Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Segar Rohani dalam Sunyi Jasmani

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 14 Feb 2019 Dibaca: 1980 kali


Saat makan siang dengan sambal kecombrang, pembacaan saya sampai pada kemangi yang dikhianati oleh air kobokan. Aroma khas kecombrang yang tak jauh beda dengan kemangi, semacam aforisme pada puisi yang bias makna antar kata. Aforisme yang berkelindan dalam komedi dan tragedi terbaca dalam sekumpulan pwissie yang ditulis Beni Satryo, Pendidikan Jasmani dan Kesunyian.

Batas antara komedi dan tragedi adalah garis tipis tanpa ada ketegasan. Kita bisa menangis karena saking senangnya, atau menertawakan kisah sedih yang menggugah tawa. Sangatlah mudah menemukan keduanya berdampingan, banyak sekali komedian yang memanfaatkan kekurangannya sebagai daya tawar orang lain untuk tertawa. Komedi berjalan beriringan dengan tragedi, rukun, dan jarang terjebak pada gontok-gontokan.

Beni Satryo meracik bait-bait puisi yang menyelamatkan kepenatan atas kerja. Menciptkan tawa tipis pada pembaca yang berada pada ‘antara’ komedi dan tragedi. Puisi-puisi yang dekat dengan para pembacanya, dengan simbol yang kerap diabaikannya. Ia memungut simbol-simbol terabaikan itu dalam tulisannya. Ia merangkai kebahagiaan atas nestapa, membuat gundah di sela-sela pengkhianatan menjadi sebuah anugerah.

baca juga: Berpuisi Sampai Jauh

Puisi-puisi yang dekat membuat pembaca mudah untuk mencernanya dengan sekali telan, entah dengan makna apapun yang akhirnya menjadi debat dan diskusi panjang, sama seperti selera. Antara masakan yang digoreng dan dibakar, sama-sama matang dan enak, tapi memiliki penikmat yang siap memperjuangkan argumennya. Sama seperti pilihan politik, yang tak bisa lepas dari figur yang membawa para pendukungnya untuk saling sikut dan senggol.

Begitulah komedi dan tragedi, keduanya berjalan bersama, saling beriringan, dan saling rukun. Berbeda dengan individu yang memilih untuk berjuang habis-habisan dan senantiasa sepaneng atas jalan hidupnya. Pendidikan Jasmani dan Kesunyian hadir di kala kita sedang ribut dan tegang di antara pilihan yang berat. Puisi-puisi yang habis dalam satu tarikan nafas membuatnya lekas tandas dan menerbitkan pertanyaan.

Buku pwissie bersampul putih ini datang dengan kepercayaan yang meyakinkan, tawa atas runtuhnya kesedihan, sekaligus sepi ditengah-tengah keramaian. Puisi-puisi yang patuh tapi mengajak kita bersenang-senang di atas tata bahasa ini tentu akan mengingatkan kita pada Joko Pinurbo, di mana permainan menyenangkan atas diksi berlangsung di atas pena.

baca juga: Papua dan Demokrasi Agonistik

Jika kita disibukkan dengan rundungan permasalahan, Beni Satryo dengan buku pwissienya siap membawa kita menandaskan permasalahan dengan pecel lele hingga permen yupi, dari Pantura hingga menyambut Senja Utama Yogyakarta. Kerendahan hati Beni Satryo telah menghadiahkan segumpal tawa juga selipan air mata di ujung mata.

Menarik Diri Sejenak

Kita telah menyibukkan diri hingga tak menyadari bahwa banyak waktu kita untuk membahagiakan orang lain. Kita perlu menarik diri sejenak untuk mengobati luka dan meredakan resah atau mempertanyakan ulang arti penting atas hidup. Kadang, beberapa orang tak lagi memiliki waktu untuk sekadar bengong dan berhenti dari segala rutinitasnya, mereka bergerak seperti mesin-mesin robot, tak lagi mementingkan inti hidup sebagai manusia.

Hari ini, gawai adalah sumber dari segala yang kita cari, kita mampu tertawa sekencangnya saat mendapatkan konten yang memicu meledaknya tawa kita. Beberapa dari antaranya adalah ketika melihat konten-konten lucu yang tercipta atas kesakitan orang lain, atau kita akan merasa begitu sedihnya karena terpancing oleh konten-konten yang begitu tragis, seperti penggusuran, pembanguan pabrik yang menyebabkan penyakit kulit karena limbahnya, itu semua adalah batas-batas yang perlu kita siasati dalam hidup, batas antara tragedi dan komedi.

baca juga: Upaya Mencari Benih KAA

Setiap manusia pasti berharap akan datangnya kebahagiaan dengan harapan dan angan yang begitu tinggi, sehingga hal-hal sederhana yang mampu membuat lupa sejenak atas kesedihannya pun terlupa. Menurut saya, membaca sastra adalah salah satu cara untuk menarik diri sejenak dari dunia, memanusiakan diri sendiri kembali, dan memulihkan luka-luka yang menimbulkan keresahan pribadi yang terbengkalai. Tentu, setiap orang memiliki cara lain yang menurut masing-masing adalah untuk menemukan diri sendiri. Menemukan dan menuntaskan diri sendiri adalah hal paling sulit dilakukan, mengeluarkan diri dari kungkungan kepenatan dan berhenti culas terhadap diri sendiri, memungkinkan kita untuk kembali menjadi pribadi yang segar secara jasmani dan rohani. Kita hanya perlu menarik diri sejenak, menenangkan diri, dan menyegarkan kesadaran kita.

Dari Buku Pwissie

Kita patut bersedih dan bingung atas arah hidup yang tak tentu, tapi kadang kita perlu menyiasati ketersesatan. Setelah membaca Pendidikan Jasmani dan Kesunyian saya tiba pada penyesalan, buku ini cepat sekali habis karena terlampau menyenangkan. Melalui buku ini kita menunda sejenak kesedihan, menghadapi kesepian, dan beretorika dengan kenyataan.

Kita hanya butuh menarik diri sejenak, menyandarkan kepercayaan pada pecel lele, nagasari, dan permen yupi. Tak perlu hal yang muluk-muluk untuk membuat dirimu bahagia, berani melawan diri sendiri dengan hal yang remeh temeh seperti membaca puisi untuk sebuah resolusi diri.

Kita memang perlu melawan lupa untuk bahagia.

  •  

Judul: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian

Penulis: Beni Satryo

Penerbit: EA Books

Tebal: 58 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: