Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Sejarah Lengkap Wahhabi Sejarah Maritim Indonesia

Sejarah Lisan

Sugeng Priyadi
Description
No document, no history merupakan ungkapan yang mendewakan dokumen sebagai data sejarah yang dianggap paling penting.
Stock: Out of Stock

 Pembelian : Diskon 15% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: dirumahaja 

 Pembelian : Diskon 25% Off all item min beli: 3 buku. Kode kupon: bacadulu

 Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000

 Special Offer: Diskon 20% + Bonus Notes 


Kategori : Tokoh dan Sejarah
No document, no history merupakan ungkapan yang mendewakan dokumen sebagai data sejarah yang dianggap paling penting. Dokumen adalah data tertulis sejarah yang ditinggalkan oleh tokoh dan masyarakat dari masa lampau. Keberadaan dokumen menjadi tuntutan bagi penulisan sejarah. Secara ekstrem, ketiadaan dokumen membuat sejarawan mengalami kesulitan karena dokumen bisa terbaca dengan mudah meskipun berasal dari masa yang jauh dengan masa kehidupan sejarawan di masa kini.
 
Dokumen ditulis seseorang yang berasal dari masyarakat sebagai cetusan kecerdasan, yang biasanya akan selalu ditemukan dari masyarakat mana pun. Orang cerdas tersebut mewakili masyarakat sebagai juru bicara yang dilatarbelakangi oleh budaya dan zaman tertentu, misalnya, memoire yang ditulis oleh Roem (1972) tentang persoalan kesejarahan pada masanya sebagai seorang perunding dalam peristiwa-peristiwa diplomasi untuk kepentingan kemerdekaan Republik Indonesia.
 
 

Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
ISBN : 9786022582632
Ketebalan : 262 hlm l Bookpaper
Dimensi : 14 x 21 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia, 2014
Stock: Out of Stock
Penerbit: Ombak
Penulis: Sugeng Priyadi
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by