Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Sejarah dan Budaya

Wishlist
Stock: Tersedia
Terjual : 5
Jumlah:

#TalkLessReadMore lihat promo di bawah:

Pembelian : Diskon 20% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: talkless
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: readmore
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


“Pada dasarnya, semua orang punya potensi menjadi intelektual, sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya, dan dalam cara menggunakannya. Tetapi tidak semua orang adalah intelektual dalam fungsi sosial.” (Antonio Gramsci)

Buku ini diterjemahkan dari Gramsci’s Prison Notebooks, sebuah catatan-catatan pengalaman politik dan intelektual yang membentuk, mendukung, dan melatarbelakangi gagasan dan pemikiran Gramsci ketika berada di penjara, terutama pemikiran-pemikirannya tentang hegemoni.

Banyak pengamat menganggap pemikiran-pemikiran Gramsci tidak gampang dicerna. Itu karena tulisan-tulisannya banyak menggunakan kata-kata yang tidak langsung menohok permasalahan, sehingga penuh dengan ungkapan-ungkapan kiasan. Semua ini ia lakukan untuk dapat meloloskan tulisan-tulisannya dari sensor penjara.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Berat: gram

Kategori : Tokoh dan Sejarah
Ira Puspitonni, dkk xvi+334 hlm | HVS
Penerjemah : Ira Puspitonni, dkk
Ketebalan : xvi+334 hlm | HVS
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Narasi
Penulis: Antonio Gramsci
Berat : 400 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by