Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Sastra dan Hutang-Hutang Pemberontakan

Oleh: A Moriz         Diposkan: 05 Mar 2019 Dibaca: 573 kali


Albert Camus dalam kumpulan esai berjudul Seni dan Pemberontakan mengatakan, “Seni, seperti pemberontakan, adalah sebuah gerakan yang pada waktu bersamaan bersifat mengagungkan sekaligus mengingkari”.

Banyak karya sastra bersekngkol dengan api. Menyulut dan membakar bukan saja dalam suatu bangunan cerita, tapi juga dunia nyata. Misalnya, karya Pramoedya Ananta Toer, dengan empat karya akbarnya di Tetralogi Buru, acap kali menjadi rujukan pergerakan proresif kalangan muda.

Sejarah telah mencatat, karya sastra—yang dasarnya berangkat dari imajinasi—berhasil membuat pergolakan hebat. Tidak melulu persoalan manifes politik atau perdebatan lainnya. Namun, dampak pada sebuah tatanan sosial peradaban yang unik dari sebelumnya.

baca juga: Cinta, Psikoanalisis, Erich Fromm

Dalam ranah pemberontakan, seorang pasifis India, Mahatma Gandhi, diyakini menemukan semangat anti-kolonialisme dari karya-karya seorang Rusia, Leo Tolstoy. Ia terinspirasi dari gagasan spiritual sastrawan Rusia tersebut. Melalui bentuk pembangkangan langsung non-kekerasan, aksi yang dilancarkan Gandhi sangat efektif untuk kebangkitan India dari dominasi Inggris.

Tidak hanya Gandhi, perlawanan tanpa kekerasan yang diwariskan Tolstoy pun menular dalam diri Martin Luther King, Jr. Sastra membentuk kekuatan moral tersendiri yang bahkan melebihi kapasitas ratusan botol molotov dalam membakar semangat. Terbukti, Gandhi, yang tidak hanya sekali mendaku diri sebagai anarkis, berlapang dada dihukum karena melawan aturan kolonial Inggris.

Dimensi protes yang terdapat dalam karya sastra memengaruhi sensibiltas subjek pembaca. Menuju pergolakan massal hingga perang kelas karena hipnosis yang disebabkan isi karya. Pun hal ini terjadpada jenis seni lainnya, patung dan lukisan; musik ataupun ukiran.

baca juga: Jerat Negara Terhadap Perempuan

Tanpa mengabaikan nilai individu, bagaimana pun, imajinasi yang dibangun kolektif setidaknya memiliki kekuatan dan nilai unggul. Maksudnya, dalam kadar tertentu kesadaran kolektif dengan imaji ideal yang mirip adalah ketajaman tersendiri. Seperti telah disebutkan, yang terkandung dalam karya seni, khususnya sastra, barangkali, malah lebih berkekuatan dibanding kelantangan simbol; circle-A atau palu arit sekalipun.

Berbanding lurus dengan apa yang terjadi setelah terbitnya buku Max Havelar karya Multatuli. Berkisah tentang Max, Asisten Residen  di Lebak, Banten. Buku ini menceritakan kegeraman tokoh utama melihat kesewenang-wenangan pemerintah saat itu terhadap pribumi. Hingga suatu hari ia memalsukan laporannya untuk Jendral Hindia Belanda. Dengan harapan Residen memecat otak kelaliman tersebut, yaitu Bupati Lebak.

Multatuli, pseudonim dari Eduard Doues Dekker, melalui Max Havelar dipercaya sangat berpengaruh di kalangan pergerakan sosialis dan anarkis Eropa. Bahkan dalam buku Perang yang Tidak akan Kita Menangkan, karya Bima Satria Putra, mencatatnya bahwa Petter Kropotkin pernah menyejajarkan Max Havelar dengan karya-karya Nietzsche, Emerson, Whitman, dan Thoreau.

baca juga: Tentang Politik Jatah Preman

Di negeri ini—pada waktu itu bernama Hindia—, Max Havelar dapat dikatakan mengambil peran tergeraknya para liberal progresif Belanda untuk melakukan pembenahan dan perbaikan keadaan ekonomi-politik di tanah jajahannya. Meskipun, pada masa itu reformasi semacam ini tidak mengurangi secara drastis penderitaan pribumi. Namun, setidaknya karya tersebut adalah motor anti-kolonialisme di kalangan revolusioner guna terciptanya pemberontakan-pemberontakan selanjutnya.

Namun, api sastra seringkali hanya api yang membakar dirinya sendiri. Meledak di imajinasi dan berakhir di kepala pembaca. Maksud awal menyelinapkan kesadaran radikal pada karya, tapi berujung sebagai sebatas tontonan. Inilah yang kerap kali dikatakan sebagai onani imajinasi.

Perihal di atas dapat disebut sebagai pseudo subversif. Bukan memaksakan bentuk ideal. Namun, jika power pada buku tidak diimbangi dengan aksi langsung, yakinlah, sosok seperti Gandhi tidak akan pernah ada. Jika ini terus terjadi bukan tidak mungkin, sebagian pengagum Pramoedya berprofesi sebagai korporat penyerobot tanah. Dan banyak pemuda berkaus hitam dengan logi circle-A mengantri makanan di gerai McDonald.

baca juga: Marx: Makam dan Esai

Sebab, diakui atau tidak “subversifitas” sastra adalah gerak politik “murni” ataupun politik yang “anti-politik”; baik dalam bentuk manipol maupun lainnya. Bahkan dalam kondisi umum yang mengerikan, kultur “radikal” pada sastra bermuara pada komoditas pasar dan tidak membahayakan (target awal) sama sekali.   

Akankah sastra bernasib seperti video game yang hanya menjanjikan kepuasan khayali tidak berujung? Menjadi teman penutup suntuk dan kebosanan saat diri sedang benar-benar bodoh. Dalam beberapa catatan para anarkis Indonesia setidaknya pernah mengomentari hal ini. Salah satunya pada permainan lawas, State of Emergency. Tema “revolusioner”, tokoh-tokoh “insurgen”, dan keadaan chaotic yang disajikan dalam game sebagai pengisi waktu luang memang memasukkan unsur radikal. Namun, apakah ada orang yang terinspirasi setelah memainkan gim “subversif” tersebut. Jawaban mereka bisak kita tebak: tidak peduli!

Sastrawan sekaliber George Orwell setidaknya meyakinkan beberapa pihak akan hal ini. Ideologi dan praktik. Melalui karyanya tidak bisa dipungkiri, ia menolak keras otoritarianisme. Pun seiringan dengan dunia nyata, Orwell berperan dalam gelanggang peperangan Spanyol sebagai seorang anti-fasis. Memang, gerakan radikal tidak melulu perjuangan bersenjata. Keyakinan seperti John Lennon dengan lagu Imagine-pun merupakan jalan.

baca juga: Membaca Foucault dari Ke(sangat)jauhan

Bukan. Bukan menentukan jalan kebenaran layaknya rasul. Ini hanya tawaran dan Anda tentu boleh tidak menyepakatinya. Sastra yang tidak menuju kelantangan langsung tak ubahnya orang tua beruban di pembaringan. Hanya mengandalkan perenungan tanpa kegilaan di kehidupan yang sesungguhnya.  

Bagi penulis, kekuatan sugestif dalam sebuah karya sastra selayaknya adalah gagang pedang yang membantu mata pedang menusuk dada lawan. Melihat, dalam tataran umum, sebuah tulisan menyimpan pencerahan dan tindak destruktif yang sama besarnya. Bukan spectacle atau komoditas kapital untuk memenuhi hasrat pasar. Pergumulan dengan karya “lantang” setidaknya menelurkan sikap “lantang” yang sepadan—dalam bentuk apa pun. Begitu pula sebaliknya, yang membikin pemberontak kian mantap.

Barangkali, kultur dan dimensi unik pada setiap karya sastra inilah yang kini sedang ramai dimanfaatkan para politisi negeri ini. Sekonyol apa pun bentuk dan niat dari terciptanya karya tersebut, ia mengharapkan kelanjutan setelahnya. Menjual imajinasi. Berkebalikan dengan puisi Wiji Thukul yang lahir dari asam dalam perut keganasan rezim. Sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan akan dampak besar dari perilaku konyol politisi tersebut. Setidaknya melihat beberapa contoh di paragraf sebelum ini, kondisi zaman ikut berperan penting membentuknya.

baca juga: 100 Tahun Sair Rempah-Rempah Titik Membara

Perkawinan antara ide dari karya sastra dengan kondisi terjepit yang tepat membuahkan senjata mematikan. Ya, Pak Kumis, Stalin pun mengatakan hal senada, “Ide lebih kuat dari pistol”. Alasan (mungkin) sama ketika rezim melarang keras novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang pada akhirnya dilegalkan kembali dengan kemasan menarik untuk konsumsi pasar dan perfilman.

Lantas apa yang selanjutnya terjadi? Akankah sastra “subversif” menghasilkan aksi langsung layaknya Max Havelar atau sekadar penarik perhatian seperti ornamen seksualitas dalam iklan-iklan di televisi? Pada akhirnya adalah autokritik untuk masing-masing pihak. Sekian.

  •  

Judul: Seni, Politik, dan Pemberontakan

Penulis: Albert Camus, dkk

Penerbit: Narasi

Tebal: xxxvi+160 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: