Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Oleh: Sengat Ibrahim         Diposkan: 01 Dec 2018 Dibaca: 3174 kali


aku mencari rumah seperti rindu

gemuruh hasrat kecukupanku

aku mencari rumah seperti rindu

makanan lezat pengetahuanku

aku mencari rumah seperti rindu

keluarga besar kebinatanganku

untuk lengkapi kebinatanganmu.

 

aku mencari rumah seperti rindu

dalam segenap ruang yang kutuju

aku mencari rumah seperti rindu

liang persembunyian sempurnaku

aku mencari rumah seperti rindu

hasil pengembaraan beradaku.

 

rindu: ruang inap seluruh harap

ikrar kesiap seluruh umat

nubuat hasrat di malam gelap

dengus berahi penuh kesumat

unggas pe-rasa-an paling sedap.

 

yang teriak-teriak saban waktu

adalah dirimu dalam diriku:

nuklir dalam tubuh si perindu yang 

gagal meledak ke seliyan aku.

 

dari semua yang kusebut

indah sungguh ada dalam dirimu

aku butuh kau sebelum tuhan

meletakkan kebutuhan dalam diriku.

dari semua tempat yang kusebut

ibadah sungguh kau

adalah satu-satunya tempat yang bisa  

menyinggahkan segala kebetahanku.

 

maka mendekatlah

engkau yang kusebut rumah

nikmati aku sebelum musnah, dengan

cinta yang basah,

ingin yang mengasuh peluh dari

peluk sekental getah.

tanam aku dalam dirimu

atau kubur aku di bawah pusarmu:

mari menanam benih

untuk merawat generasi sedih.

 

demi waktu yang terus berjalan

aku masih khusyuk mencari-cari  

lubang persinggahan sebelum

aku mengasingkan diri di kuburan

menikmati sang maha pengangguran.

 

demi engkau yang terus tumbuh sebagai

impian-impian yang berhamburan

ruang yang digerogoti kemungkinan

iman yang mencoba bunuh tuhan

ketakutan yang berujud kerinduan

utuhkan aku sebagai ciptaan.

 

Jogjakarta, 25/10/2018/ 20:26

 

baca juga: Puisi-Puisi Sengat Ibrahim

                       

tuhan kecil dari

utara tak pernah kesepian

hanya saja ia tak betah hidup sendirian.

aku tahu kesepian adalah saudara kembar kematian

namun bagi tuhan kecil dari utara, kesepian adalah pintu masuk(ku)

 

ke dunia yang sembunyi di luar pikiran manusia.

entah dunia apa, mungkin semacam dunia

cinta—memabukkan pemiliknya melalui ketololan yang sempurna.

ingin sekali aku memeluk tuhan dari utara

lalu mengecup bibirnya

 

dengan secakap-kecupan yang mencakup

atau cukup-sekecupan tetapi berlarut-larut—sebagai

ritual

ibadahku

 

untuknya.

tuhan kecil dari utara tahu kalau

aku bukan penulis kesepian melainkan pencipta kesepian:

ruang di mana aku & tuhan kecil dari utara menikmati pertemuan hingga

akhirnya saling meniadakan.

 

Jogjakarta, 2018 12/10/2018/ 01:00

 

baca juga: Puisi-puisi Aditya Ardi N: A Tribute to Dangdut

 

sekarang hari tunggu

aku kirim surat rindu  

bila surat ini sempai ke tanganmu

tersenyumlah sebab ini surat kutulis khusus 

untukmu! 

 

manisku    

ini surat

nakalku padamu: 

gugusan magma dalam dada

gencatan senjata penuh bara

untukmu yang kucinta dan memilih hidup jauh dari mata.

 

sejak itu kekasih 

engkau benih bagi sedihku

nanah yang sembunyi dilepuh kulitku

infus yang disuntikkan dokter saat kudemam rindu

nafkah bagi kesehatan napas-nafsuku.

 

sejak semula kekasih

engkau rumah seluruh harapku 

liang rehat rasa cemasku

ampas pabrik gulanaku

sampah pupuk harapku

aku larat padamu.

 

rupa dari segala rasa

aku mengada atas nama cinta

berujud demi kebesaran luka

ucapku kitab sukma.

 

ketahuilah kekasih

aku rasa

manis yang mencari lebah, rasa

ingin yang diburu

simbah.

 

jika ini cobaan

untukku yang kau asih

mungkin

aku harus mandi

tabah sambil berenang-renang di sungai betah.

                       

Jogjakarta, 14/10/2018/ 07:56

 

baca juga: Sajak-Sajak Saifa Abidillah

 

endang

jidilah kau

aku yang kau butuhkan:

abdi dari habitat keindahan 

nabi bagi marga kerinduan—

 

yang mengandung tidak untuk dilahirkan

ada(mu) di batas ancaman dan keselamatan

nyala keberadaan paling menguntungkan   

gairah hidup di terminal penantian—

 

kekacauan

untuk menampung kecakapanku:

ruas rusuk yang hilang sebelum

ingin sembunyi ke dalam angan

nafkah baik dan buruk

dengan segala kebergantungan

untung-rugi dalam segala

kecupan-kecupan memabukkan, dan

alangkah tolol aku membiarkan

nasib diatur sedemikain rupa oleh rindu.

 

 

Jogjakarta, 03/11/2018/ 12:16

 

 

 

aku bercermin pada matamu dari segala godaan malam yang  

  terkutuk. di matamu aku memilih menjadi bintang, menyala

  di kejauhan menerangi masa depan. biarkan, biarkan aku

  memilih menjadi bintang bukan awan bukan bulan. sebab,

  aku  telah  muak  menjadi  kesunyian.  bila  satu  bintang

  tumbang  kau masih bisa  melihat  bintang  lain  memancar.  

  dan kau kan tahu bahwa segala yang hidup berasal dari tiup

  sedang  segala  yang  redup berasal  dari cintaku yang kalut.

 

nanda, ketika matamu menjelma langit malam. langit malam  

  yang  tak pernah tahu  bagaiman  caranya membuat tatapan.

  aku masih bintang di sana. memilih menjadi benda paling

  jauh sebab bila kukatakan butuh kau kan mustahil mencari

  sentuh. atau bila kukatakan rapuh kau hanya bisa mengeluh.  

  cukup, cukup aku menjadi bintang yang tak tahu cara hidup  

  sendirian.  yang  seolah  sempurna  ketika  menjadi  tatapan.

  berkedap-kedip dalam warna kesucian.

 

nada nasib-nada nasab berkerubung dalam dada membawa

  petualangannya   masing-masing.   nanda,  cinta  adalah

  museum  tempat  segala  barang  antik  diabadikan;  tempat

  segala  warna  hidup  dipersatukan;  tempat  segala  nama

  dikenang; tempat segala angan mendapat jalan kenikamatan;

  tempat segala gejolak hidup temukan tujuan; tempat segala

  rindu temukan pintu masuk dan pintu keluar; tempat segala

  kesepian berjalan-jalan mencari hidangan.

 

aku kunang-kunang angkasa nanda. bekerja di malam hari

  menebar  puja-puji:  aku  merawat  mekar  bunga di bumi.

  penanda  bagi  kelelawar  mencari  rezeki.  penanda  bagi

  anjing bisa melolong berkali-kali. penanda bagi para lelaki

  meminum  kopi  setelah  selesai  bekerja  sepanjang  hari.

  penanda  bagi  penyair  memasak  imaji.  penanda  bahwa

  kehidupan di bumi sedang dikerubungi sunyi.

 

nanda, aku begitu kangen padamu: sebagaiamana kangen

  para penyair kepada intuisi. sebagaiamana kangen para

  sufi kepada ilahi. sebagaimana kangen sepi pada diriku

  sendiri yang berusaha melengkapi hidup melalui puisi.

 

iya nanda, aku mabuk kangen padamu: sebagaimana kangen  

 kumbang menghisap putik bunga tanpa sedikitpun melukai.

 sebagaimana kangen puisi  cinta  menyapa  pembaca  yang

 penyairnya   harus   meninggal   sebelum   puisinya   jadi.  

 sebagaimana  kangen  angin  pada  dingin  untuk  menandai

 sepi dini  hari.  sebagaimana  kangen  seorang  perempuan

 mandul miliki anak yang  keluar  dari  rahimnya  sendiri.  

 sebagaimana  kangen  para  pelacur  mengenakan  berahi

 setiap bercinta dengan pelanggan yang bernafsu api.   

 

Jogjakarta, 16/10/2018/ 23:44

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: