jika kita cari dalam puisi-puisi cinta karya Chairil Anwar. Padahal Chairil sendiri adalah seorang penyair yang “dikutuk-sumpahi eros”. Sebagai contoh, saya kutipkan puisi Chairil yang saya ambil dari dua judul berbeda: kalau mau kuterima kau kembali/untukku sendiri tapi/sedang dengan cermin aku enggan berbagi// (Penerimaan) atau dalam puisinya yang lain: ah, hatiku yang tak mau memberi/mampus kau dikoyak-koyak sepi// (sia-sia)

Membaca kutipan puisi tersebut, bukankah kita menemui semacam adanya keangkuhan, atau harga diri yang berusaha tetap dijaga, meskipun siapapun saja tahu  bahwa persoalan cinta memang begitu menyesakkan? Bisa dikatakan, mungkin Chairil adalah seorang yang eksistensialis dalam memandang cinta.

baca juga: Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

Masih banyak lagi tentunya gaya-gaya penyair dalam mengungkapkan dan menggunakan cinta dalam puisinya. Cinta dalam sajak-sajak pamfletnya Rendra, misalnya, tentu berbeda dengan cinta dalam perenungan “Aku Ingin”-nya Sapardi. Hal-hal semacam ini adalah salah satu alasan mengapa orang membaca buku puisi, kan? Nah, menikmati kekayaan perspektif seperti ini, bagaimana bisa dikatakan sebagai aktifitas yang cengeng? Bukankah penyair adalah salah satu “spesies” yang juga pernah mendapatkan penghargaan keren tingkat dunia, yakni penghargaan Nobel Akademi Swedia, yang juga memberikan penghargannya ke bidang keilmuan lain seperti fisika, kimia, kedokteran? Dan berbicara soal kegarangan, apakah penyair berbahasa Spanyol, Pablo Neruda, yang mendapat hadiah Nobel itu, bukan seorang senator partai Komunis Chili? Dan di negeri kita sendiri, bukankah puisi yang membuat Widji Thukul dianggap “berbahaya”?

Sikap yang memandang puisi sebagai hal yang cengeng ini bisa terjadi sebab dua hal. Pertama disebabkan oleh ketikdakpahaman mereka tentang apa itu puisi, dan yang kedua adalah, ketidaksadaran mereka bahwa pemahaman – yang mengidentikkan puisi dengan kecengengan – itu sebenarnya juga terbentuk oleh sejarah.

Pandangan yang menganggap puisi sebagai kecengengan ini tidak bisa kita lepaskan kaitannya dengan salah satu babak dalam sejarah perpuisian Indonesia. Penyair selama ini digambarkan dengan deskripsi seperti “pejalan sunyi” atau “orang paling murung sedunia”. Penggambaran tersebut adalah penggambaran yang khas sekali dengan semangat Romantik (gerakan seni dunia abad 18) yang di Indonesia mulai diperagakan oleh penyair-penyair angkatan Pujangga Baru. Subjektifitas, individualitas, penekanan pada perasaan daripada rasio, imajinatif, emosional yang tinggi, adalah ciri-ciri umum periode Romantik.

baca juga: Ketika Keindahan Sepakbola Dihancurkan Hooliganisme

Dalam puisi, individualitas penyairlah yang diutamakan dan menjadi fokus, sehingga puisi berjenis liriklah yang paling populer sebab puisi lirik tidak mengambil bahan dari luar, melainkan langsung dari kedalaman emosional sang penyair. “Poetry is the spontaneous overflow of powerful feelings” demikian ucapan Wordswoth yang seringkali dikutip sebagai awal mulanya puisi dan puitik romantik Ingrris. Pandangan semacam ini, masuk ke Indonesia pada tahun 30-an lewat kelompok “Tachtigers” di Londo, yang Belanda sendiri pun terpengaruh dari puisi-puisi Romantik Inggris. Hal ini dijelaskan Teeuw dalam bukunya, Sastra dan Ilmu Sastra.

Kini tentu kita bisa paham mengapa ketika seseorang mengungkapkan definisi tentang puisi, akan akrab terdengar definisi-definisi seperti “ungkapan hati yang terdalam”, “kata-kata yang terpancar dari dalam jiwa” maupun sejenisnya. Fenomena ini menandakan bahwa motif romantik masih terbawa hingga saat ini. Kesunyian, kerinduan, kesedihan menjadi sekumpulan daftar yang rata-rata selalu ada dan di-ada-kan dalam puisi, dan bukan kebetulan pula, kan, puisi lirik masih menjadi jenis puisi yang paling sering ditulis?

Demikianlah mengapa puisi sering dianggap sebagai omong kosong tentang kecengengan dan kebaperan—oleh mereka yang memiliki gairah akan ketergesaan dalam menilai. Kalau sudah begitu, ya, mau bagaimana lagi? Bagi penikmat puisi, ya terus saja membaca buku puisi, jangan ambil pusing ketika dianggap baperan, cengeng maupun sejenisnya, toh banyak juga kok orang yang anggap puisi sebagai kecengengan tapi diam-diam ikut membacanya dengan harapan apa yang mereka baca itu bisa jadi modal buat ngajak mantan pacarnya balikan.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: