Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Revolusi Telah Mati (?)

Oleh: Robi Mardiansyah         Diposkan: 14 Oct 2018 Dibaca: 1145 kali


Revolusi telah mati; semangatnya menjerit di hutan belantara… —Alexander Berkman

 

Berkman menyerah. Ia memilih jalannya sendiri. Ke sebuah gerowong yang tak sepenuhnya sunyi, dan gelap hanya sementara. “Ia melakukan apa yang selalu ia katakan akan dilakukannya: ia segera mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri”. Seketika utopia itu bertukar dengan melankolia.

Utopia bukanlah sesuatu yang harus diuji – ia betul-betul bukan sebuah parafrase, alih-alih istilah yang sepenuhnya punya bunyi. Bila ia adalah topos, ia tidak ada di mana-mana. Juga tidak di dalam ide. Saya pikir di titik inilah kita wajib mengajukan tanya: apakah utopia itu ada sebatas kita mempercayainya – surga, misal?

Berkman punya pendapat yang agaknya lain. Katanya, “Kita dapat menjadi baik dan hidup sebagai orang baik bahkan tanpa harus menumbuhkan sayap.” Sebagaimana utopia, kata-kata ini punya sayap; utopia dikatakan utopia karena kita dibuat ‘yakin’ bahwa ia merupakan sesuatu yang muskil. “Sebuah ideal yang indah,” kalau kata Berkman. Dan itu berarti anarkisme.

baca juga: Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Dengan kata lain: anarkisme ialah pemberontakan atas segala hal yang menundukkan atas struktur yang bersifat mengatur, kadang dengan semena-mena. Dari pemerintah hingga kapitalisme, dari kata-kata hingga ide. “Pemerintah masih kuat karena rakyat berpikir bahwa otoritas politik dan tekanan hukum itu penting. Kapitalisme akan terus berjalan selama sistem ekonomi seperti itu dianggap mencukupi dan adil.” Pada gilirannya anarkisme juga merupakan pembasmian atas utopia. Tidakkah ini membuat kita bertanya-tanya?

Apakah anarkisme itu dekat dengan kekerasan? Jika anarkisme sudah merupakan barang jadi– identik dengan bom dan chaos, sesuatu yang substitutif dengan pembunuhan dan perampokan, sebuah perang atau sebentuk barbarisme—tidakkah ia serupa dongeng-dongeng yang berasal dari dunia yang maya, terdiri dari entitas-entitas tanpa jiwa, kehidupan tanpa bentuk?

Soal itu Berkman menjawabnya dalam sebuah alegori menarik: “Ketika seorang warga negara dipakaikan seragam tentara, mungkin ia harus melemparkan bom dan menggunakan kekerasan. Apakah kemudian anda akan mengatakan bahwa kewarganegaraan artinya melempar bom dan kekerasan?”

baca juga: Kuasa Politik Media: Pertarungan Para Ahli dan Kawanan Pandir

Anarkisme tidak sama dengan kekerasan. Ia serupa spirit, sebagai kesangsian, untuk berkata “Tidak” atas apa saja yang membelenggu dan mengkerangkeng. Mengutip Berkman, “sebuah kesempatan untuk memilih hidup yang anda anggap paling baik.”

Anarkisme; tidakkah ia abadi? Bahwa ia tampil dalam klise, maka selalu punya tempat di sudut-sudut peri kehidupan – harapan?

  •  

Penerbit: Daun Malam

Tebal: xxxvi + 254 hlm



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: