II Potongan 30% all item untuk pembelian minimal 300.000. Kupon: RADICAL

Masih Kosong

Rekomendasi Bacaan Politik Pilihan

Oleh: Redaksi         Diposkan: 18 Feb 2021 Dibaca: 292 kali


Politik selalu seru, baik saat dibabas di warung kopi, perpustakaan, bahkan di bawah meja. Sebab keseharian yang memilukan, kita mengetahui bahwa politik itu kotor, amis, dan cenderung dekat dengan pengertian kekuasaan. Tapi apakah benar demikian? Bagaimana jika melihat dan membaca politik berdasarkan ontologi dan epistemologinya?

Menurut Aristoteles, politik adalah usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama. Namun apa betul? Jika kita tarik pengertian tersebut ke kehidupan kini, mungkin jawabannya hanya untuk oligarki. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa ada pihak yang mengubah arah pengertian politik menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Bisa jadi, dengan membaca buku-buku tentang politik kita jauh lebih mafhum mengenai politik.

Literasi Politik karya Gun Gun Heryanto

Buku ini berupaya menghadirkan kajian seputar literasi politik. Tema ini sangat penting, terkait dengan konteks politik Indonesia yang sedang mengonsolidasikan demokrasinya pascabergulirnya reformasi pada tahun 1998. Tentu, transformasi kesejarahan Indonesia sebagai negara demokratis harus didokumentasikan, dideskripsikan, dianalisis, dikritik, dan diberikan masukan secara terus-menerus agar kondisinya terus membaik dan konsolidatif.

Benang merah buku ini terletak pada kajian tentang urgensi literasi politik di tengah ragam persoalan dalam proses dan tahapan penyelenggaraan kontestasi elektoral. Pada Pemilu 2019, kali pertama dalam sejarah politik Indonesia, Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif digelar serentak dalam waktu bersamaan. Tentu saja masih banyak memunculkan kekurangan yang harus kita perhatikan dan diberi sejumlah masukan konstruktif. Pun demikian, dengan penyelenggaraan Pilkada serentak. Misalnya, Pilkada serentak 2015, 2017, dan 2018 yang sudah dilalui bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

Literasi politik bukan semata tentang pengetahuan, melainkan juga tentang skill atau keterampilan dalam mengakses, mengkomparasikan, dan mengomunikasikannya kepada orang lain. Hal lain, yakni sikap politik warga negara yang lebih otonom dan berlandaskan keajekan nalar. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si. (Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta)

 

Lara Tawa Nusantara karya Fatris MS

Indonesia tidak semata bisa terdefinisikan lewat carut-marut politik dan gejolak ekonomi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Tidak. Indonesia adalah juga pelosok, daerah-daerah terpencil dan terlupakan walau di atlas dan Google Map namanya terpampang, tetapi kita tidak tahu banyak tentangnya.

Indonesia, juga adalah wilayah-wilayah yang kini seakan asing, pulau-pulau terpencil yang jauh dari radar Jakarta, yang kerap dianaktirikan oleh pembangunan, tempat-tempat yang jarang diberitakan media, yang tidak terdengar dan tidak bersuara, wilayah-wilayah yang terdepak dan kerap disebut sebagai “Indonesia yang merana”.

Buku ini mencoba melihat Indonesia dari tempat-tempat yang jauh dan gamang.

 

Apa yang Dilakukan Pemerintah terhadap Uang Kita? karya Murray N. Rothbard

Apa itu uang, hakikatnya dan bagaimana kemunculannya pertama kali, dalam peradaban? Apa itu inflasi dan apa penyebab sejatinya? Berapa pasokan uang yang tepat bagi sebuah negara? Bagaimana cara kerja perbankan? Apa tujuan utama bank sentral? Bagaimana masa depan sistem moneter? Dan pertanyaan terpenting: Apa sebenarnya peran negara dalam sistem moneter? Dijawab lugas oleh buku ini: tidak ada sama sekali! 

Itulah pertanyaan-pertanyaan mendasar--yang umumnya luput dari pemahaman awam, termasuk para pakar, bankir, ekonom, bahkan penentu kebijakan moneter-- yang dikupas tuntas dalam buku kecil -pengantar ekonomi uang- yang komprehensif ini, karya Prof. Murray N. Rothbard, salah satu tokoh besar pemikir dan mazhab Austria, sebuah mazhab yang telah lama dilupakan dunia, terabaikan oleh gelombang arus utama. 

Dari awal hingga halaman terakhir buku ini sarat dengan telaah praksiologis yang tidak dijumpai dalam kebanyakan buku teks ekonomi: sebuah paradigma pemikiran ekonomi yang sepatutnya diapresiasi dan terbuka untuk diuji apakah dia mampu mendekatkan kita kepada kebenaran.

Buku kecil ini memperkenalkan pemikiran Mazhab Austria: Landasan dan latar belakang historisnya, ciri utama, metodologi, tokoh-tokoh utama, dan sejumlah perspektif dari puncak-puncak terbaik pencapaiannya.

 

Masalah-Masalah Demokrasi dan Kebangsaan Era Reformasi karya Syamsuddin Haris 

Demokrasi memang memberi ruang yang lebar bagi setiap kelompok, golongan, dan identitas asal untuk mengaktualisasikan diri. Namun, ruang eksperesi tersebut bisa menjadi ancaman serius bagi kemajemukan jika melampaui proporsinya. Apalagi ketika pada saat yang sama negara-yakni para elite penyelenggara negara-bukan hanya tidak memiliki koridor yang jelas dan instrumen kebijakan yang adil untuk itu, melainkan juga cenderung bersikap ambigu.

Di satu pihak, keberagaman kultural diakui dan bahkan dipidatokan berapi-api; di pihak lain, ketika premanisme, tindak kekerasan massa dan anarki melukai dan mencederai keberagaman, negara acap absen, dan kalaupun hadir cenderung bertindak diskriminatif dan tidak netral dalam mengatasinya.

Betapa sia-sianya kita berdemokrasi jika sekadar untuk "merayakan" tindak kekerasan dan anarki. Terlalu besar ongkos politik yang harus ditanggung bangsa ini apabila para penyelenggara negara di semua tingkat terus menerus tergagap dan bahkan gagal mengelola keberagaman hanya karena kepentingan picik kekuasaan.

Begitu rendah kualitas moral dan tanggung jawab elite penyelenggara negara jika setiap kali muncul peristiwa serupa hanya bisa mengutuk, menyesalkan, dan mencopot pejabat tingkat menengah hingga rendah, sementara mereka yang seharusnya bertanggung jawab bisa "tidur nyenyak" di atas kasur empuk kekuasaan.

 

Ideologi-Ideologi Politik Kontemporer karya Roger Eatwell & Anthony W 

Ideologi ideologi Politik Kontemporer. Buku ini menempatkan ideologi sebagai pemikiran sebagai kekuatan pendorong utama dalam sejarah. Para penulis berusaha membantu pembaca dalam memahami ideologi-ideologi politik dengan meng-analisis ciri, ketegangan, dan kontradiksi serta menunjukkan betapa sulitnya menarik garis pemisah yang jelas di antara "isme-isme” yang penting. "Konservatisme liberal” atau "sosialisme feminist, misalnya, tidak dengan sendirinya merupakan pengertian yang saling bertentangan atau kumpulan beragam ide. Tugas penting para analis ideologi adalah membedakan inti dengan kulit, menggali makna, dan menggambarkan dinamika konsepsi dan kepercayaan yang berubah.

Walaupun fokus utama buku ini adalah abad ke-20, para penyumbang tulisan diminta menelaah perkembangan ideologi sebelum 1900 guna membantu memberikan penekanan pada asal usul ideologi dan bagaimana ideologi beradaptasi terhadap konteks-konteks sejarah yang telah berubah. Di akhir masing-masing bab, para penulis mengkaji milenium baru. Namun, buku ini sesungguhnya juga bukan merupakan karya futurologi, terutama di kancah dunia. Buku ini berisi ideologi-ideologi di Barat, meskipun dimasukkannya satu bab mengenai Islam dan fundamentalisme mempertegas keberadaan sistem kepercayaan lain (yang sering kurang dipahami di Barat).

Pada ujung 1990-an, Francis Fukuyama menangkap suasana waktu itu dengan mencanangkan “akhir sejarah”, yaitu kemenangan liberalisme dan kapitalisme di panggung jenjang dunia atas komunisme dan kekuatan-kekuatan ”totalitarian” lainnya. Tapi, di awal milenium baru, banyak pengamat di Barat kurang yakin dengan pandangan tersebut.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: