Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Sebuah Rumah Bergelimang Waktu

Oleh: Irfan S. Fauzi         Diposkan: 18 Apr 2019 Dibaca: 1254 kali


Gandrung buku membuat dua lelaki nekat berumah di buku. Lelaki pertama, Carlos Brauer, berumah di buku dengan sungguh. Ribuan buku milikinya menjadi dinding dan lantai rumah. Tempat berlindung dari langit yang mendidih dan udara yang gemetar. Tapi Brauer tidak “sungguh”. Ia hadir dari kepala Carlos Maria Dominguez dalam Rumah Kertas (Marjin Kiri, 2016).

Lelaki kedua adalah Bandung Mawardi. Tokoh “sungguh” tapi tak “benar-benar” berumah di buku. Di rumah Bandung, ribuan buku lawas dijadikannya kawan hidup. Buku, majalah, dan koran diemong sepanjang kala.

Meski berbatas “ada”, kita tetap berhak menuding Carlos dan Bandung sebagai dua contoh pembaca serakah. Bagi para pembaca serakah, kata adalah detik. Mengumpulkan kata (buku) berarti laku mengingat peristiwa atau cerita. Buku tak menjadi sekadar benda. Ribuan buku tempat mereka “berumah” mengabarkan rentetan masa silam, mengisahkan hari ini, dan melongok masa depan. Tabiat pembaca telaten berwujud keengganan terlewati sejarah.

baca juga: Kapitalisme, Krisis Ekologis, dan Pemiskinan Imajinasi

Emoh dituruti dengan kegemaran mengunjungi kios buku lawas sebagai upaya menjangkau masa lalu alias titik tolak memandang masa kini dan hari kemudian. Jika di Uruguay, Carlos acap berburu di pasar buku lawas Tristan Narvaja, di Solo, Bandung getol memburu buku lawas di kios buku di Gladak. Buku lawas memikat Bandung sedari 1998, kala tubuh masih berbungkus seragam putih dan abu-abu.

Kegemaran menyambangi kios buku bekas sesungguhnya bukan kebiasaan sepele belaka. Buku lama bukan berarti buku basi atau busuk. Salah satu pengkaji Asia Tenggara terkemuka, Benedict Anderson (1936-2015), juga memiliki kegemaran serupa. Bagi Ben, di kios buku lawas itulah pembaca buku, meski tak melulu berlimpah duit, dapat menjumpa buku-buku bermutu. Dalam pencariannya di kios buku loak di Jakarta pada rentang 1962-1964, Ben menemukan buku Indonesia dalem api dan bara yang menurutnya amat cemerlang mengisahkan tiga babak sejarah republik ini (Anderson, 2016).

Masa lalu dalam buku juga tak sekadar pokok tulisan. Gairah pembaca buku lawas juga memuncak dengan hal-hal di luar teks. Ben, misalnya, punya kesenangan membaui jilidan buku sebagai “ritus berbuku”. Carlos membaca buku—khususnya pada buku penulis Perancis abad XIX—menggunakan penerangan lilin. Buku yang dibaca dengan temaram api, bagi Carlos, menjadi lain dengan buku yang dibaca dengan nyala bohlam.

baca juga: Alangkah Tololnya

Dalam Berumah di Buku, Bandung tak mengabarkan banyak “ritual” membacanya. Kita hanya peroleh sedikit cerita kalau “ritus” pembacaan yang ia lakukan mirip Ben. Ia menikmati masa silam pada judul, jenis kertas, gambar, foto, dan huruf. Dan bagaimana kebiasaan membaca, menurut Bandung, berarti kerelaan mencemplungkan diri pada ketakjuban-keterusikan selama bertahun-tahun.

Kisah berbuku yang sedikit ini tentu wajar saja. Berumah di Buku tak dimaksudkan sebagai memoar meski kita peroleh secuplik peristiwa berbuku dari Bandung. Buku itu bayangan hidup manusia-pembacanya.

Bandung memandang zaman sebagai rentang yang jauh. Kesadaran ini membuatnya telaten mengurutkan mata rantai peristiwa dari masa ke masa. Inilah wujud penghormatan terhadap waktu yang menjadi tenaga besar dalam esai-esai yang ia garap. Tapi kesadaran semacam ini sebenarnya patut dimiliki oleh siapa pun. Tak cuma penulis. Sebab, dengan memandang pendek sejarah, kita akan terjerumus menjadi manusia gampang latah dan picik.

baca juga: Indonesia Bertanda Seru

Pembaca yang akrab dengan esai Bandung tentu mengerti betapa gemarnya Bandung mengusung literatur tua. Pembaca mungkin terpukau dengan apa yang ia pacak dalam esainya—kabar dari masa silam yang luput dari genggaman. Dalam kolom Memorabilia di situs basabasi.co, sebagai satu contoh, tiap pekan Bandung menyuguhi pembaca tautan peristiwa dari masa lalu. Mengabarkan ada cerita dan makna dibalik peristwa yang seringkali dilewati hanya sambil lalu.

Di buku catatan kecilnya tentang buku lawas ini, yang ia harapkan dapat menjadi “suguhan berupa gerombolan tulisan di buku tipis mungkin belasan jilid”, pembaca diizinkan mengintip ‘bahan bakar’ esai-esainya. Misal, Bandung mengungkap pengakuan jika Mohammad Hatta adalah sumur melimpah sebagai tenaga menggarap esai bertema demokrasi. Buku Kedaulatan Ra’jat membuat Bandung terpesona secara politik-puitik—sesuatu yang membikin pusing kepala jika kita membayangkan politikus hari ini melakukannya.

Ada satu hal lagi yang patut mengusik sidang pembaca: keengganan Bandung menumpuk buku-buku kuliah. Meski berminat pada bahasa, kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tak menggugah minatnya mengumpulkan bacaan dari sana. Ia malah doyan mengumpulkan buku-buku pelajaran dari masa silam yang seringkali membuatnya terpukau.

baca juga: Menjadi Anak-anak Membaca Sastra Anak

Salah satunya buku Djalan Bahasa Indonesia (1952) susunan Sutan Muhammad Zain. Buku yang diperuntukan siswa sekolah menengah dan sekolah guru pada masa 50-an itu membuatnya kagum. Buku kuliah malah membuatnya “bosan tak berujung”.

Kita ingat nyiyir Ben dalam buku Hidup di Luar Tempurung (2016). Baginya, mengetik hari ini merupakan pekerjaan gampang belaka jika dibandingkan kala ia masih muda (tahun 50-60an). Tapi untuk urusan makalah akademik, dengan sinis Ben berujar kalau tak ada perkembangan stilistika di sana. Bagaimana ilmu pengetahuan rupanya malah menjadi tak tersuguh dengan lezat dihadapan pembaca.

Bandung adalah manusia hari ini tapi rajin menyambangi masa lalu. Pembaca tak mesti repot dengan melakukan pakansi sendirian ke masa silam. Sebab, ketika kembali, Bandung rajin membawa buah tangan kepada pembaca berupa ingatan dan peringatan. Begitu.

  •  

Judul : Berumah di Buku

Penulis : Bandung Mawardi

Penerbit : Basabasi

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: