Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Satire Tajam Terhadap Sains, Pemerintahan, Dan Agama

Oleh: Erwin Setia         Diposkan: 15 Oct 2019 Dibaca: 1537 kali


Sebagai novel bergenre science-fiction, Buaian Kucing (Cat’s Cradle) bukanlah jenis buku yang membuat keningmu berkerut karena banyaknya istilah teknis yang menyulitkan atau gara-gara ceritanya kelewat serius. Alih-alih demikian, novel yang pertama kali terbit tahun 1963 ini berlimpah humor dan satire-satire tajam. Buka halaman 4, kita langsung disuguhkan sebuah kutipan dari buku imajiner berjudul Sajak-Sajak Bokonon berisi sederet kalimat unik—yang memancing rasa penasaran ataupun tawa: “Segala kebenaran yang akan saya sampaikan kepada Anda adalah semata-mata kebohongan.”

Ini adalah cerita tentang seorang lelaki bernama Jonah yang sedang menyusun buku Hari Ketika Dunia Berakhir. Sebuah buku “yang berkaitan dengan bom atom pertama. Isinya akan terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada 6 Agustus 1945, hari saat bom dijatuhkan di Hiroshima.” (hlm. 5)

Untuk kepentingan penulisan buku itu, Jonah pun berusaha menghubungi tiga anak Dr. Felix Hoenikker—seorang ilmuwan peraih hadiah Nobel Fisika yang sekaligus menjadi pemelopor dari terciptanya bom atom. Tiga anak Felix Hoenikker itu masing-masing adalah Angela Hoenikker, Franklin Hoenikker, dan Newton Hoenikker. Sepanjang novel, tiga orang dengan karakter khas ini memiliki peran cukup banyak.

baca juga: Kreativitas Sebagai Perjumpaan Eksistensial

Angela adalah sulung yang punya hobi memainkan klarinet. Sementara Franklin sangat lihai dalam seni arsitektur dan punya kecerdasan serta pengetahuan akan sains lebih tinggi ketimbang saudara-saudaranya. Dialah yang paling mirip dengan Hoenikker—sang ayah—dalam hal keilmuan. Adapun Newton atau Newt, adalah bungsu bertubuh cebol yang suka menggambar dan punya ingatan sangat kuat. Ia bahkan dapat mengingat kejadian ketika hari bom atom dijatuhkan di Hiroshima, padahal saat itu ia masih bayi.

Dalam perjalanannya menggali info seputar Dr. Felix Hoenikker, Jonah bertemu Dr. Asa Breed, wakil kepala laboratorium tempat Dr. Hoenikker bekerja semasa hidup. Pertemuan dan percakapan dengan Dr. Breed menjelentrehkan cukup banyak sindiran terhadap sains dan khususnya ahli sains atau ilmuwan.

Ketika membicarakan mengenai Dr. Hoenikker, ada kilas balik yang menuturkan perihal sifat buruk ilmuwan ternama itu. Ia dikisahkan sebagai orang yang acuh tak acuh terhadap keluarga, melulu berkutat dengan laboratorium, dan bahkan tidak bersedih ketika istrinya meninggal dunia. Ini adalah satire telak terhadap ilmuwan yang kadang-kadang kelewat fokus pada apa yang mereka sebut sebagai “sains” atau “ilmu pengetahuan”, namun mengabaikan atau menomorsekiankan nilai-nilai kemanusiaan.

baca juga: Teringat dan Terbaca

“Semua pertanyaan Anda tampaknya bertujuan untuk membuat saya mengakui bahwa para ilmuwan tak berperasaan, tak punya nurani, bebal, berpikiran sempit, acuh tak acuh terhadap nasib seluruh umat manusia, atau mungkin bukan anggota umat manusia sama sekali.” (hlm. 31)

Meskipun perkataan Dr. Asa Breed di atas bermaksud membantah pertanyaan Jonah yang menurutnya terasa memojokkan, ada banyak kebenaran yang pahit dalam kata-katanya itu.

Selain terhadap sains dan ilmuwan, satire dan olok-olok juga melimpah ruah Vonnegut arahkan kepada pemerintahan atau institusi negara. Dengan menciptakan sebuah negara fiktif bernama San Lorenzo yang beribukota Bolivar (terinspirasi dari nama pejuang Amerika Latin Simon Bolivar), Vonnegut melesatkan sindiran-sindiran kerasnya terhadap pemerintahan dan hal-hal terkait dengannya. Di antaranya, ia menyebutkan soal perayaan “Seratus Martir untuk Demokrasi” (sebuah sindiran akan tercelanya perang yang mendatangkan korban hanya untuk memperjuangkan sesuatu seabstrak ‘demokrasi’) dan hukuman mata pancing untuk penganut Bokononisme (ini menjadi satire yang bikin nyengir, karena pemimpin San Lorenzo ternyata adalah seorang Bokononis, bagian ini seolah menggambarkan bahwa banyak jenis hukuman mengerikan di suatu negara dimana yang seharusnya menjadi orang pertama mendapat hukuman itu adalah pemimpin negara itu sendiri).

baca juga: Kafka, Ayah, dan Eropa

Fragmen berikut ini juga menjadi pengingat bahwa kerap kali negara membunuh warganya sendiri dengan dalih ia sedang berusaha melindungi warganya:

“Benteng-benteng itu tak pernah diserang, tidak ada pula manusia waras seorang pun pernah mengusulkan alasan mengapa benteng-benteng itu perlu diserang. Benteng-benteng itu tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai benteng. Seribu empat ratus orang dikisahkan meninggal saat membangun benteng-benteng tersebut. Dari keseribu empat ratus itu, sekitar setengah dikisahkan dipenggal di depan publik karena kurang bersemangat.” (hlm. 101)

Begitu asyik menikmati serangkaian satire yang bergulir dalam narasi-narasi dan percakapan-percakapan gubahan Vonnegut dalam novel ini. Satire-satire yang tidak hanya halus, tapi juga komikal. Saya pikir para ilmuwan apatis dan politikus busuk juga akan tersenyum simpul alih-alih marah ketika membaca buku ini. Tetapi, jika yang membaca adalah agamawan, apakah akan demikian juga reaksinya? Saya tidak yakin soal itu.

Target satire Vonnegut bukan hanya sains dan pemerintahan. Masih banyak yang ia “serang” dengan peluru-peluru sindiran yang halus namun mematikan. Salah satu yang terutama adalah soal agama dan Tuhan.

baca juga: Bangsa yang Malas

Sejak bagian paling awal buku ini, bahkan agama sudah menjadi obyek satire. Tepatnya ketika Vonnegut membawakan soal Bokononisme—agama atau isme karangannya sendiri yang sekaligus menjadi media Vonnegut menyikut banyak hal dalam novel. Bokononisme disebut sebagai agama yang berdasarkan pada kebohongan-kebohongan. Dalam Sajak-Sajak Bokonon (semacam kitab suci Bokononisme), ada ‘ayat’ berikut: “Hiduplah dengan foma (sejenis kebohongan) yang membuatmu berani dan baik hati dan sehat dan bahagia.” Secara tidak langsung ia seolah-olah ingin mengatakan bahwa agama itu cuma didasarkan pada kebohongan-kebohongan, pada hal-hal tak masuk akal dan mitos belaka.

Melalui Sajak-Sajak Bokonon, ia menyebut pula bahwa Tuhan kesepian sehingga ia menciptakan lumpur-lumpur. Salah satu lumpur itu adalah makhluk yang kemudian dikenal sebagai manusia, satu-satunya lumpur yang bisa berbicara.

Meski kritik Vonnegut atas agama (dalam konteks ini agama Kristen) tidak sekasar cerpen Langit Makin Mendung-nya Kipandjikusmin, Ayat-Ayat Setan-nya Salman Rushdie, atau Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur-nya Muhidin M. Dahlan—yang sudah blak-blakan sejak dari judul—dalam mengkritik “Islam”, tapi saya tetap tidak yakin para rohaniawan akan bisa membaca buku ini dengan santai dan kalem. Kecuali mereka adalah Gus Dur atau sejenis Gus Dur.

baca juga: Kenangan Bergambar Atas Kejahatan Orde Baru di Buru

Tak seperti subyek-subyek serius dan berat yang berseliweran di dalamnya, sesungguhnya novel ini adalah novel humor. Kurt Vonnegut sendiri adalah salah satu penulis paling humoris yang pernah ada. Jadi, meskipun ia menceritakan soal buruknya sains, pemerintahan, agama, sifat manusia, dan lain sebagainya. Tak perlu naik pitam atau kepengin langsung demonstrasi ketika membacanya. Lebih baik tertawa saja. Ya, tertawa. Seperti sosok Joker menertawakan segala tragedi yang menimpanya. 

  •  

Judul: Buaian Kucing

Penulis: Kurt Vonnegut

Penerbit: Basabasi

Tebal: xii+232 halaman

  •  

   



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: