Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Ralat dan Telat

Oleh: Bandung M.         Diposkan: 11 Jun 2019 Dibaca: 645 kali


Bermula bertarung dengan buku-buku, ia menulis tentang Jawa dan Islam. Ada “keakuan” dalam pengisahan Jawa dan Islam, dari masa ke masa. Biografi dituliskan di tatapan studi dan mengalami diri di bentangan waktu mengacu ke episode-episode menentukan dalam dakwah, kekuasaan, dan publikasi riset. Jangkauan ke masa lalu memerlukan “pengantar” berupa studi-studi saling membantah dari kalangan sarjana asing, sebelum mendapat tanggapan dari kaum intelektual Indonesia. Irfan Afifi “mengentengkan” kita di pengembaraan buku-buku untuk mengerti sejarah, agama, politik, adab, sastra, dan pendidikan.

Pada 2007, wejangan tukang pijat “mengganggu” identitas kejawaan Irfan Afifi. Cerita-cerita bersahaja sanggup “memijit” sekian kecapekan dan kelupaan di kemengertian menjadi Jawa, setelah tahun-tahun berlalu dengan studi-studi berlagak mentereng. Peristiwa itu perlahan menguak timbunan samar dari pembentukan diri sebagai manusia Jawa beragama Islam di latar politik-kultural Indonesia.

Irfan Afifi tak seperti Ki Padmasusastra (1843-1926) saat menginsafi kemauan menjadi Jawa di awal abad XX secara “serba salah”. Ia ingin menjadi Jawa tapi “bahasa” dan “tata krama” telah diangkut ke Belanda untuk dikembalikan berupa  tatanan baru diajarkan ke orang-orang Jawa. Tata agama pun mengalami perubahan setelah kerja para sarjana Belanda dan penggenapan dari kaum bumiputra mengadakan Sarekat Islam (1912). Jawa dan Islam masa lalu di bentukan naratif berselera kolonial gara-gara di terapan kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial. 

baca juga: Mudik Bukan Sembarang Mudik

Irfan Afifi mengalami abad XXI, terpaut jauh dari bimbang orang-orang lawas di pembentukan Jawa dan Islam. Telusuran ke buku-buku mengenai sastra Jawa dan edaran doktrin-doktrin Islam di Nusantara sering mencengangkan dan merangsang ke pemikiran kritis. Irfan Afifi jadi “pembaca” deretan studi-studi mengandung bias dan muslihat di pengisahan Jawa dan Islam, dari masa ke masa. Ia menempuhi ribuan halaman sampai ke silam. Di sana, ia menengok ke segala arah bermaksud pantang lekas menerima segala definisi dan konklusi telah menjadikan narasi Jawa dan Islam meresap dalam waktu lama, “telat” mendapat ralat.

Di titik tanpa tebakan, Irfan Afifi mengaku: “Identitas yang membentuk saya, Jawa, dan Islam saat ini ada dalam posisi yang saling menegasikan. Islam versus Jawa dalam relasi yang saling berhadapan. Ada perselisihan, atau tepatnya pertentangan yang benar-benar mengguncang diri. Dengan sisa energi yang hampir habis, saya lamat-lamat semakin mengerti bahwa ada narasi besar kolonialisme, yang sejak lama tertimbun dan membentuk bingkai melihat keislaman kita.” Ia mulai “menuduh” kalangan sarjana Indonesia masih terpengaruh atau mengaku ahli waris dari studi-studi “dibabonkan” produksi sarjan-sarjana Eropa.

Hari demi hari, Irfan Afifi sibuk di hadapan buku-buku “sangar” untuk memberi ralat, bantahan, dan tantangan. Ia melahap buku-buku garapan Raffles, Johns Crawfurd, Snouck Hurgronje, Clifford Geertz, Zoetmulder, Pigeaud, Pijper, De Graff, Drewes, Ricklefs, Nancy Florida, HM Rasyidi, Peter Carey, Simuh, Marks Woodwards, S Soebardi, Sartono Kartodirdjo, Ki Ageng Suryomentaram, M Laffan, Schricke, dan lain-lain. Ia keranjingan dan penasaran di pembacaan-pembacaan minta pertarungan tafsir. Geram dan tepuk tangan bergantian dalam penemuan-penemuan hal-hal ditanggapi di situasi abad XXI, abad terasa “rusuh” di sorotan ke masa lalu.  

baca juga: Religiusitas Si Kepala Suku

Irfan Afifi bukan cengengesan dalam mengisahkan diri, Jawa, dan Islam. Kita diajak di pembacaan lagi teks-teks sastra lama mengandung Jawa dan Islam di babak-babak berbeda. Pengutipan dari Serat Wirid Hidayat Jati (Ranggawarsita), Wedhatama (Mangkunegara IV), atau Serat Centhini memungkinkan pemeriksaan pengaruh-pengaruh telanjur terwariskan di pemahaman dan pengalaman menjadi Jawa dan Islam. Pada gubahan sastra atau wejangan leluhur, tata cara membentuk diri sesuai adab Jawa dan ajaran Islam selalu di belokan-belokan bertebaran pengaruh kolonialisme, feodalisme, dan modernitas bawaan Eropa. Selisik Jawa dan Islam pun pelik.

Keredaan “mengetahui” dan “mengalami” Jawa diperoleh dalam pembaca tulisan-tulisan Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962). Ketekunan membuka halaman-halaman buku dan merenung tampak di esai Irfan Afifi berjudul “Suryomentaram: Antara Tradisi dan Modernitas”. Cara baca “mutakhir” berbeda dengan masa 1970-an dan 1980-an saat buku-buku tipis berisi tulisan-tulisan Ki Ageng Suryomentaram terbit: Filsafat Rasa Hidup, Ukuran Keempat, Wejangan Pokok Ilmu Bahagia, Ilmu Jiwa Kramadangsa, Rasa Bebas, Mawas Diri, Tanggapan, Jimat Perang serta Rasa Manusia, dan Kesempurnaan dan Wujud Ilmu Jiwa. Pujian bagi Ki Ageng Suryomentaram selaku filosof Jawa: “Godaan atau pilihan menengok ‘tradisi’ atau menjemput ‘modernitas’ akhirnya dapat ia selesaikan setelah permenungan panjang dari sudut di sebuah desa terpencil, tempat di mana ia akhirnya menelurkan pemikiran yang hari ini kita kenal dengan nama kawruh jiwa (ilmu jiwa) atau kawruh begja (ilmu bahagia).”

Esai panjang itu memukau, bukti ketabahan dan kehendak menjelaskan Jawa di khazanah pemikiran Ki Ageng Suryomentaram. Irfan Afifi betah membaca puluhan buku untuk “disarikan” dan ditafsirkan di situasi mutakhir. Lacak pustaka terasa menentukan di pengenalan filosof Jawa meski belum lengkap. Pembaca belum menemu penghadiran majalah bernama Dudu Kowe dalam edaran dan pendalaman ajaran Ki Ageng Suryomentaram masa lalu. Majalah itu jarang “muncul” di studi-studi para peneliti Indonesia dan asing. Buku-buku edisi terbitan Idayu, Haji Masagung, atau Grasindo jadi pilihan teranggap memadai. Pada masa 1950-an, Ki Ageng Suryomentaram bersama Ki Parwirowiworo, Ki Pronowidigdo, dan Ki Kartosumanto mengadakan majalah dinamakan Dudu Kowe. Redaksi dan produksi majalah beralamat di Solo. Kita mengandaikan siasat mengedarkan majalah itu membuat ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram ada di percakapan publik dan “menanggapi” tata hidup berderu revolusi masa 1950-an di Indonesia. 

baca juga: Dongeng yang Tak Melulu tentang Pesan Moral

Di halaman-halaman akhir, pembaca mendapat suguhan esai berjudul “Raffles dan Agama Jawa”. Irfan Afifi mengurusi dua buku klasik: History of Java (Raffles) dan History of Indian Archipelago (Johns Crawfurd).  Ia beranggapan dua buku klasik itu pemula dalam pendefinisian “agama Jawa” di lembar-lembar penelitian akademik kalangan orientalis. Dua buku dari akhir abad XIX (pernah) menjadi referensi absolut oleh para sarjana Eropa, sebelum mendapat kritik dan bantahan. Di Indonesia abad XXI, Irfan Afifi berlaku jadi pembantah demi mengerti kedirian di tema Jawa dan Islam. Bantahan telat tapi ampuh agar “batal” sebagai ahli waris pemikiran-pemikiran di buku-buku “terlalu” membentuk Jawa, Islam, dan Indonesia, sejak ratusan tahun lalu. Begitu.    

  •  

Judul : Saya, Jawa, Islam

Penulis : Irfan Afifi

Penerbit : Tanda Baca

Tebal : 222 halaman

  •  
 Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: