Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

REALITAS PARALEL

Oleh: Arfyana Citra Rahayu         Diposkan: 09 Oct 2018 Dibaca: 1554 kali


Apakah sebelum lahir, aku sudah sepakat dengan Tuhan untuk dilahirkan ke bumi?

Aku tidak ingat.

Ketidakingatan itu membuatku berputar pada pertanyaan “kenapa aku ada?” yang harusnya kusimpan sendiri. Tapi malam itu, persoalan itu tak mampu kubendung. Tak sadar kulemparkan ke wajah Ibuku sampai ia menangis kesakitan.

Ia tidak percaya pengorbanan nyawanya dibalas dengan pertanyaan yang merendahkan keibuannya.

**

Berbicara mengenai dunia, apakah kita hidup di dunia yang sama? Semua temanku menjawab “iya”.

Katanya dunia adalah alam kehidupan, atau bumi dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya.  Aku lumayan setuju karena secara fisik manusia beserta dengan tubuhnya memang hidup pada level yang dapat dilihat.

Namun, jika kita berbicara dimensi lain dari dunia, realitas misalnya, apakah kita juga berada pada realitas yang sama?

Lagi-lagi temanku menjawab “Ya” tanpa tahu apa alasannya. 

Menurutku realitas hanyalah persepsi, lalu kita yang membuatnya nyata, sehingga aku lumayan setuju kita berada pada realitas yang sama, hampir sama lebih tepatnya.

Pada satu sisi, ketika ku lihat manusia pada ketunggalannya, setiap dari kita punya realitasnya masing-masing. Manusia berhak memiliki dunia sesuai persepsinya.

Tetapi dalam satu situasi lain, realitas dapat tumpang tindih. Kita bisa berada pada realitas yang sama. Hal ini disebabkan adanya irisan persepsi. Ini yang kusebut sebagai realitas paralel. Kita bisa bernafas pada relitas yang selaras.

Tapi aku jarang merasakan irisan itu. Seringnya aku berpura-pura dan beradaptasi dalam kenyataan hidup orang lain. Semenjak beberapa kali ditolak dan disingkirkan karena pandangan yang berbeda, baik itu di sekolah maupun di keluarga.

Berulang kali aku dicerca dan dihakimi sebagai anak aneh dan gila karena pemikiran absurdku. Sampai pernah diminta cari psikiater untuk cek apakah otakku masih normal.

Dunia memang kejam. Sudah dilempar ke dunia tiba-tiba, masih harus berjuang dan bertahan dari perang ego dengan orang terdekat kita.

Sampai suatu ketika, pemikiran yang kurasa sudah dikubur dalam, muntah begitu saja di depan ibuku.

Malam itu, aku pulang larut untuk yang ketiga kalinya. Ibu khawatir karena aku pulang dengan teman yang baru sebulan ini kenal. Seharusnya aku bisa bersikap wajar dengan kecemasan yang ditahannya. Sikap marah dan emosinya juga harus bisa ku maklumi karena ia lelah. 

Tapi malam itu, aku merasa harus mempertahankan diri karena ibu marah sampai menghinaku. Katanya kalau begini terus aku bisa jadi perempuan gak bener. Aku juga dibilang tidak mengikuti peraturan keluarga, yang aturannya dibuat oleh ibu dan bapak saja.

Ia juga berteriak sampai suaranya melengking kalau aku tidak sadar seharusnya perempuan tidak pulang malam. Katanya gak enak dilihat tetangga bisa-bisa aku dikira lonte.

Kata-katanya yang keluar malam itu membutakan emosiku. Aku meledak.

Aku sudah hidup belasan tahun di keluarga ini dan selalu mematuhi semua peraturan yang ada. Sebelum-sebelum ini, aku selalu pulang di bawah jam 9 malam. Aku bertanggung jawab atas semua nilai di sekolah. Aku juga menuruti semua yang ibu dan bapak inginkan, masuk SMA yang sebenarnya aku tidak suka.

Aku diselimuti emosi karena merasa paling benar. Dengan seenak dan selorohnya aku berkata, “Kenapa sih nyalah-nyalahin kalo aku anak perempuan! Aku juga gak pernah rencana lahir di dunia atau jadi anak perempuan!”

Ibu semakin berang masih menahan sesaknya. Ia tidak lagi memperhatikan kondisi tubuhnya yang ternyata sedang tidak stabil. Ia berdiri, menangis, sambil memegang dadanya, “Kamu nyesel udah ibu lahirkan?”

Aku diam karena sadar telah menusuk hati ibuku. Aku tidak mau lagi bicara karena takut akan menyakitinya lebih parah.

Ibu yang sudah banyak berkorban untuk kehidupanku harus menerima ternyata anak yang sudah dirawatnya bertahun-tahun mempertanyakan bahkan tidak terima telah dilahirkan.

Bapak pulang, ibu langsung masuk ke kamarnya. Aku juga langsung masuk ke kamarku.

Setelah malam itu, ibu sakit. Fisik dan jiwanya ambruk. Anak tunggal yang baru dilahirkannya setelah 10 tahun menikah, telah menghancurkan penantian dan mimpi-mimpinya.

Aku menyesal dan belum berani bertemu ibu, diam-diam bertanya kepada Bapak yang siang itu baru keluar dari kamar. 

“Ibu baik-baik aja kan, pak?” tanyaku ragu.

Bapak dengan senyum lembutnya mengajakku duduk bersama di ruang keluarga.

“Kamu bicara apa nduk sama ibu?” tanya bapak perlahan.

Aku tidak mau lagi mengulang kata-kata tadi malam ke bapak. Alhasil aku hanya menunduk sambil menggeleng. Tidak terasa air mata menetes saat bapak mengelus ubun-ubunku.

“Gapapa nduk, kamu nanti minta maaf yah sama ibu. Ucap juga terima kasih udah rawat kamu sampai secantik ini,” aku terisak, bapak memelukku.

“Nduk, maafin bapak kalau belum bisa ngobrol banyak sama kamu,” bapak diam sejenak untuk mengambilkan selampai di atas meja, lalu memberikannya kepadaku. Siang itu bapak bisa menenangkan ku dengan menasihati bahwa hidup adalah perang antar ego. Namun, tidak berarti kita harus terus menyerang atau bertahan. Kadang kita juga harus mengalah dan coba memaklumi lepasnya emosi orang lain.

Betul kata bapak. Ibu yang sudah lebih lama hidup di dunia mungkin merasa lebih lelah dari ku. Dan ku simpulkan bahwa marahnya kemarin, mungkin juga usahanya untuk menyadarkan dan membuat irisan kecil di antara realitas kita bahwa menjadi seorang perempuan adalah patuh pada norma-norma dan nilai sosial yang dianut keluarga. Inilah aku yang belum berani berontak dari konsensus sosial yang entah dibuat siapa.

Aku lelah.

Tapi aku lebih baik begini. Semoga orang tuaku bahagia.

  •  

Arfyana Citra Rahayu, lahir di Jakarta 4 Agustus 1996. Menulis dan membaca hal yang wajib dilakukan setiap hari. Puisinya berjudul “Kota dalam Bayang-Bayang Takdir”  pernah dimuat di Antologi Puisi Setu, Kota, dan Paradoks. Puisi lainnya “Indah yang Membias” direspon seniman Tangerang Selatan dan dipamerkan di Talenta Art Space.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: