Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Oleh: Udji Kayang         Diposkan: 06 Dec 2018 Dibaca: 507 kali


Kita khawatir kejayaan musik rock di Indonesia telah selesai. Rock bukan dangdut yang sanggup bertahan dan akan terus khalayak dengarkan, tanpa peduli apa pun yang terjadi. Dangdut didengarkan hamir kebanyakan orang, sedangkan rock dimusuhi bahkan sejak awal kehadirannya di Indonesia. William H. Frederick (1982) menyebut rock dari Inggris dan Amerika lebih dulu hadir sebelum kegiatan ekonomi Barat. Kita mafhum, di masa pemerintahan Sukarno, ia menyulitkan Barat berkegiatan ekonomi di Indonesia. Namun, rock pun sebetulnya bernasib sama. Sukarno mengatai rock musik ngak-ngik-ngok. Rock, musik yang Ian Fender sebut “revolusi pertama tanpa darah” itu, dilarang di masa pemerintahan Sukarno lantaran dianggap tidak mencerminkan kepribadian bangsa. Larangan pemerintahan Sukarno justru membangkitkan rock kala pemerintahan Sukarno ditumbangkan. Pada masa Orde Baru, rock mengibarkan bendera kejayaan.

Riwayat kejayaan rock di Indonesia hendak ditangkap Abdullah Sumrahadi lewat buku Ekonomi Politik Musik Rock: Refleksi Kritis Gaya Hidup (2017). Abdullah bukan menulis buku sejarah, melainkan sosiologi. Sekian lubang dalam pembabakan riwayat rock di Indonesia boleh kita maafkan. Dari judul, kita gampang mengira Abdullah lebih mengarah ke posisi rock dalam industri musik Indonesia, alih-alih rock sebagai budaya populer semata. Abdullah memang mengakui, “fokus bahasan dalam buku ini dibatasi pada pasang-naik dan pasang-surut popularitas musik rock di tanah air, yakni periode 1990-2010.” Abdullah memandang popularitas rock dengan perspektif ekonomi-politik. “Pembatasan kurun waktu tersebut juga berkorelasi dengan menguatnya industri media di Indonesia,” tulisnya.

Pada tahun ’90-an, diskursus musik internasional menyatakan rock tinggal puing. Kita menemui pernyataan wakil presiden eksekutif Sony Music Entertainment, Michele Anthony, di majalah Hai, nomor 11 tahun XXII, 24 Maret 1998. “Rock hanya menjadi satu pilihan dari sekian banyak macam hiburan masa kini buat remaja. Mereka bisa berselancar di internet, main vidgim, atau mengutak-atik komputer. Kini, mereka lebih setia pada lagu bukan artis,” kata Anthony. Frekuensi pemutaran lagu semakin kencang bersebab ketersediaan beragam media: radio, televisi (MTV), dan internet. Popularitas musisi bergantung pada kekuatan lagu, dengan risiko – lantaran kencangnya frekuensi pemutaran lagu − lekas terlupakan.

baca juga: Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Kecenderungan industri musik itu memunculkan musisi-musisi populer sebentar, yang popularitasnya hanya dalam satu (atau beberapa) lagu saja. Kecenderungan itu lalu dikritik band rock Bandung, Koil, di lagu Aku Rindu: aku berusaha menjadi orang yang berguna bagi satu nusa satu bahasa dan satu bangsa/ aku berusaha membuat lagu-lagu cinta yang mudah dicerna dan mudah terlupakan. Lagu-lagu populer mudah terlupakan umumnya memang bertema cinta. “Pasar cenderung tidak terlalu merespons lirik di luar tema cinta,” tulis Abdullah. Kendati diskursus musik internasional agak meratapi nasib rock pada tahun ’90-an, Abdullah justru memandang periode itu penting dalam riwayat rock di Indonesia.

Abdullah menyebut Edane, selain Slank, menentukan rock Indonesia pada tahun ’90-an. Album perdana Edane, The Beast (1992), dianggap jembatan rock Indonesia ke panggung global. Menurut Abdullah, “musik rock Indonesia harus being western agar layak dianggap sebagai ‘musik global’”. Edane menjadi Barat lewat aransemen musik dan terutama sekali lirik. Tiga dari sembilan lagu di album The Beast liriknya berbahasa Inggris. Eet Syahranie, pentolan Edane, membenarkan ambisi global itu di majalah Hai, nomor 17 tahun XVI, 28 April 1992. “Kami memang ingin sekali didengar di seluruh dunia,” kata Eet. Menurutnya, Edane menggarap-membawakan lagu berbahasa Inggris bukan buat sok-sokan, “kami bisa merasa lebih bebas bersuara.” Untuk didengar dunia, rock Indonesia terpaksa berkompromi dengan bahasa global.

Selain Edane dan Slank, Abdullah mendedah gagasan sekian band rock penting di periode 1990-2010, yakni Boomerang, Jamrud, Koil, dan PAS. Sekian band rock yang Abdullah sebut memang penting pada periode itu, namun ada lubang besar yang entah ia sadari atau tidak: ketiadaan Gong 2000. Di sekujur bukunya, tak sekali pun Abdullah menyebut Gong 2000, padahal God Bless terbahas sedikit. Kiprah Gong 2000 tentu saja penting pada periode 1990-2010. Gong 2000 lebih sebagai “bengkel musik” ketimbang band, yang beranggotakan tiga personil God Bless: Ian Antono, Achmad Albar, Donny Fattah, plus Yaya Karya dan Harry Anggoman. Mereka menggelar konser perdananya pada 26 Oktober 1991 di Parkir Timur Senayan. Majalah Hai, nomor 45 tahun XV, 5 November 1991, menyebut konser Gong 2000 sebagai “malam selamatan musik rock di Indonesia”.

baca juga: Kisah Persahabatan di antara Kuasa Negara dan Agama

Konon, Gong 2000 lahir dari ketidakpuasan Ian Antono pada rock Indonesia di tahun ’90-an. Selain menyelamatkan Ian, Achmad, dan Donny dari suntuk di God Bless, Gong 2000 juga mengembalikan gairah bermusik Harry serta melepaskan Yaya dari jeratan narkotika. Gong 2000 bukan hanya penting bagi personilnya, tapi juga bagi rock Indonesia. Maka, musik Gong 2000 digarap sangat serius. Mereka berbekal empat gitar, dua bas, serta sepuluh keyboard, yang semua didatangkan dari Amerika dan Singapura. Gong 2000 juga dibantu Gilang Ramadhan untuk sesi drum beberapa lagu. “Kelak akan dibuat semacam kuis untuk pembeli kasetnya. Siapa yang sanggup menebak [pada lagu mana saja Gilang terlibat] dengan jitu bakal mendapat bonus,” kata Ian di majalah Hai, nomor 32 tahun XV, 6 Agustus 1991.

Meski berlubang, kita tetap pantas mensyukuri kehadiran Ekonomi Politik Musik Rock. Abdullah luput sedikit, namun masih berhati-hati. Ia terasa enggan menyertakan bahasan musik metal di bukunya. Keputusan menyertakan metal berisiko menambah lubang di buku Abdullah. Lagipula, metal tidak terlalu signifikan dalam kajian industri musik populer Abdullah, lantaran metal memilih berkiprah di bawah tanah. Barangkali, dengan menyadari Ekonomi Politik Musik Rock digarap peneliti Indonesia, kita sudah cukup bersyukur. Penelitian Abdullah memperkaya kajian musik, terkhusus rock, yang lebih dulu digiati para peneliti asing. Kita berharap kajian musik rock menopang ikhtiar sekian band rock yang hingga hari ini masih menyuarakan revolusi tanpa darah. []

  •  

Judul: Ekonomi Politik Musik Rock: Refleksi Kritis Gaya Hidup

Penulis : Abdullah Sumrahadi

Penerbit: LP3ES

Tebal: xi + 184 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: