Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Sebelum Filsafat Seberapa Candu Cinta Itu?

Sebentang Kearifan dari Barat

Oki Setiana Dewi
Description
"Membaca buku ini, sama dengan melakukan perjalanan panjang, menemui banyak orang, beribu pemandangan dan berjuta rasa. Baca berulang, terasa nikmatnya."
Stock: Tersedia

#TalkLessReadMore lihat promo di bawah:


Kategori : Umum

"Membaca buku ini, sama dengan melakukan perjalanan panjang, menemui banyak orang, beribu pemandangan dan berjuta rasa. Baca berulang, terasa nikmatnya."
—Datuk Seri Ulama Setia Negara Haji Abdul Somad, Lc., M.A.

"Buku ini lebih dari sekadar travel account; Oki mengambil refleksi dari perjalanannya...sumbangan signifikan untuk memperkuat hubungan yang lebih harmonis dan damai di antara masyarakat Muslim dengan dunia Barat."
—Prof. Azyumardi Azra, CBE

“Buku ini mengajak kita tamasya spiritual ke tempat-tempat yang tak terduga dengan penyampaian sederhana namun tajam dari seorang yang sehari-hari aktif di dunia dakwah.”
—Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

“Berkelana adalah tradisi umat Muslim yang mengakar sejak dahulu. Menjelajahi bumi Allah, mengenal berbagai bangsa, bertukar kisah, dan mempererat ukhuwah, dijalani sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan kepada-Nya. Buku Oki Setiana Dewi ini mengibartinggikan angan dan inspirasi kita akan tradisi berkelana.”
—Anies R. Baswedan, Gubernur DKI 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit
Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Umum
ISBN : 9786024181734
Ketebalan : 272 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia, 2018
Stock: Tersedia
Penerbit: Mizan
Penulis: Oki Setiana Dewi
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by