Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Rekomendasi Bacaan Filsafat Islam

Oleh: Redaksi         Diposkan: 13 Jan 2021 Dibaca: 64 kali


Jika filsafat adalah sebuah jalan, maka pilihan kita sebagai manusia yang berpikir begitu beraneka. Filsafat seringkali menjadi jalan tengah antara sains dan agama yang tak jarang berdebat. Dalam filsafat pula, kekayaan akan pengetahuan dan kebijaksanaan perlu dipertanggungjawabkan. Filsafat memang tak pernah menjanjikan apapun, tapi dengan mengetahuinya dan mempelajarinya manusia bisa mengetahui apa yang mestinya dapat dijalani.

 

Filsafat Islam adalah salah satu dari banyaknya perkembang ilmu pengetahuan ini. Filsafat sering disebut sebagai ibu dari segala pengetahuan, maka tak ayal jika ia memilik banyak cabang dalam perkembangannya. Maani' Hammad al-Juhani mengatakan bahwa ilmu filsafat yang disampaikan para filsuf adalah suatu kepalsuan yang berbahaya dan kejam. Namun, tak sedikit pula pandangan yang mengatkan bahwa kebenaran tak mungkin ingkar pada kebenaran seperti kata Ibn Rusyd.

 

Untuk itu, membaca filsafat Islam ialah berjalan pada ke-antara-an. Senantiasa bersetia pada rasa ingin tahu, dan bertanya ialah bekal menjalaninya.

 

Berikut buku-buku yang akan mengantar pembaca memahami filsafat Islam:

 

Metode Kritik Filsafat Ibnu Rusyd karya Muhammad Atif Al-Iraqi

 

Perbincangan apa pun tentang filsafat Islam atau rasionalisme Islam bila tidak menyertakan kiprah intelektual lbnu Rusyd, tokoh dari Andalusia, adalah sama dengan omong kosong. "Bullshit!”

Demikian kira-kira ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan urgensi kontribusi filsafat lbnu Rusyd—sebagaimana begitu pentingnya meletakkan sosok R.A. Kosasih dalam jagat perkomikan Indonesia. Apa gerangan sesungguhnya yang telah disumbangkan lbnu Rusyd?

Pelik memang, namun bukannya mustahil untuk dipetakan. Apa yang telah dilakukan dengan baik oleh Muhammad Atif al-lraqi dalam buku yang kini ada dalam genggaman pembaca ini merupakan satu bukti esensial yang berhasil mendudukkaneskalasi filsafat lbnu Rusyd di antara percaturan filsafat Islam khususnya, dan bahkan filsafat dunia umumnya.

Kita seolah-olah dihidangi "metode kritik” lbnu Rusyd yang sangat komprehensif, mencakup dimensi teologis/kalam hingga sufistik, yang berhasil memetakan dengan baik bagaimana sebenarnya cara penalaran lbnu Rusyd dalam melihat setiap dimensi Islam. Penelitian yang sangat serius dari seorang pakar sejarah filsafat di Cairo University ini menghadirkan nuansa baru dalam melihat ketajaman dan keberanian lbnu Rusyd.

-

Antara Al-Ghazali dan Kant Filsafat Etika Islam karya Amin Abdullah

 

Di dunia Islam, siapa yang tak mengenal Imam Al-Ghazali. Ulama dan teolog besar dalam sejarah peradaban Islam. Hujjatul Islam bermazhab Syafi’i ini di kemudian hari memilih jalan sufi dan mewariskan banyak karya agung.

Adalah Immanuel Kant di belahan dunia Barat, pemikir terkemuka yang juga sangat luas pengaruhnya. Bahkan ia dianggap sebagai filsuf terbesar di antara para filsuf modern. Pemikiran dan pula karya-karyanya membawa angin revolusi yang sangat kuat hingga saat ini.

Nah, buku ini mengkaji inti sentral sistem pemikiran dua figur pemikir terkemuka yang pengaruhnya sangat kuat itu, yaitu tentang etika. Bagaimana teori etika Al-Ghazali dan bagaimana pula teori etika Kant, keduanya diteliti secara kritis. Sehingga dapat terurai benang merah persamaan dan perbedaan keduanya. Bahkan, Anda akan disuguhi pula konsekuensi praktis inti sentral sistem pemikiran keduanya terhadap bidang-bidang lain kehidupan manusia.

-

Ontosofi Ibn 'Arabi karya Fahmy Farid Purnama

 

Buku ini hadir justru dari sebuah ketidakmungkinan, sebuah batas, yang, seperti garis tepi, adalah akhir bagi satu ranah, tetapi sekaligus awal bagi ranah yang lain, yaitu ketidakmungkinan ontologi untuk berbicara tentang Wujud.

Ranah ontologi, dalam pengertian tradisionalnya, selalu berbatas dengan logos, dengan bahasa, dengan kata. Menyadari keberbatasan itu—sebagaimana juga Martin Heidegger pernah memaklumatkannya dengan satu tesis: "ontologi hanya mungkin sebagai fenomenologi"—Fahmy Farid Purnama segera mengevakuasi Wujud dari ranah ontologi ke ranah yang sama sekali lain, dan mungkin juga asing, yaitu ranah ontosofi: sebuah ranah yang mempertautkan ontos (ada) dengan sophos (kebijaksanaan).

Melalui ruang-ruang yang samar dalam ontosofi itulah, Fahmy Farid Purnama justru bisa memperjelas pemahaman Wujud yang asali dalam sufisme Ibn 'Arabi; memulangkannya dari belantara pemikiran ontologis yang reflektiffilosofis ke rumah asalnya di wilayah pengalaman yang prareflektifeksistensialis.

-

Filsafat Islam dari Klasik Hingga Kontemporer karya Achmad Kudori Soleh

Filsafat Islam bukan sekedar kajian tentang isme-isme dan aliran-aliran pemikiran metafisis, apalagi sekedar kajian tentang sejarah pemikiran lengkap dengan tokoh-tokohnya. Kajian filsafat mestinya mencakup lima bahasan pokok: metafisika, etika, estetika dan terutama epistemologi, disampaing sejarah. Hanya saja, bagian-bagian yang penting ini sering terlupakan sehingga kajian filsafat Islam tidak mengalamai kemajuan yang berarti, apalagi memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pemikiran Islam.

-

 

Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam karya Seyyed Hossein Nasr

 

Seyyed Hossein Nasr merupakan salah seorang tokoh dan “orang pertama” yang paling otoritatif dalam membicarakan kajian-kajian Timur, utamanya disiplin filsafat dan mistisisme Islam. Oleh karenanya, kita patut bersyukur bahwa Ach. Maimun Syamsuddin telah meluangkan waktu untuk menerjemahkan salah satu teks kunci filsafat Islam ini ke dalam bahasa kita secara bernas. Buku yang pada mulanya disampaikan sebagai bahan kuliah di Harvard University ini penting kita baca jika kita hendak memahami lebih mendalam tentang korpus filsafat Islam.

Penulis buku ini punya hipotesis menarik. Ia menyatakan bahwa filsafat Islam, pada prinsipnya, dapat diklasifikasikan ke dalam tiga madzhab utama: Madzhab Ibnu Sina, Madzhab Suhrawardi, dan Madzhab Ibnu ‘Arabi. Adapun percikan-percikan filsafat dari filsuf-filsuf Islam lainnya tak lebih hanyalah “catatan kaki” dari ketiganya. Maka, untuk mendalami filsafat Islam secara lebih detail, orang terlebih dahulu memahami secara benar buah pikiran ketiga filsuf tersebut. Dan, melalui karya ini, penulis hendak menuntun pembaca bertamasya ke taman filsafat Islam yang sesungguhnya yang lebih kompleks, rumit, dan membahagiakan.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: