Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Sumbangsih Siauw Giok Tjhan dan Baperki dalam Sejarah Indonesia Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium

Sejarah Indonesia Madya Abad XVI - XIX

A. Kardiyat Wiharyanto
Description
Hal ini menunjukan bahwa pada zaman dulu Indonesia telah berperan dan mempunyai posisi penting dalam perdagangan Internasional.
Stock: Tersedia

Kategori : Tokoh dan Sejarah

Buku Ini Menguraikan Rekontruksi Kehidupan Bangsa Indonesia Pada Abad XVI Sampai XIX dalam Waktu Empat Abad tersebut Terjadilah Proses sejarah bangsa indonesia yang meliputi perkembang agama, ekonomi, budaya, politik, hingga pemerintahan bercorak islam beseta peninggalannya.

Dalam Rekonstruksi tersebut terungkaplah bahwa sejak abad XVI bangsa Indonesia telah mempunyai jaringan perdagangan dan pelayaran yang menghubungkan asia dan Eropa. Hal ini menunjukan bahwa pada zaman dulu Indonesia telah berperan dan mempunyai posisi penting dalam perdagangan Internasional.

Selain Itu , buku ini juga menyajikan pergeseran Kekuasaan Indonesia ke VOC; bubarnya VOC dan politik kolonial Belanda di Indonesia ; masa pemerintahan Daendels, Rafflles, van Der Capellen ; Politik Culturstelsel hingga Politik etis; juga mengungkap masa perlawanan rakyat Indonesia terhadap imperialisme Barat.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
ISBN : 978979108801
Ketebalan : 185 hlm | HVS
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia, 2008
Stock: Tersedia
Penerbit: Penerbit USD
Penulis: A. Kardiyat Wiharyanto
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by