Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Remah - Remah Bahasa: Perbincangan dari Luar Pagar Renjana Kumpulan Cerita

Rembang Melawan (#Rembang Melawan)

Dwi Cipta
Stock: Tersedia

Kategori : Sosial dan Politik

#RembangMelawan adalah istilah populer di media sosial (med sos) begitu konflik warga penolak tambang dengan PT Semen Indonesia meledak. Istilah ini muncul sebagai reaksi dari perlawanan ibu-ibu Rembang yang ratusan hari tinggal di tenda perjuangan sebagai protes atas rencana pertambangan di pegunungan Kendeng. Tidak hanya di media sosial, lahirnya ratusan bentuk solidaritas di berbagai daerah membuat konflik lingkungan di rembang menjadi masalah nasional yang semakin serius dan melibatkan semakin banyak pihak. 

Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang ditulis oleh beberapa orang dengan latar belakang beragam, mulai dari akademisi, aktivis, jurnalis, hingga para peneliti yang kredibilitasnya tidak diragukan lagi. Sebagian besar penulis ini merupakan figur-figur yang sejak lama gelisah dengan fenomena pengerukan sumber daya alam yang makin tidak terkendali.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sosial dan Politik
Ketebalan : xii + 255 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Literasi Press
Penulis: Dwi Cipta
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by