Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

“Rahim Hangat” Bukan Pencapaian Feminisme!

Oleh: Fitriana Hadi         Diposkan: 30 Sep 2018 Dibaca: 2508 kali


Beberapa waktu lalu, frasa “rahim hangat” menjadi frasa populer bagi netizen—utamanya di Twitter—untuk mengekspresikan seksualitas. Selebrasi Jonatan Christie a.k.a. Jojo dengan aksi membuka baju saat memenangi final Asian Games 2018 menjadi salah satu momen masifnya frasa ini terlontar di media sosial. Frasa tersebut turut ditujukan pada Duta “Sheila On 7” yang tampil dalam Konser Kisah Klasik. Pada aktor Indonesia seperti Iko Uwais hingga bintang K-Pop, komentar “rahim hangat” dan ungkapan sejenisnya: “ovarium meledakkan sel telur”, “serviks melebar”, hingga “basah” dan “becek” juga dapat dengan mudah ditemukan.

Jika dibandingkan dengan ekspresi seksual dari pria seperti “kontol ngaceng”, “bahan coli”, dan lainnya, frasa “rahim hangat” cenderung lebih minim resistensi. Pelontarnya tidak sampai dipetisi seperti kala Young Lex mengomentari sosok Lisa “Blackpink” sebagai “bahan coli”. Meski begitu, ketika muncul komentar tentang usaha kesetaraan gender dalam fenomena ini, kita perlu memikirkan kembali: apakah ini sebuah pencapaian dari feminisme?

 

Bangkitnya Ekspresi Seksualitas

Perempuan bicara seksualitas sebenarnya bukan fenomena baru-baru ini. Kalau mau membuka-buka novel pop tahun 80-an seperti karya-karya Mira W. hingga Enny Arrow, tema “seksualitas” yang berfokus pada karakter perempuan sudah jauh ada. Novel pop pada masa itu menjadi salah satu media “proyeksi” hasrat perempuan yang cenderung “diredam” oleh norma-norma di masyarakat.

Tentu akan jadi terlalu jomplang jika fakta dalam dunia sastra pop masa itu dibandingkan dengan zaman revolusi industri 4.0 sekarang. Meski begitu, Facebook, Twitter, dan Instagram turut memberikan fasilitas untuk memproyeksikan “hasrat” perempuan secara luas. Medianya bukan lagi lewat jalan cerita dan karakter yang fiktif, tapi berbasis pada kekuatan massa: mbak-mbak yang secara kolektif terang-terangan mengakui “rahimnya menghangat” melihat pria-pria dengan badan seksi sesuai citraan budaya populer: padat, berotot, dan tentu saja six packs. Semakin banyak orang melakukan aktivitas yang serupa, semakin bulat anggapan bahwa aktivitas tersebut bukan hal yang salah.

baca juga: Di Indonesia, Bahaya Laten Abad XXI Harus Tetap PKI

Menyoal semakin banyaknya perempuan yang jujur pada seksualitas mereka, saya sepakat bahwa hal ini adalah kemajuan. Jika selama ini laki-laki adalah pihak yang menguasai topik-topik “seksual” dalam golongannya sebagai wujud dari superioritas, tentu menjadi hal yang menggembirakan bahwa kini perempuan berani menaikkan wacana seks yang dianggap tabu ke permukaan.

Organ vital perempuan, seperti rahim, uterus, sel telur, dan lainnya tidak lagi hadir sebatas organ reproduksi yang fungsinya oleh masyarakat patriarkis sebatas pada “alat menghasilkan anak”, tetapi lebih dari itu. Ia dapat menjadi “alat” untuk bersenang-senang, tanda bahwa kepuasan seksual bagi perempuan tidaklah tabu. Dari sana akan tercipta ruang dialog: dalam hubungan romantis heterogen misalnya, perempuan dapat lebih berani meminta “hak seksual” dari pasangannya. Lalu, dalam hubungan keluarga, ibu dapat lebih terbuka memberikan pendidikan seks pada anak.

Meski begitu, “kemajuan seksualitas” perempuan dalam ranah daring ini bisa menjurus ke pelecehan seksual ketika menjadikan laki-laki sebagai objek seksual. Semakin absurd jika pembenaran dari perilaku demikian menggunakan dalih-dalih “kesetaraan” mentang-mentang selama ini kaum laki-lakilah yang sering menjadi pelaku pelecehan seksual pada perempuan. Equality Act 2010 memberikan definisi bahwa “pelecehan seksual” adalah perilaku tidak diinginkan yang bersifat seksual, salah satu tujuannya adalah melanggar martabat seseorang. Bentuknya bisa berupa pernyataan yang tidak senonoh dan sugestif juga “permintaan” terhadap aktivitas seksual.

Berpegang pada definisi tersebut, bentuk “ekspresi seksual” berupa frasa “rahim hangat” dan sejenisnya menjadi bukti bahwa perempuan dapat menjadi pelaku pelecehan seksual. Dan, hal tersebut bukanlah “kesetaraan gender” yang merupakan buah dari pohon “feminisme”.

 

Kesetaraan Gender Bukan Tujuan Utama

Jika melihat konteks pembagian gelombang-gelombang gerakan feminisme, kesetaraan gender merupakan goal utama dari gerakan feminisme pertama dan kedua. Pada gelombang pertama, perempuan memperjuangan kesamaan hak dalam ranah politik untuk terlibat dalam pemilihan umum.

Sementara itu, gelombang kedua feminisme pada 1960-an dan 1970-an lebih memperjuangkan “kesadaran” akan relasi kuasa dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Di Amerika dan Inggris, kesetaraan akan upah, akses pendidikan, kesempatan kerja, hingga hak kontrasepsi gratis dan hak untuk melakukan aborsi legal adalah bentuk perjuangan yang berusaha diraih.

baca juga: "Umat Soal" Tak Sepanjang Masa

Meski begitu, kritik terhadap gelombang kedua feminisme, di mana kelompok-kelompok persaudaraan perempuan di dalamnya dianggap berpusat pada pengalaman-pengalaman penindasan perempuan kulit putih yang mayoritas berasal dari kelas sosial menengah melahirkan gelombang ketiga gerakan feminisme. Pada gelombang ini, feminisme lebih berfokus pada bentuk-bentuk penindasan yang beragam dari kondisi sosial yang berbeda-beda: ras, wilayah bekas jajahan, hingga pengaruh globalisasi.

Posisi kita sekarang ada di gelombang ketiga feminisme ini. Jika feminisme hadir untuk menumbangkan patriarki, kesetaraan gender bukanlah tujuan utama. Mengutip apa yang disampaikan Rocky Gerung, bahwa tujuan gerakan feminisme lebih luas daripada kesetaraan gender. Kesetaraan gender bersifat positional, sementara patriarki mewujud dalam banyak nilai di ranah sosial yang kadang tidak kasat mata. Contohnya dalam lingkup global, kesetaraan gender tidak cukup untuk sampai menghapuskan stereotip kecantikan yang diproduksi terus-menerus dalam media populer.

Perempuan kini tentu bisa menduduki jabatan tinggi dalam suatu institusi. Namun, di media-media ulasan tentangnya akan berputar pada bagaimana ia tetap bisa menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Kesetaraan gender dapat membuat perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, tetapi tidak serta-merta mencerabut akar-akar patriarki yang terlanjur tumbuh jauh ke dalam tanah.

baca juga: Etgar Keret: Menilik Kemanusiaan dari Tanah yang Dijanjikan

Menjadikan pria sebagai objek seksual alih-alih merupakan usaha “kesetaraan gender” justru merupakan bentuk pereduksian dari kualitas pribadi mereka yang lebih besar dari fisik: dalam kasus Jojo misalnya, seperti bagaimana ia terus-menerus berlatih untuk sampai ke babak final bulu tangkis. Begitu pula jika ia adalah seorang selebriti K-pop yang setiap hari harus disiplin berlatih menyanyi, menari, diet ketat, dan kerja keras lainnya agar dapat tampil tengan baik.

Pria-pria ini mengalami objektifikasi dan dehumanisasi: eksistensinya hanya dilihat dan dinilai berdasarkan unsur seksual. Saya bisa menyebutkan banyak problem baru yang dapat muncul jika perilaku ini “dibenarkan” dengan dalih “kesetaraan”, seperti munculnya pembenaran jika laki-laki melakukan pelecehan seksual kepada perempuan atau semakin resistennya kaum laki-laki untuk dirangkul dalam gerakan feminisme. Padahal, saya meyakini bahwa feminisme tidak bertujuan untuk membalikkan posisi korban, tetapi meniadakan posisi itu dan menciptakan kehidupan yang lebih adil dan penuh penghargaan.

 

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: