Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Sajak-Sajak Saifa Abidillah

Oleh: Saifa Abidillah         Diposkan: 22 Sep 2018 Dibaca: 1967 kali


Seperti Tubuh Yesus

 

Tubuhmu seperti tubuh Yesus

penuh luka, penuh damba.

 

“Hari-hari adalah harimau

mencabik tubuh ringkihku

yang tinggal rangka,” katamu.  

 

Matamu merah, pecah,

dan tak utuh, 

dan seperti terus berdarah.

 

Dan rambutmu

—seperti pohon di gurun

tanpa oase,

dan danau hijau yang memukau.    

 

Hari terberat dalam hidupmu

adalah ketika Tuhan

tidak bersuara.

 

Tuhan tidak jadi pembela

bagi siapa-siapa.

 

Kau terjatuh

dan seperti terus terjatuh.

 

Kedua kakimu tersandung

batu hidup yang keparat.

 

Dan kau memanjatkan doa

terbaik dalam hidupmu:

 

“Lindungilah aku, dari angin

dan cuaca buruk, agar ranting

pada rambutku tak patah.”

 

Tapi Tuhan,

—seperti kata Buddha

sama dengan kekosongan

yang tenang pada kening.  

 

Tak ada siapa-siapa

dan tak akan pernah ada siapa-siapa:

 

“Di sini, cuaca terlalu buruk.”

 

Hanya suara pada pikiranmu sendiri  

yang terdengar lebih panjang

dan bergema sedikit nyaring                                                                                                     

di ambang petang.

 

Dan tubuhmu yang ringkih

dan mudah goyah, sama sekali berbeda

dengan tubuh tangguh Buddha.  

 

Kau tak ditakdirkan menampung

setiap luka, jiwa umat manusia.  

Tampunglah luka

pada kening, heningmu sendiri. 

 

Yang ringkih biarlah selalu berdalih

dan pulih tanpa harus ada kata

‘aduh’ atau ‘ah’ pada semesta.  

 

Cantrik-Kutub, 2018

Doa-Doa Patah

 

Doa-doa patah,  

dan tak bergairah

 

Kau memutuskan

tidak lagi memanjatkan doa

 

Tak ada riadhah,

tak ada jalan tenang yang lapang  

 

Kau kehilangan jalanmu

yang paling mengembirakan

 

Kau takluk pada pikiranmu.  

Kau mulai lalai, terkulai pada lantai  

 

Kau memutuskan menyerah

dan kisruh pada kata pasrah

 

Kau tak lagi percaya

ada hari pada matahari

 

—ada kata tumbuh

pada kata rubuh

 

Kau lupa bahwa hakikat diri

adalah mencari

 

yang paling inti dari bunyi

yang paling bunyi dari sunyi.

 

Cantrik-Kutub, 2018

baca juga: Kumpulan Quote Berdikari Book

Tuhan Sedang Bapergian

 

/I/

Tuhan yang mengejutkan

tolong ingatkan ayahku

kalau ia tak sendirian.  

 

Ada hujan kata

—hujan pada bibirku

yang setia berdoa.

 

Meski ia [hujan kata, bibirku]

tak tahu, doa apa yang sedang

ia panjat pada pohon kehenigan.

 

/II/

Tuhan yang mengejutkan

tolong ingatkan ayahku

kalau ia tak sendirian.  

 

Hujan kata,

tumbuh jadi bunga doa.

 

Barangkali, ketika ayah

bosan duduk sendirian di kuburan.

 

Ia ingin jalan-jalan

—pelan, dan santun 

pada taman keabadian.

 

Di situ, menghampar bunga doa

akan menemani ayah 

ketika kau, Tuhan, sedang bapergian.

 

Cantrik, 2018

 

Tolong Ingatkan Tuhan

 

Kenapa Tuhan harus diingatkan,

apakah Tuhan sedang plinplan?  

 

Tidak. Tuhan tidak pernah plinplan

kamu saja yang suka plinplan

 

Tolong ingatkan Tuhan

—untuk apa?

 

Tolong hapus kata plinplan

dalam Bahasa Indonesia

 

—untuk apa?

Agar aku tidak melupakan Tuhan

dan kamu. 

 

Tapi kata plinplan

bukan Tuhan yang menciptakan

: manusia

 

Benarkah, manusia menciptakan

kata plinplan? 

 

Tidak. Jangan pernah percaya

pada manusia.

 

Lalu siapa

yang menciptakan Tuhan?

 

Plinplan.

 

Oh, jadi yang menciptakan Tuhan

adalah plinplan.

 

Cantrik, 2018

Memberi Suara

Pada yang Tak Bersuara

 

?

Kutub, 2018

baca juga: Untuk Menghadapi "September Ends"

Kuil Kuda Kata  

 

Yang berkemah dalam kata adalah doa

Yang berumah dalam doa adalah kuda

 

Kuda kata adalah nyanyi sepi

Yang tak pernah lelah berbenah dalam dusta

 

Cantrik, 2018

 

Matamu Tidak Beragama

Untuk Ning  

 

Matamu lebih merah dari mata api,

dan seluruh api di neraka

takluk pada matamu.

 

Matamu tidak beragama

atau menganut suatu golongan.

 

Matamu terbebas

dari norma-norma apa pun,

dan tidak layak mendapat

tekanan dari siapa pun.

 

Matamu sebagaimana

Mata Tuhan yang berbahaya.

 

Matamu lebih mengerikan

dari otoritas Orde Baru,

atau telunjuk Hitler, atau nuklir

atau bom atom

yang mengancam dunia.  

 

Matamu adalah kebenaran mutlak.

 

Tidak ada kebenaran

selain yang terpancar

dari kebenaran matamu.

 

Matamu adalah satu-satunya

kebenaran, di luar segala jenis

norma yang pernah ada di dunia ini.

 

Matamu adalah perasaan

rasa muak pada benda

yang bertentangan dengan

isi kepalamu.

 

Matamu adalah mataku

yang bukan mataku.

  

Kutub, 2018

 

Menjual Tuhan

 

Begitu mudah kita temukan

Tuhan di mana-mana.

 

Pada papan iklan,

mata poster bertebaran

di jalan-jalan,

dan smartphone.

 

Para misioranaris berbaris

seperti giris gerimis,

seperti kawah pendakwah

yang gagah.

 

Tuhan ada,

tidak untuk ditolak.

Tapi untuk dijual

di mal-mal yang sintal:

seperti sintlal pinggulmu.

 

Jangan pernah berpikir

Tuhan tidak ada.

 

Jika Tuhan tidak ada

Ia tidak akan pernah hidup

dalam kepala manusia.

 

Jika Tuhan tidak ada,

[kemungkinan besar]  

Ia tidak akan,

punya rekam sejarah

dalam hidup manusia.

 

Maka,

Ia relevan untuk selalu ditolak,

seperti ketika kau ada

untuk ditolak, bagi setiap cinta

yang terus menyala.

 

Kutub, 2018

 

  •  

Saifa Abidillahsaat ini berproses di Komunitas Kutub Yogjakarta, dan tercatat sebagai mahasiswa akhir Studi Agama-agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga.

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: