Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Rekomendasi Bacaan Melepas Penat Sebelum Tidur

Oleh: Redaksi         Diposkan: 06 Jan 2021 Dibaca: 313 kali


Kondisi bumi dan dunia akhir-akhir ini mengapit manusia dalam kebosanan, kepenatan dan kesedihan menahun yang ingin sekali berhenti. Kondisi-kondisi ini menyebabkan kita senantiasa berangan agar hidup memiliki imajinasinya, untuk sekadar melarikan diri dari kondisi nyata dengan sajian pakta bahwa hidup kita hanyalah sebatas dan terbatas. Menghidupi imajinasi adalah memenangkan diri dari segala kekalahan yang hadir beruntun.

 

Buku tidak jarang menjadi alat bagi manusia untuk berlarian dalam angan dan pikirannya, membentuk dunia dengan segala konflik, cita, dan cinta di dalam otaknya. Sebuah dunia dihadirkan dalam pikiran, sebelum dunia yang dipijaknya berantakan sambil ia terus rebahan.

 

Buku-buku ini pantas dibaca sebelum tidur untuk melepas penat:

 

Yang Tersisa Usai Bercinta karya Cep Subhan KM

Yang Tersisa Usai Bercinta. Pandu dan Anjani, pasangan muda yang tampak sempurna. Wanda, sahabat yang tampak baik-baik saja. Ustaz Jamal, penceramah yang tampak tanpa cela.   

 

Novel ini adalah kisah tentang hal-hal tersembunyi di balik segala yang tampak. Kehidupan disodorkan bukan sebagai surga di bumi, melainkan sebagai adonan ganjil mistisisme dan logika yang diaduk usai bercinta. Sepanjang waktu yang tersisa, angka-angka bergerak cergas dikendalikan sekaligus mengendalikan, sesekali menyisipkan kesalahpahaman ke dalam keyakinan manusia.

 

 

Kiat Kiat Menyembuhkan Lara karya Niskala & Asef Saeful Anwar

Dua orang penyair yang penuh cinta dan kasih sayang dan kondang ini sudah Mimin kenal sejak lama. Mereka berdua orang yang asyik, penuh kejutan, wawasan, dan karenanya Mimin merasa beruntung ditakdirkan bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka.

 

Proses kreatif keduanya sudah berjalan sedemikian panjang, hingga akhirnya puisi pula yang mempertemukan keduanya, puisi pula yang mengikat jiwa keduanya dengan tali cinta.

 

 

Pendidikan Jasmani dan Kesunyian karya Beni Satryo

Pendidikan Jasmani dan Kesunyian. Puisi-puisi Beni Satryo, buat saya, telah mampu menghadirkan kecemasan atas kenyataan—juga atas kesunyian itu sendiri. Ia menyusunnya dengan kata, benda, dan fenomena yang telah menjadi kebiasaan kita. Beni jelas telah mengusik pembaca dengan persepsi dan dunia yang ingin coba ia bangun.

 

Di antara puluhan puisinya, Duri Dalam Daging secara khusus telah berhasil mengusik kejumudan saya atas pengalaman melahap pecel lele:

“Semerbak wangi terpal.

Aroma tubuh yang hancur.

Dikoyak badai pecel lele.

Temukan penunjuk arahmu.

Kesetiaan adalah daun kemangi

di dalam baskom pengkhianatan

yang penuh dengan keruh air kobokan.”

Sekali lagi, pengalaman apa yang sudah dilalui Beni untuk mampu memberikan persepsi serupa atas daun kemangi di dalam baskom?

 

 

Dekat dan Nyaring karya Sabda Armandio

Dekat dan Nyaring menceritakan satu hari dalam kehidupan penghuni Gang Patos, sebuah kampung berbatas sungai dengan legenda menggentarkan—semisal salah seorang penghuni lamanya adalah laki-laki bernama Beni Satria yang mencangkok kepalanya sendiri dengan roda gigi sehingga otaknya dapat berputar jauh lebih lancar ketimbang manusia biasa.

 

Gang Patos sudah ditinggalkan oleh hampir semua penghuninya. Mereka yang tersisa adalah Edi, pemilik warung yang menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai daging ular asap sampai rajangan ganja palsu; Nisbi, janda seorang polisi, yang menyimpan cerita masa lalu yang selalu ia rahasiakan dari anak tunggalnya; Wak Eli, yang pada masa mudanya pernah menjadi figuran film Balada Cewek Jagoan dan menyaksikan Cok Simbara berkelahi, dan pada masa senjanya mesti mengasuh Aziz, anak semata wayangnya yang kecerdasan mentalnya tertinggal sepuluh tahun dari usia sebenarnya; Idris, penjual regulator tabung gas yang selalu menguarkan aroma lavender; Kina, istri Idris, yang memiliki alasan tersembunyi tinggal di sana, alasan yang hanya diketahui penghubungnya dengan dunia luar: seorang pengendara motor bermulut sengak bernama Dea Anugrah.

 

Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan


 

Dia seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk sholat, baca al-quran dan berdzikir. Dia memilih hidup yang sufistik yang demi ghirah kezuhudannya kerap dia hanya mengkonsumsi roti ala kadarnya di sebuah pesantren mahasiswa. Cita-citanya hanya satu: untuk menjadi muslimah yang beragama secara kaffah.

 

Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat islam di Indonesia yang di idealkannya bisa mengantarkannya berislam secara kaffah ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup. Berkali-kali di gugatnya kondisi itu tapi hanya kehampaan yang hadir. Bahkan Tuhan yang selama ini dia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab dan emoh menjawab keluhannya.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: