Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Rekomendasi Bacaan Filsafat Terbaik yang Harus Dibaca Sebelum Meninggal

Oleh: Redaksi         Diposkan: 24 Feb 2021 Dibaca: 258 kali


Filsafat disebut-sebut sebagai ibu dari segala ilmu. Bahkan hampir setiap hal didedah oleh filsafat guna mengungkap kebenarannya. Dari politik hingga bahasa tak pernah luput dari perbincangan filsafat.

Kita mengenal filsafat membentang dari dunia Barat hingga Timur. Keduanya memberikan kekhasan dalam pemikiran. Membaca filsafat dan memahaminya, membantu kita menemukan kebenaran pada suatu hal yang kita ragukan. Menjawab pertanyaan yang muncul dari diri sendiri, dengan bantuan filsafat ialah cara menemukan jawaban yang arif dan bijak. Dan tentu saja, karena filsafat ialah ibu dari segala ilmu, ada beberapa karya klasik yang selalu dibaca untuk memahami filsafat.

Berikut adalah rekomendasi bacaan filsafat yang wajib kamu baca sebelum meninggal! Tentu bisa didapatkan di aplikasi, website, dan marketplace Berdikari Book!

Dunia Sophie - Jostein Gaarder

Dunia Sophie, seorang pelajar sekolah menengah berusia empat belas tahu. Suatu hari sepulang sekolah, dia mendapat sebuah surat misterius yang hanya berisikan satu pertanyaan: “Siapa kamu?”
Belum habis keheranannya, pada hari yang sama dia mendapat surat lain yang bertanya: “Dari manakah datangnya dunia?”
Seakan tersentak dari rutinitas hidup sehari-hari, surat-surat itu mempuat Sophie mulai mempertanyakan soal-soal mendasar yang tak pernah dipikirkannya selama ini. Dia mulai belajar filsafat. 

Civilization and Its Discontent - Sigmund Freud

KARANGAN penting ini, yang dikerjakan Freud selama musim panas 1929, mungkin adalah karya terbaiknya yang pernah dikenal. Buku ini adalah ikhtisar brilian dari pandangan-pandangan atas budaya, melalui sudut pandang psikoanalisis yang telah dikembangkan Freud semenjak awal penggantian abad. Peradaban dan Ketidakpuasannya (Civilization and Its Discontents, 1930) adalah gabungan berbagai hal sekaligus: suatu kilas balik sepintas dari The Future of an Illusion (1927), analisis dari ketegangan-ketegangan tak terelakan yang sedikit banyak membuat individu-individu menjadi musuh masyarakat, suatu meditasi atas kelesuan-kelesuan yang tampaknya menimpa begitu banyak manusia di peradaban modern ini. 

Namun, ini adalah buku seorang pskoanalis (kita harus ingat ini), dan berdiri sebagai sebuah kesaksian dan penghargaan atas teori terakhir tentang jiwa—apa yang disebut teori struktural (pertama kali diungkap dalam Beyond the Pleasure Principle tahun 1920, dan The Ego and the Id tahun 1923)—dengan penekanannya terhadap tindak-tindak agresi, dorongan atau rangsangan kematian, sebagai musuh berat Eros.

Anarkisme Apa yang Sesungguhnya Diperjuangkan - Emma Goldman 

Anarkisme berkata kepada manusia, hancurkan belenggu mentalmu, hingga kamu berpikir dan menilai bagi dirimu sendiri, dengan demikian barulah kamu akan menyingkirkan kekuasaan kegelapan, rintangan terbesar terhadap segala kemajuan. 

Sebagai orator anarkisme, agitator bagi kebebasan berbicara, pelopor dalam masalah kontrol kelahiran, kritikus bagi Bolshevik dan seorang pembela Revolusi Spanyol, Goldman disebut sebagai satu dari perempuan yang dianggap paling berbahaya pada masanya. Bahkan setelah kematiannya, reputasinya tidak dilupakan orang. — Peter Marshall

Tentang Pesimisme - Arthur Schopenhauer

Pesimisme adalah sebentuk pilihan hidup. Ia tidak dapat dijustifikasi sebagai sebuah keadaan mental yang sakit ataupun disposisi psikologis. Sama halnya dengan optimisme, pesimisme adalah sebuah pilihan untuk melihat dan menilai dunia dengan cara yang berbeda, dari sudut pandang yang lain, yang rumit, yang penuh risiko, bahkan mungkin mengerikan.

Pesimisme boleh jadi merupakan sebuah keniscayaan hidup yang begitu absurd. Oleh karenanya, ia bisa dibilang sebagai sebuah kejujuran naif. Hidup memang seperti ini, apa yang dapat kita lakukan selain hanya menerimanya?

“Dari setiap peristiwa dalam hidup, kita dapat mengatakan untuk sesaat bahwa beginilah adanya; sedangkan untuk yang telah berlalu lama, demikianlah adanya.” 
~Schopenhauer

 

Zarathustra Nietzsche - Friedrich Nietzsche 

Friedrich Nietzsche (1844-1900) adalah filsuf modern yang paling disalah mengerti dan digambarkan dengan keliru. Ungkapannya “Tuhan telah mati”, kekerasan hatinya bahwa makna kehidupan harus dicari dalam kerangka-kerangka manusiawi sepenuhnya. Doktrinnya tentang manusia-unggul, dan kehendak untuk kuasa, semua diambil alih dan diputarbalikkan, diputarbalikkan antara lain oleh para intelektual nazi.

 

Zarathustra adalah satu pengembaraan spiritual menjelajahi dunia modern. Oleh karena itu, buku ini memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi kita dalam memberi penilaian atas seorang pemikir orisinal yang cemerlang, yang pengaruhnya sangat besar terhadap para penulis abad kedua puluh, seperti Franz Kafka, W.B. Yeats, Andre Gide, Bernard Shaw, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, dan Iqbal.


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: