Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Samuel Huntington di Sela Timur dan Barat

Oleh: Satya Wira W.         Diposkan: 25 May 2019 Dibaca: 922 kali


Sejak digulirkannya deklarasi Bush secara global mengenai Perang Global Melawan Terorisme, dunia kembali dihebohkan dengan terminologi lama, namun dengan fokus yang berbeda. Sejak saat itu, terorisme dialihkan kepada dunia Islam dan memperlebar jurang perbedaan antara Timur dan Barat. Momentum tersebut datang seusai tragedi 9/11. Namun, banyak yang masih belum mengetahui, baru menyadari, kejadian-kejadian dibalik tindakan-tindakan kekerasan politik global tersebut. Kita hanya menarik kesimpulan secara umum dari pidato Bush seusai 9/11 dan lebih ekstrem lagi kita menginterpretasikan terorisme dengan simbol-simbol Islam, padahal permasalahan ini lebih dalam, lagi rumit. Sebabnya, adalah baik mengkaji dari salah satu aktor yang signifikan dibalik peristiwa-peristiwa tersebut. Samuel P. Huntington.

Huntington bukan sekadar ilmuwan politik biasa. Lebih dari ilmuwan politik dan termasuk guru besar Harvard University—Huntington adalah penasehat politik luar negeri Amerika Serikat. Pada tahun 1977 – 1978, Huntington bekerja di Gedung Putih sebagai Coordinator of Security Planning for the National Security Council. Huntington juga pernah menjabat sebagai Ketua Harvard Academy of International and Area Studies, direktur The Center for International Affairs, Ketua Departement of Government. Selain Clash of Civilizations and The Remaking of World Order, Huntington menulis buku-buku yang kerap kaitannya dengan strategi, politik, perang dan diplomasi.

Sudah banyak kajian yang langsung mengkritik karya ilmiah dari Samuel P. Huntington. Baik yang ditinjau dari perspektif politik, budaya, dan agama. Namun, yang menarik adalah diskursus “Clash of Civilizations” yang diambil dari tesisnya—meskipun neo-orientalis Bernard Lewis telah ‘merancang’ wacana tersebut namun Huntingtonlah yang melontarkannya. Clash of Civilizations atau Benturan Peradaban yang membahas secara general mengenai peradaban-peradaban yang kontra terhadap Barat.

baca juga: Kita Sama Resahnya

Tesis tersebut bermula ketika Perang Dingin yang diakhiri dengan runtuhnya Komunisme, baik dalam lingkup domestik Uni Soviet dan hegemoninya. Ketika Perang Dingin berakhir, dengan durasi yang tidak begitu lama sudah muncul berbagai diskursus tentang “Islamic Threat” atau “Ancaman Islam”. Dari tesisnya The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order pada tahun 1996, Huntington mengonstruksikan perhatian Barat kepada Islam. Akan tetapi, Huntington terkesan lebih mendorong Barat untuk memerangi Islam, bukan sekadar menaruh perhatian kepada Islam. Menurut Huntington, pasca runtuhnya Komunisme, hanya Islamlah satu-satunya peradaban yang sulit diruntuhkan dan berpotensi untuk terjadinya konflik yang besar sebagaimana yang telah direkam oleh sejarah umat kemanusiaan. Secara realisme negara, wajar saja hal itu terjadi, sekurangnya karena dua hal: realpolitik sendiri menekankan bahwa hubungan internasional adalah anarki tanpa ada satu otoritas pun yang mengatur semuanya dan ancaman (dari negara lain) akan terus ada. Kemudian, tatanan internasional tidak lagi berada pada dua kutub kekuatan/bipolar (Uni Soviet dan Amerika Serikat), melain multipolar dengan banyaknya bermunculan poros-poros kekuatan baru secara global.

Dalam Clash of Civilizations, Huntington menjabarkan lima poin penting terkait Islam dan Barat yang selalu diselimuti konflik. Pertama, natalitas penduduk muslim yang selalu meningkat membuat angka pengangguran semakin tinggi dan memberikan rasa yang tidak puas dalam penduduk muslim. Kedua, Kebangkitan Islam yang memberikan keyakinan baru bahwa Islam lebih unggul dibandingkan Barat. Ketiga, Barat yang sedang menyebarkan sistem demokrasi turut campur dalam perpolitikan negara-negara Muslim dan menimbulkan kemarahan dalam dunia Muslim. Keempat, runtuhnya Komunisme telah menggeser musuh bersama di antara Islam dan Barat dan masing-masing merasa dalam ancaman utama bagi yang lainnya. Kelima, meningkatnya interaksi Islam dan Barat semakin menonjolkan perasaan baru pada masing-masing pihak dan menyadarkan bahwa mereka berbeda dengan yang lain. Huntington juga menambahkan bahwa hubungan keduanya merosot tajam pada 1980-an sampai 1990-an.

Pada dasarnya, Clash of Civilizations bukanlah sebuah karya ilmiah (sebagaimana pengakuannya), melainkan sebuah pedoman yang diperuntukkan sebagai bingkai kerja politik luar negeri Amerika Serikat terkait evolusi politik yang terjadi pada masa itu, tentunya pasca Perang Dingin, paradigma dalam memandang politik global kepada para pembuat kebijakan. Seturut Adian Husaini dalam bukunya “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal” yang juga mengkritik Huntington berdasarkan lima poin benturan peradaban miliknya. Adian Husaini mengatakan bahwa yang patut diperhatikan dalam buku Huntington bukanlah mengenai nilai ilmiah atau tidaknya pernyataan Huntington. Akan tetapi, bagaimana aplikasi dan fakta yang terjadi di lapangan, menyusul berbagai prediksi dan analisis itu. Dalam bidang ilmiah, banyak yang bisa dikritik. Misalnya natalitas yang tinggi dalam penduduk Muslim dan militansinya, justru dalam banyak kasus, pengangguran yang tinggi tidak menyebabkan militansi dalam Islam tapi lebih mengarah kepada demoralisasi kalangan muda Islam. Adian Husaini juga menanggapi poin perbenturan peradaban Huntington yang ketiga, yakni penyebaran pemikiran Barat ke seluruh dunia. Barat dalam hal ini selalu melakukan pembenaran terkait penyebaran tersebut, Barat selalu mengaitkan penyebaran Barat adalah tentang produk ekonomi Barat. Padahal secara intrinsik, Barat juga melakukan westernisasi, sekularisasi, dan liberalisasi dalam segi pemikiran dan budaya di dunia khususnya di dunia Muslim. Hal tersebut terlihat pada gejolak Arab Spring menjadi peristiwa lain di dunia Muslim dengan pernyataan Barat yang memandang sistem politik negara-negara Muslim masih memeluk kediktatoran. Juga dukungan negara-negara Barat dalam menggulingkan pemerintahan dengan rasionalisasi penyebaran demokrasi.

baca juga: Perlawanan Mangir: Jalan Pedang Menentang Mataram

Selain itu, yang patut dilihat adalah strategi preemptive strike (menyerang lebih dulu) AS terhadap teroris sekaliber Al-Qaeda untuk membumihanguskan musuhnya namun menggunakan istilah Cold War atau Perang Dingin untuk melawan ‘musuhnya’ Uni Soviet. Huntington memasukkan fakta dan data ke dalam bukunya tersebut dengan konten peperangan kaum Muslim dan beberapa militansi Muslim melawan negara Barat. Perang dan konflik memang terjadi pasca tesis Huntington ini. Namun Huntington tidak menyampaikan atau setidaknya menulis alasan-alasan mengapa konflik dan militansi Muslim melawan Barat benar-benar muncul. Tampaknya, beliau lupa akan “sebab dan akibat”. Jika ditinjau kembali, penyebab konflik dan timbulnya militansi Muslim melawan westernisasi, sekularisasi, dan liberalisasi Barat adalah Barat itu sendiri.

Dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2004, yakni Who Are We?: The Challenges to America’s National Identity memberikan gambaran yang lebih eksplisit tentang pemikirannya mengenai Islam dan Barat. Pandangannya tersebut lebih gamblang jika dibandingkan Clash of Civilizations and The Remaking of World Order. Dalam Who Are We? Huntington tidak lagi memandang Islam sebagai alternatif untuk mempertahankan hegemoni AS di dunia, Huntington memberikan predikat “militan” dan mendudukkan Islam sebagai musuh utama AS pada sekarang ini. Singkatnya, bagi Huntington, kedudukan Uni Soviet dan Komunismenya telah digeserkan oleh Islam sebagai musuh utama peradaban Barat. Baginya, Islam yang militan bukan lagi yang seperti Osama bin Laden atau al-Qaeda, tapi yang bersifat negatif terhadap AS baik kelompok atau individu. Namun, dampaknya lebih dari itu. Ketika AS menarasikan Barat melalui Huntington yang terjadi adalah pembangkitan Chauvinisme yang dulunya mereka kecam; Hitler seorang chauvinis yang taat.

Sekarang ini, kita hidup dengan skenario politik global yang diam-diam berasal dari Barat, lalu ke Timur Tengah, dan alih-alih kepada Islam. Padahal, bukan tidak mungkin, sejak kesalahan strategi Bush pada Irak lalu 9/11, tesis Huntington dan sekarang Islamofobia hadir di tengah masyarakat kita juga mempersubur aksi terorisme dalam selimut perdamaian Islam.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: