Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Relasi Agama dan Teori Sosial Kontemporer Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen

Membincangkan masalah nasionalisme dalam kerangka globalisasi kontemporer merpakan relasi yang unik. Globalisasi secara sederhana meniadakan batas-batas teritorial nation state yang kemudian akan dikulminasikan dalam satu wadah besar yang dipercaya akan mengalirkan kesejateraan bersama bagi negara-negara di dunia. Sedangkan, nasionalisme secara harfiah dimaknai sebagai bentuk penegasan suatu nation state di mana terdapat teritorial, simbol, maupun penduduk sebagai sebuah entitias.

Dengan masih menguatkan menguatnya nasionalisme dalam era globalisasi kontemporer, hal ini tidak terlepas dari berbagai macam skeptisme yang muncul terhadap operasionalisasi globalisasi sekarang ini. Hal itu kemudian akan berkelindan dengan relasi negara maju maupun negara berkembang yang belum sepenuhnya adil seperti yang ada dalam pengertian globalisasi normatif.

Dalam buku ini, relasi nasionalisme dan globalisasi akan dikaji dalam tiga sudut pandang utama , yakni kedaulatan, kebangkitan lokal, maupun sentimen religi. Ketiga faktor tersebut bisa dilihat sebagai relasi responsif dalam hubungan nasionalisme dan globalisasi.

Selamat Membaca dan Merdekalah...
 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sosial dan Politik
ISBN : Wasisto Raharjo Jati
Ketebalan : ix+169 hlm | HVS
Dimensi : 15x23 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Pustaka Pelajar
Penulis: Syafuan Rozi Soebhan
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by