Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Rekomendasi Bacaan Sains Populer

Oleh: Redaksi         Diposkan: 19 Jan 2021 Dibaca: 216 kali


Banyak orang mengira bahwa membicarakan sains adalah membicarakan hal-hal yang berat dan tidak membumi. Namun, lambat laun hal tersebut berganti seiring waktu. Membicaraka sains adalah membicarakan hal yang menyenangkan. Dengan membicarakan sains pemahaman kita akan kondisi dunia lebih terasah, pengetahuan kita akan semesta seperti sedang kita lihat sendiri menggunakan kacamata yang diperoleh dari buku-buku.

 

Namun, tentu saja sains tak jarang dibicarakan dengan salah kaprah dengan menautkan ke berbagai hal dengan serampangan, jadilah pseudo-sains merebak ke banyak orang dan dipahami sebagai sebuah kebenaran. Lantas, bagaimana kita memulai untuk membicarakan sains? Tentu saja dengan membaca buku-buku yang sudah diterbitkan dan seringkali menjadi cara berkenalan yang menawan terhadap sains. Membaca buku-buku sains populer adalah salah satu cara menyenangkan mendekatkan diri pada pengetahuan.

 

Berikut adalah rekomendasi bacaan untuk penggemar sains populer:

 

Sumbangsih Darwin untuk Sains dan Agama karya Francisco Jose Ayala 

Pertentangan antara kaum agamawan dan Darwinian seolah tak bisa didamaikan. Keduanya bagai musuh bebuyutan. Menurut kaum agamawan, teori evolusi Charles Darwin yang mengatakan bahwa manusia merupakan “tahap akhir” dari evolusi primata, wajib ditolak karena bertentangan dengan wahyu Tuhan.


Sementara, menurut kaum Darwinian, teori evolusi diturunkan bukan dari abstraksi, melainkan hasil dari observasi ilmiah yang direkonstruksi menurut metode saintifik yang mapan, sehingga tak bisa dibatalkan, bahkan oleh wahyu sekalipun. Akibatnya, lahirlah ekses yang kontra produktif, seperti kebijakan pelarangan pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah negeri oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1968, atau gerakan perlawanan terhadap teori evolusi Seventh-day dan Pantecostalism.


Atas dasar itulah, Francisco J. Ayala, seorang filsuf cum biolog, menulis buku ini. Dengan ringkas dan sederhana, buku ini menyatakan bahwa sains dan keyakinan keagamaan tidak harus bertentangan. Jika sains dan agama dipahami secara tepat, maka keduanya tidak mungkin bertentangan, karena terkait dengan masalah yang berbeda.


Sains lebih berkaitan dengan proses-proses penjelasan tentang alam semesta, seperti bagaimana planet-planet bergerak, kompoisisi materi dan atmosfernya, atau asal mula dan fungsi organisme. Sedangkan agama lebih berkaitan dengan makna dan tujuan dari dunia serta kehidupan manusia, seperti hubungan yang sesungguhnya antara manusia dengan Sang Pencipta dan sesamanya, serta nilai-nilai moral yang mengatur kehidupan masyarakat.

 

Sains dan Agama karya Albert Einstein

Meskipun agama dan sains saling bertentangan, tapi ada hubungan timbal balik dan saling ketergantungan yang kuat di antara keduanya. Meskipun memang agama yang menentukan tujuan-tujuan fundamental bagi manusia, tapi bagaimanapun, agama telah belajar dari sains, dalam arti luas, tentang sarana-sarana yang berkontribusi pada pencapaian tujuan-tujuan mendasar yang telah ditetapkan, sementara itu sains hanya dapat diciptakan oleh mereka yang sepenuhnya diilhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, bagaimanapun, memancar dari ranah agama. Selain itu, ada kepercayaan pada kemungkinan bahwa tatanan yang valid bagi dunia eksistensi ini adalah rasional, yakni dapat dipahami dengan nalar. Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa iman yang mendalam semacam itu. Situasi ini dapat diungkapkan oleh sebuah gambaran: sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta.

 

21 Lessons 21 Adab untuk Abad ke-21 karya Yuval Noah Harari

 

Di dunia yang dibanjiri oleh informasi yang tidak relevan, kejelasan adalah kekuatan. Secara teori, siapa pun dapat bergabung dengan perdebatan tentang masa depan kemanusiaan, tetapi sangat sulit untuk mempertahankan visi yang jelas. Seringkali, kita bahkan tidak memperhatikan bahwa perdebatan sedang berlangsung, atau apa persoalan utamanya. Miliaran dari kita hampir tidak mampu untuk melakukan penyelidikan, karena kita memiliki banyak hal mendesak untuk dilakukan: kita harus pergi bekerja, merawat anak-anak, atau merawat orang tua yang lanjut usia. 

Sayangnya, sejarah tidak memberikan diskon. Jika masa depan umat manusia ditentukan dalam ketiadaan Anda, karena Anda terlalu sibuk memberi makan dan pakaian anak-anak Anda –maka Anda dan mereka tidak akan dibebaskan dari konsekuensinya. Ini sangat tidak adil; tapi siapa bilang sejarah itu adil?

The God Delusion karya Richard Dawkins 

The God Delusion menimbulkan sensasi ketika diterbitkan pada tahun 2006. Dalam beberapa minggu buku ini menjadi topik yang paling hangat diperdebatkan, dengan Dawkins sendiri dicap sebagai orang suci sekaligus pendosa karena menyajikan bantahannya yang keras dan berapi-api atas segala jenis agama.

 

Argumennya sangat topikal. Sementara Eropa menjadi semakin sekuler, kebangkitan fundamentalisme agama, baik di Timur Tengah ataupun di Amerika Tengah, secara dramatis dan berbahaya memecah-belah opini di seluruh dunia. Di Amerika, dan di tempat lain, perselisihan sengit antara 'intelligent design' dan Darwinisme secara serius merongrong dan membatasi pengajaran sains. Di banyak negara, dogma agama dari abad pertengahan masih berfungsi untuk melecehkan hak asasi manusia seperti hak-hak perempuan dan gay. Dan semua itu berasal dari keyakinan pada Tuhan yang keberadaannya tidak memiliki bukti apa pun.

 

Dawkins menyerang Tuhan dalam segala bentuknya. Dia menelanjangi argumen utama agama dan menunjukkan kehampir-mustahilan tertinggi bagi keberadaan Sosok Tertinggi. Dia menunjukkan bagaimana agama-agama memicu perang, memicu kefanatikan dan melecehkan anak-anak.

 

The God Delusion adalah polemik menarik yang diperdebatkan dengan brilian yang akan menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang tertarik pada tema yang paling emosional dan penting ini.

 

Polemik Sains karya Goenawan Muhammad

 

Polemik Sains. Ada satu percakapan yang melibatkan Einstein di Princeton tahun 1946. Para saintis ditanya, “Anda bisa membuat bom atom. Bisa menelaah struktur atom, tapi tidak bisa men-device secara politik, yang membikin atom tidak merusak kita?”

 

Einstein menjawab, “Itu sederhana. Sebab politik lebih susah daripada fisika.”

 

Einstein tidak mengglorifikasi sains. Dan memang tidak sepatutnya diglorifikasi. Dalam banyak hal, sains itu pemilik problem. Dan itu bukan soal baru. Sains itu prestasinya luar biasa dan karena itu memperoleh otoritasnya.

 

Dalam pemikiran mutakhir, sejak abad ke-19, mulai ada kritik terhadap sains. Martin Heidegger mengatakan, “Science doesn’t think.”

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: