Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Religiositas: Aforisma Nietzsche dan Rabi’ah al-Adawiyah

Oleh: M. Fauzi Sukri         Diposkan: 18 May 2019 Dibaca: 1629 kali


/1/

Rabi’ah dan Nietzsche: ada satu kisah yang hampir mirip secara naratif, tapi tampak sekilas berlawanan. Konon sang sufi perempuan Rabi’ah (185 H/801 M) pernah dikisahkan melakukan tindakan (metaforis) yang kelak bahkan sampai sekarang menjadi kisah yang paling menakjubkan dalam sejarah pemikiran sufistik Islam.

Pada suatu hari, konon, Rabi’ah membawa obor di tangannya dan menentang seember air di tangan sebelahnya. Dia berlari dengan cepat, menuju kerumunan massa, dengan ekspresi mencari sesuatu yang menakjubkan nan misterius. Orang-orang bertanya-tanya atas peristiwa yang menakjubkan itu. Dan kita tahu jawaban Rabi’ah yang termasyhur sampai sekarang:

“Aku akan membakar surga dan menyiramkan air ke dalam neraka, agar kedua hijab (yang menjadi penghalang untuk melihat Allah secara benar) sama sekali akan hilang bagi mereka yang beribadah, dan tujuan mereka menjadi pasti, serta hamba-hamba Allah akan bisa melihat-Nya tanpa disertai perasaan ingin atau perasaan takut. Bagaimana jadinya bila perasaan ingin masuk surga dan perasaan takut neraka tidak ada? Tak akan ada orang yang beribadah dan taat kepada-Nya.”

/2/

Kisah perempuan pembawa obor dan air itu adalah kisah keikhlasan yang paling puncak dalam sejarah pemikiran sufistik Islam. Surga, apa pun wujud kebahagiaan atau kenikmatan atau apa pun pelayanannya yang disediakan, adalah sungguh tidak penting bahkan berbahaya, kata Rabi’ah. Surga wajib dibakar hangus! Agar ia tidak menjadi pamrih utama dalam beribadah kepada Tuhan.

Neraka, apa pun bentuk penyiksaannya dan sebetapa pun perih menyayat jiwa raga, ia harus dipadamkan dengan air. Biar tak ada secuil ketakutan dalam diri manusia pada neraka yang bakal memalingkannya dari Allah. Puncak beribadah adalah saat hati-pikiran-raga menyenyahkan eksistensi surga dan neraka, lalu hanya dan hanya menghadap Allah. Itulah ikhlas semurni ikhlas dalam beribadah.

Namun, dua gagasan yang sangat mendasar itu justru dipertanyakan oleh Rabiah sendiri: “Bagaimana jadinya bila perasaan ingin masuk surga dan perasaan takut neraka tidak ada? Tak akan ada orang yang beribadah dan taat kepada-Nya.” Tanpa surga dan neraka, yang terjadi adalah wabah ateisme!


Ada sejenis realisme dalam pemikiran Rabi’ah bahwa manusia, yang bukan malaikat atau makhluk lain siapa pun, selalu terjatuh pada pamrih yang ada dalam dirinya sendiri. Keikhlasan murni adalah utopia religius yang tak pernah ada dalam sejarah umat manusia. Pemaksaan pada peribadatan yang murni akan menghasilkan satu efek yang sangat tajam: “Tak akan ada orang yang beribadah dan taat kepada-Nya.” Neraka dan surga menjadi elemen iman agama Ibrahimi, betapa pun ia adalah sebentuk ironisme keikhlasan.

Yang perlu dicatat dari aforisme Rabi’ah: betapa kuat dan dalamnya keyakinan pada Allah, tanpa secuil pun keraguan apalagi hasrat kecil untuk mengingkarinya. Itu adalah abad iman. Tapi, Rabi’ah sangat sadar bahwa peribadatan kepada Tuhan tanpa memberikan hak berpamrih bagi manusia justru akan menghasilkan Tuhan yang tak lagi disembah manusia.

/3/

Dalam satu kisah aforisma yang sangat terkenal di buku yang mulai ditulis pada 1881-1882, Pengetahuan yang Mengasyikkan (La Gaya Scienza), Nietzsche berkisah:


Si orang sinting. Pernahkah kalian mendengar kisah tentang orang sinting, yang menyalakan lentera pada siang hari bolong, berlarian ke pasar dan berteriak-teriak tanpa henti ‘Saya mencari Tuhan! Saya mencari Tuhan!’—Dan karena persis di sana terkumpul banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan, orang sinting itu mengakibatkan gelak tawa yang meriah. Apakah kita kehilangan Tuhan?, kata yang satu. Apakah Tuhan tersesat seperti anak kecil?, kata yang lainnya lagi. Atau mungkin dia sudah pergi? Apakah dia sudah beremigrasi?—demikianlah mereka berteriak-teriak dan tertawa sekaligus.”

Si orang sinting dalam kisah aforisme itu adalah termasuk manusia langka yang masih percaya pada Tuhan. Seperti Rabi’ah, dia membawa lentera, tapi justru di siang hari. Ini adalah metafor dari kehidupan sosial-budaya yang diterangi oleh kedigdayaan sains. Tapi, bersamaan dengan itu, mewabah ketidakpercayaan kepada Tuhan.

Berbeda dengan orang-orang yang ditemuai Rabi’ah yang masih percaya adanya Tuhan tapi penuh pamrih dalam berbibadah, yang ditemui “si orang sinting” pembawa lentera di siang hari adalah “orang yang tidak percaya pada Tuhan”. Atau, kalau pun masih percaya, Tuhan tidak begitu menjadi pertimbangan utama dalam berbagai keputusan hidup manusia. Dalam wabah ateisme itu, si orang sinting adalah pengecualian yang aneh juga ganjil.

Sepantasnya, si orang sinting menuduh orang-orang ramai yang telah meledek, mencemooh, dan menertawainya telah membunuh Tuhan. “Orang sinting itu,” lanjut Nietzsche, “segera mendatangi orang-orang tersebut dan memandang tajam mereka ‘Di mana Tuhan,’ teriaknya. Aku akan mengatakan kepada kalian. Kita telah membunuhnya—kalian dan saya. Kita semua adalah pembunuhnya.”

Namun, pertanyaan tegas itu bertubi-tubi dipertanyakan justru oleh si orang sinting sendiri, dengan sangat tegas, tajam sekali, begitu mendalam, bahkan sampai-sampai pernyataan dan pernyataan itu demikian tajam disanggah.

Dan setelah tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan dan sanggahannya, Nietzsche seakan mengakhiri kisah si orang sinting: “Akhirnya si orang sinting itu melemparkan lenteranya ke tanah sehingga pecah dan padam. ‘Saya datang terlalu awal, katanya kemudian, waktuku belum tiba. Kejadian dahsyat itu sedang berjalan, dan dalam perjalanan. Ia belum sampai ke telinga manusia-manusia...” Kemudian, si orang sinting pergi ke gereja dan bernyanyi sendirian untuk kematian Tuhan (Requiem aeternam Deo) yang telah diklaimnya sendiri. Tentu saja, dia diusir dari gereja.   

/4/

Nietzsche, dalam beberapa karyanya, menjadi pengkritik Katolik yang tajam. Tapi, banyak sekali yang justru membacanya dan mengapresiasinya baik dari cendekiawan Katolik termasuk dari kalangan cendekiawan dan filosof muslim modern. Ada pesan yang tajam dan semakin aktual dari pemikiran-pemikiran Nietzsche tentang agama. Apa yang diprediksi oleh si orang sinting tentang pengabaian terhadap Tuhan, ada pembenaran objektifnya di Eropa atau Amerika Serikat yang semakin nyata. Hal-hal itu tidak begitu mengejutkan, sebagaimana sudah diprediksi juga oleh Rabiah al-Adawiyah.

Sains modern, yang sangat memfondasikan objek ilmunya pada tataran dunia material, memang menjadi kritik tertajam terhadap metafisika klasik yang diandaikan menjadi fondasi pemikiran keagamaan. Tak ada surga atau neraka dalam sains modern, sebagaimana diajarkan dari sekolah dasar sampai perguruan tertinggi. Tapi, bukan berarti menghancurkan total pemikiran tentang ketuhanan. Sejauh ini, secara oposisional, pemikiran perihal keberadaan Tuhan masih bisa dianggap berimbang. Ada yang percaya dan ada yang menolak, dengan argumentasi yang sama-sama kuat.

Dari dua arus yang sangat tajam itu, orang-orang beragama di zaman kita seakan ketakutan tertular wabah ateisme. Yang beriman semakin menampakkan dirinya dengan atribut identitas eksoteristik keagamaan yang semakin tajam dan seakan menampik berbagai persamaan religius yang lebih esoteris. Eksklusivitas identitas agama dipertajam sedemikian rupa agar tampak semakin religius. Gerak-gerik religiositas ini menjadikan agama semakin ketat dan penuh kekangan, mencurigai kebebasan beragama sebagai bibit penghancuran agama, dan berbagai larangan dan larangan yang bersifat ragawi semakin mengisi aktivitas beragama.

Dalam eksklusivitas identitas keagamaan itu, orang-orang kemudian seakan dipaksa mempunyai satu pilihan oposisional: menyembah Tuhan yang meminta seluruh diri si manusia atau membiarkan seluruh diri manusia berhidup tanpa Tuhan. Seperti diprediksi Rabi’ah, dua pilihan ini sama-sama tidak menguntungkan manusia dengan segala akibatnya di dunia dan akhirat. Bagi orang-orang menghadapi Tuhan sebagai wujud kekangan, kekerasan, ancaman ragawi di dunia bahkan di akhirat, ia akan lebih enteng melepaskan Tuhan. Semua itu, seperti diamati Nietzsche dan diakui Rabi’ah, justru membuat orang enteng mengabaikan Tuhan.

Sekali lagi, kita ingat pertanyaan dan jawaban Rabi’ah: “Bagaimana jadinya bila perasaan ingin masuk surga dan perasaan takut neraka tidak ada? Tak akan ada orang yang beribadah dan taat kepada-Nya.” Dalam pertanyaan dan jawaban ini, Ribi’ah sadar: kita harus memberikan ruang bagi pamrih manusia dalam beragama, jangan terlalu memaksa ikhlas absolut pada manusia apalagi sampai menggunakan kekerasan ragawi, lagi pula Tuhan tidak rugi-rugi amat jika tidak disembah manusia.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: