Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Semaoen: Sang Anak Ayam Berkokok

Oleh: Syahrul Jihad         Diposkan: 16 Nov 2018 Dibaca: 1398 kali


Semaoen lahir pada tahun 1899, di sebuah kota kecil Mojokerto tepatnya di daerah Tjurahmalang, kira-kira 40 kilometer barat daya kota Surabaya.[1] Ayahnya adalah Prawiroatmojo seoarang pekerja rendahan jawatan kereta api, lebih tepatnya seoarang tukang batu yang hidupnya sedikit cukup. Meski bukan anak seorang yang kaya dan seorang priayi, Semaoen berhasil di terima di sekolah Tweede Klas atau sekolah bumiputera angka dua pada tahun 1906, dan memperolah tambahan pendidikan bahasa Belanda. Semaoen mengikuti semacam kursus sore hari yang diselenggarakan oleh Earste Las Indlandche, yang kemudian dikenal dengan HIS, sekolah dasar yang diperuntukkan bagi anak priayi dan orang kaya.[2]

Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya dan setelah mendapatkan sertifikat “Klein Abtenaar”, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian ia memutuskan untuk bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis. Usianya baru 13 tahun saat berhasil melaksanakan ujian pengetahuan umum dan ujian station-commies pada tahun 1912.[3]

Perkembangan Sarekat Islam yang sangat pesat memerlukan reorganisasi, maka pada 23 Maret 1913 diadakan kongres Sarekat Islam yang pertama di Surakarta. Pada waktu itu Sarekat Islam memiliki 48 cabang, dengan jumlah anggota 200.000 jiwa. Inilah sebabnya, selain komisi pusat dibentuk pula komisi daerah, masing-masing untuk Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat itu, ketua komisi pusat ialah H Samanhoedi sedangkan Tjokroaminoto sebagai wakilnya.[4]

baca juga: Merespons Jeritan Bumi

Pada 29 Maret 1913 Gubernur Jenderal Idenburg memberikan pengakuan resmi kepada Sarekat Islam, meskipun demikian dia hanya mengakui organisasi-organisasi tersebut sebagai suatu kumpulan cabang yang otonom saja dari pada suatu organisasi nasional yang dikendalikan oleh markas besarnya Central Sarekat Islam (CSI).[5] Diketuai oleh Agus Salim dan Abdul Muis sebagai wakilnya. Sifat politik dari organisasi ini menetapkan bahwa agama Islam dipergunakan sebagai asas gerakan mengenai persamaan derajat manusia. Negara atau pemerintah hendaknya tidak ikut campur dengan suatu agama, melainkan melakukan kebijakan dengan melibatkan berbagai agama. CSI tidak mengakui satu golongan rakyat berkuasa atas golongan rakyat yang lain dan menginginkan suatu bentuk pemerintahan sendiri, serta hancurnya kapitalis yang jahat.[6]

Di usia 14 tahun, Semaoen mulai muncul di panggung pergerakan. Tahun 1914 Semaoen mulai bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdelling Surabaya. Di tahun itu juga, ia terpilih menjadi pengurus SI Surabaya yakni menjabat sebagai seketaris. Pada awal tahun 1915 di kota Surabaya, Semaoen bertemu dengan Henk Sneevliet,[7] orang yang sangat berperan dalam memperkenalkan paham komunisme pada kalangan Pergerakan Nasional Indonesia.[8]

Semaoen sangat tertarik dengan Sneevliet karena sikap kemanusiannya yang dinilai tulus dan bebas dari materialistis kolonial. Pertemuanya dengan Sneevliet membuat Semaoen diajak untuk masuk ke “Indische Sociaal Democratische Vereeniging” (ISDV) afdeeling Surabaya, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda yang didirikan oleh Sneevliet dan “Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel” (VSTP)[9] afdeeling Surabaya, serikat kereta api dan trem.[10]

baca juga: Pesantren: Keaksaraan dan Indonesia

Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916, sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena ia diangkat sebagai propagandis VSTP yang digaji. Semaoen menguasi bahasa Belanda dengan cukup baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuannya dengan jalan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa ia bisa menempati posisi-posisi penting di kedua organisasi Belanda tersebut.[11] Menurut kesaksian Marco Kartodikromo, seorang jurnalis yang terkenal pada masa itu, yang bertemu Semaoen pertama kali pada tahun 1915, Semaoen sangat dekat dengan Sneevliet dan H.W. Dekker. Semaoen giat dalam organisasi dan berbicara dalam rapat-rapat VSTP.[12]

Di Semarang, Semaoen juga menjadi editor Si Tetap, surat kabar VSTP berbahasa Melayu dan menjadi redaktur Sinar Djawa, surat kabar dari Sarekat Islam (SI) Semarang. Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi tersebut. Pada tahun belasan itu, ia terkenal sebagai jurnalis yang handal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.[13]

Semaoen pada tahun 1918 menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Pada usia 18 tahun, ia dipilih sebagai ketua SI menggantikan Mohammad Joesoef.[14] Sebagai ketua SI Semarang, ia  banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.[15]

baca juga: Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Semaoen yang tumbuh dalam pergerakan Sarekat Islam dan aktif di ISDV mengalami perkembangan pemikiran setelah bertemu dengan Sneevliet. Dalam kepemimpinannya, ia menggunakan senjata baru dalam perjuangannya melawan imprealisme, yaitu teori perjuangan Marx.[16] Semaoen membangun gerakan dalam SI yang berideologi Marx yang berbasis komunis menjadi mesiu bagi perkembangan sarekat buruh. Semaoen memperkenalkan kepada pribumi konsep mengenai imperialisme, kapitalisme, dan internasionalisme. Semaoen sangat bersih keras bahwa organisasi pribumi jangan sampai terperosok uluran tangan kerjaan Belanda. Gagasan keras dan revolusioner menjadi magnet bagi perkembangan gerakan kemerdekaan. Semaoen yang menolak berbagai dominasi penjajah kolonial Belanda, sehingga menguatkan dominasinya terhadap SI. Sebagai pucuk pimpinan SI Semarang, Semaoen membangun gerakan sarekat buruh dalam PPKB yang pada perkembangannya menjadi pusat pergerakan buruh.[17]

Keterlibatan Sneevliet dan Semaoen dalam tubuh SI mengakibatkan konflik internal dalam tubuh SI. Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Semaoen menjadi ketuanya.[18]

Bulan Mei 1921, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) didirikan setelah pendiri ISDV di deportasi, Semaoen menjadi ketua pertama. PKI pada awalnya adalah bagian dari SI, tetapi akibat perbedaan paham pada akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah.[19]

baca juga: Di Indonesia, Bahaya Laten Abad XXI itu Harus Tetap PKI

Konflik dalam tubuh SI akhirnya melahirkan dua kubu, kubu Agus Salim dan kubu Abdul Muis—Semaoen. Tan Malaka mengkritik mengenai sikap Semaoen dan SI tentang disiplin partai. Semaoen sebagai ketua SI Semarang tapi juga aktif di dalam ISDV/PKI. Semaoen ditempatkan pada pilihan yang sulit. Tahun 1921 golongan kiri dalam tubuh SI disingkirkan dan kemudian menamakan dirinya Sarekat Rakyat yang secara terbuka berada di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI). Perpecahan ini kemudian sangat merugikan perjuangan dan cita-cita dari Sarekat Islam (SI).[20]

 


[2] Soewarsono, Berbareng Bergerak “Sepenggal Riwayat Dan Pemikiran Semaoen”, (Yogyakarta: LkiS, 2000), hlm. 40.

[3] Ibid, hlm. 40.

[4] Bambang Suwondono, dkk, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Timur, (Jakarta : Balai Pustaka, 1978), hlm. 48-57.

[5] Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta : Gajah mada University Press, 2005), hlm. 253.

[6] Sartono Kartordirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah pergerakan Nasional, (Yogyakarta : Ombak, 2014), hlm. 144-147.

[7] Henk Sneevliet adalah seorang anggota “Social Democratische Partij”, bentuk awal partai komunis di Belanda, ia datang di Hindia Belanda pada bulan Februari tahun 1913. Tujuan kedatangannya ke Hindia Belanda tidak lain untuk mencari pekerjaan. Di Belanda, setelah ia memimpin pemogokan buruh galangan kapal di Amsterdam, sangat sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu ia mencari peruntungan di Hindia Belanda. Sneevliet pertama-tama diterima berkerja sebagai staff editor Soerabajaasch Handelsblad. Dalam bulan mei 1913 ia pindah ke Semarang untuk menggantikan kedudukan rekannya D.M.G. Koch sebagai seketaris “Semarang Handlesvereeniging”. Sebagai seorang tokoh sosialis dan propagandis serekat pekerja profesional, dengan segera ia dan rekan-rekannya J.A. Brandsteder, H.W. Dekker dan P. Bergsma mengambil inisiatif untuk mendirikan “Indische Sociaal Democratische Vereeniging” (ISDV) dalam bulan mei 1914 di Surabaya. Sneevliet juga bekerja sebagai editor De Volharding, surat kabar berbahasa Belanda di Semarang yang menjadi organ dari “Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel” (VSTP). Organisasi ini didirikan pada tahun 1908 di Semarang oleh dua orang tokoh sosialis Belanda yakni C.J Hulshoff dan H.W. Dekker, sebagai perkumpulan pegawai Eropa “Nederlandsch Indische Spoorweg” (NIS) dan “Stastsspoor” (SS). Akan tetapi, karena jumlah pegawai bumiputera terpelajar dan cakap dalam tahun 1910-an cukup banyak, atas pengaruh Sneevliet, maka dalam tahun 1913 pimpinan VSTP memutuskan untuk menerima juga anggota bumiputera. Semakin meningkatnya jumlah pegawai bumiputera yang menjadi anggota VSTP terjadilah sebuah perubahan. VSTP yang semula didominasi oleh orang-orang Eropa menjadi Sarekat Sekerja Bumiputera yang besar. Selama satu tahun sejak kedatanagannya di Semarang, Sneevliet berhasil mengarahkan VSTP untuk bergerak ke ranah yang lebih radikal guna memperbaiki nasib pegawai-pegawai bumiputera yang tidak cakap dan miskin. Lihat Dewi Yuliati, Semaoen, Serikat Buruh Dan Pers Bumiputera Dalam Pergerakan Kemerdekaan (1914-1923), Jurnal Sejarah Pemikiran, Rekontruksi, Persepsi, no 5, Juli 1994, hlm. 45.

[8] Soewarsono., op.cit., hlm. 42.

[9] Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP) didirikan pada 14 november 1908 di Semarang, Jawa Tengah oleh 63 buruh Eropa yang bekerja pada 3 jalur kereta Nederlansch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Semarang-Joana Maatschappij Stoomtram (SJS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Semaoen masuk VSTP cabang Surabaya pada akhir 1914, dan dia terpiliha menjadi ketua cabang awal 1915. Pada 1 Juli 1916, Semaoen pindah ke Semarang menjadi propagandis utama VSTP dan editor Si Tetap. Semaoen begitu gigih membangun VSTP. Pada 1920 dia telah membangun 93 cabang di pulau Jawa (Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Madiun), beberapa di Pantai Barat Sumatera dan pada perkkebunan Deli. Anggota Vstp pada mei 1923 telah mencapai 13.000 orang, atau seperempat buruh industri perkeretaapian hindia Belanda. Lihat : DS., Soegiri dan Edi Cahyono, Gerakan Serikat Buruh, (Hasta Mitra, 2003)

[11] Soewarsono., op.cit., hlm. 42

[12] Marco Kartodikromo, “Korban Pergerakan Rakjat: Semaoen”, dalam surat kabar Hidoep, tahun 1924. hlm. 17.

[13] Soewarsono., op.cit., hlm. 43.

[14] Ibid., hlm. 45.

[15] Ibid., hlm. 64.

[16] Sartono Kartodirdjo, op.cit., hlm. 189.

[17] Soewarsono., op.cit., hlm. 43.

[18] Ibid,. hlm. 42.

[19] Ibid,. hlm. 42.

[20] Ibid,. hlm. 46.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: