Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Seneca, Kawan Lama yang Hadir Kembali

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 09 Jan 2020 Dibaca: 1960 kali


SENECA lahir pada suatu tempat dan zaman yang jauh, tapi kita berjumpa dengannya kini seperti seorang kawan yang datang setelah lama merantau, dan ia datang dengan gemilang. Ada gelombang meningkatnya popularitas Stoikisme yang bisa kita tengarai akhir-akhir ini melalui terbitnya beragam buku, misalnya The Daily Stoic (Ryan Holiday, 2016), How to be a Stoic (Massimo Pigliucci, 2017), The Practicing Stoic: A Philosophical User's Manual (Ward Farnsworth, 2018), dan Live Like A Stoic: 52 Exercises for Cultivating a Good Life (Massimo Pigliucci dan Gregory Lopez, 2019).

Mari kerucutkan ke lanskap lokal. Tahun 2018, Henry Manampiring mempublikasikan buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini (Kompas), tahun 2019 KPG menerbitkan terjemahan buku Rolf Dobelli, The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad ke-21, Kanisius menerbitkan Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme karangan A. Setyo Wibowo, Basabasi menerbitkan empat Buku Seri Hidup Bahagia yang salah satu di antaranya adalah karya salah satu dari tiga filsuf utama Stoikisme: Seneca, Tentang Hidup yang Singkat

Daftar itu saya yakin masih bisa diperpanjang, tetapi bagi saya yang lebih menarik dari itu adalah mengajukan pertanyaan: kenapa terjadi semacam itu?

Tentu berbicara tentang produksi buku kini sama dengan berbicara tentang banyak faktor yang berkaitan dengan pasar. Perkembangan terkini kritik sastra Marxis, misalnya, sudah merambah pada relasi antara proses kreasi produk dengan pasar sebagai relasi yang tak sesederhana kelihatannya. Pasar bisa diciptakan, tetapi penciptaan pasar itu sendiri cenderung tidak menggunakan prinsip “kreasi dari ketiadaan”, para pencipta pasar biasa mengamati benih-benih pasar, memutuskan kreasi produk, baru kemudian menyirami benih tersebut untuk menghasilkan relasi harmonis antara produk dengan pasar.

Benih itu tampaknya bisa kita runut kepada kebangkitan stoikisme modern yang terjadi pada akhir abad 20 sebagai perkembangan ketiga dari dua fase sebelumnya, stoikisme klasik (awal abad ke-3 SM) dan neostoikisme (abad ke-17 M). Jika neostoikisme adalah percampuran antara stoikisme klasik dengan doktrin Kristiani, stoikisme modern adalah upaya pemilahan konsep-konsep stoikisme disesuaikan dengan kehidupan modern. Fase ini melibatkan tiga jenis penerbitan: pertama, penerbitan karya-karya babon para filsuf stoik, kedua, penerbitan interpretasi karya-karya tersebut dan ketiga, pengukuhan konsep stoikisme modern. Jika buku-buku yang disebutkan dalam paragraf awal di atas adalah jenis kedua, maka penerbitan risalah Seneca (kita tinggal menunggu terbitnya terjemahan karya Epictetus dan Marcus Aurelius oleh penerbit “kita”) seperti yang dilakukan Basabasi adalah jenis pertama.

Pertanyaan selanjutnya: kenapa stoikisme modern bangkit pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 kini?

Jika kita mengikuti perkembangan dunia penerbitan buku sekarang ini maka sebelum penerbitan buku-buku stoikisme modern pada awal abad 21 ini kita melihat fenomena banyaknya penerbitan buku-buku kritik agama, baik yang secara radikal mengulang Masa Depan Sebuah Ilusi-nya Sigmund Freud (terjemahan Indonesia terbit tahun 2019) seperti The God Delusion-nya Dawkins (terbit pertama tahun 2006, terjemahan Indonesia tahun 2014) ataupun yang merupakan introspeksi pada pandangan keagamaan tertentu. Dalam konteks lokal, pada jenis yang kedua ini kita bisa melihat misalnya penerbitan buku-buku yang mengkritik Wahabisme.

Pada jenis yang disebutkan terakhir ini, kita melihatnya sebagai sebuah reaksi terhadap maraknya penampakan raut umat beragama sebagai raut manusia-manusia yang marah. Sensitivitas yang berlebihan, pemaksaan bahwa beragama harus begini dan kalau tidak maka kafir, berusaha diredam dengan menyodorkan literasi agama yang lebih damai. Sebagian dari kita mungkin menerima reaksi itu untuk mengukuhkan kembali nilai positif agama, tetapi sebagian yang lain tampaknya bergerak ke jurusan berbeda mencari alternatif.

Pada titik ini, stoikisme modern tampak sebagai alternatif yang memiliki kedekatan dengan bukan hanya tradisi-tradisi agama besar melainkan juga dengan beberapa praktik “penenangan diri” yang juga populer kini, misalnya yoga. Stoikisme modern memberikan jalan bagi manusia untuk menjadi humanis (dalam islam: habl min an-nas) dan memeluk nilai-nilai spiritual (dalam islam: habl min Allah) tanpa harus melekatkan diri pada ekstrem agama tertentu yang mungkin dihindari oleh sebagian dari kita.  

Pada saat yang sama, gelombang penerbitan buku-buku stoikisme ini merupakan gelombang kecil yang mengikuti arus penerbitan buku-buku motivasi yang tak pernah surut. Manusia selalu ingin bahagia dalam hidupnya dan stoikisme menawarkan praktik untuk mencapai tujuan itu. Kita boleh mengatakan bahwa stoikisme modern memungkinkan buku-buku stoikisme pada masa kini bergabung dengan buku-buku motivasi dan penyembuhan-diri meski dengan mengatakan demikian maka kita mungkin fokus hanya pada satu ranah stoikisme sebagai aliran filsafat: Etika.

*

Seneca, Lucius Annaeus Seneca, lahir di Kordoba kira-kira tahun 4 SM dan meninggal di Roma pada tahun 65 M. Dia adalah salah satu dari tiga tokoh besar Stoikisme bersama dengan Epiktetus dan Marcus Aurelius. Bukunya yang diterjemahkan Basabasi sebagai Tentang Hidup yang Singkat memuat tiga risalah: “Tentang Hidup yang Singkat” (De Brevitate Vitae, On the Shortness of Life), “Penghiburan kepada Helvia” (Ad Helviam matrem, De Consolatione, Untuk Helvia, Tentang Penghiburan), dan “Perihal Kedamaian Pikiran” (De Tranquillitate Animi, Tentang Ketenangan Pikiran).

“Tentang Hidup yang Singkat” ditulis untuk Paulinus, mertua Seneca, pada tahun 49 M. Istri Seneca adalah Pompeia Paulina. Pompeius Paulinus adalah seorang praefectus annonae, petugas yang mengawasi suplai gandum ke Roma.  

Di dalam risalah ini, Seneca mengkritik manusia yang biasa memandang waktu hidup mereka terlalu singkat. Bagi dia, pandangan semacam itu bisa muncul karena mereka tidak mengatur waktunya dengan baik, karena mereka tidak menghargai waktu hidup. Orang bisa terlena dalam dua bentuk: terlena dalam kemalasan, terlena dalam kesibukan. Pada titik inilah Seneca membedakan antara sekadar “waktu” dengan “waktu hidup”.

Waktu yang dihabiskan untuk bermalas-malasan atau sebaliknya menyibukkan diri untuk mencapai ambisi, ketamakan, hasrat, keinginan pamer, hanyalah “waktu”, dan akan terasa singkat meskipun durasinya lebih dari 1000 tahun. “Waktu hidup” adalah waktu yang dihabiskan untuk belajar bagaimana cara menjalani hidup dan bersama itu cara menerima kematian. Waktu belajar ini seumur hidup dan karena itulah waktu merupakan sesuatu yang berharga, “aset yang paling berharga dalam hidup”. 

Waktu hidup itu sendiri dibagi tiga fase: masa lalu, masa kini, masa depan. Masa lalu itu pasti, masa kini itu singkat, masa depan itu tidak pasti. Orang yang tak menghargai waktu biasa meratapi masa lalu dan merancang masa depan pada masa kini. Dengan demikian, ia sama sekali tidak berbahagia karena dia tidak menjalani hidupnya di masa kini secara utuh. Seorang filsuf atau seorang yang bijak itu merenungkan masa lalu, menjalani masa kini dengan utuh, dan mengantisipasi masa depan. Dengan menempatkan diri sebagai “anak” filsuf, orang mendapatkan warisan ilmu yang akan semakin banyak tiap kali dibagikan dan pada akhirnya akan membuat generasi mendatang mengingat dan menghormatinya.

“Penghiburan kepada Helvia” ditulis sebagai surat untuk Helvia, ibu Seneca, antara tahun 40-45 M. Surat itu ditulis sebagai hiburan atas kesedihan ibunya karena pengasingan Seneca ke Corsica. Pengasingan itu dilakukan karena Seneca yang saat itu merupakan senator dituduh melakukan tindakan tak senonoh dengan Julia Livilla, saudari kaisar Caligula (memerintah tahun 37-41 M) pada tahun 41 M. Tuduhan itu dibuat oleh Messalina, permaisuri kaisar Claudius (memerintah 41-54 M). Pengasingan itu terjadi selama 8 tahun.

Dalam risalah ini, Seneca menunjukkan contoh bagaimana melakukan penghiburan atas duka dengan menggunakan apa yang dia sebut bukan merupakan “obat yang manis” melainkan “sebilah pisau yang tajam”, yakni dengan membuka ingatan tentang semua luka lain yang sudah sembuh. Ketika orang terluka, ia harus bersikap seperti prajurit, bukannya meratapi luka, ia harus tetap tenang dan menjalani pengobatan.

Bagi Seneca, pengasingannya tidak membuat dia sedih. Dia membandingkan dirinya dengan prajurit yang sudah bersiap menerima luka bahkan ketika peperangan belum terjadi. Dia sejak awal menjaga jarak dari uang, jabatan, dan pengaruh, sehingga ketika tiga hal itu terlepas, ketiganya terlepas dengan wajar, bukan direnggut. Dalam pengasingan dia justru memiliki lebih banyak untuk merenung dan mempelajari banyak hal.  

Seneca, dengan mengutip Varro, mengatakan bahwa “ke mana pun kita pergi, yang akan dihadapi sama saja”, dengan demikian pengasingan sama sekali tidak lagi menghasilkan efek keterasingan. Baginya apa yang terjadi pada manusia selama hidupnya itu dirasuki “entitas ilahiah, takdir, atau serangkaian kausalitas.” Dengan meyakini bahwa dunia ini digerakkan oleh takdir, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan manusia, dunia ini menjadi “harta yang paling indah dan yang akan selalu ada selama kita bernafas”.   

Setelah itu Seneca memuji ibunya sebagai ibu yang dengan rasa dukanya itu menunjukkan bahwa ia sangat sayang kepada anak-anaknya. Meskipun demikian, tenggelam dalam duka itu berlebihan, sementara jika tidak berduka sama sekali maka itu adalah ketidakwajaran. Pengasingan dirinya adalah takdir, sementara takdir tidak bisa disalahkan karena takdir juga yang memberikan keberuntungan. Menariknya, Seneca mengatakan daripada mengakali takdir—dengan mencari hiburan—maka lebih baik menaklukkannya dengan akal, karena mengakali takdir dengan cara semacam itu hanya akan membuat duka makin menyayat saat ia kembali terpantik. 

“Perihal Kedamaian Pikiran” ditulis oleh Seneca untuk temannya Annaeus Serenus, diperkirakan antara tahun 49-62 M. Karya ini ditulis dalam bentuk dialog antara Seneca dan Serenus dan merupakan karya yang berdasarkan kontennya bisa dikategorikan terapeutik atau konsultasi medis, yakni ditujukan untuk menyembuhkan ansietas, rasa khawatir, dan kejijikan atas kehidupan.

Serenus mengatakan bahwa dirinya pada dasarnya menyukai kehidupan sederhana, tetapi ia merasa terganggu oleh kultur yang mengajarkan orang menggunakan pakaian mewah dan mahal, menghiasi rumah dengan kemewahan. Melarikan diri dari pertentangan pikirannya, ia kemudian aktif juga dalam politik. Ia mengetahui bagaimana cara-cara licik untuk meraih posisi lebih tinggi, tetapi ia menjauhinya, tujuan dia berpolitik semata untuk membantu “teman, kerabat, rakyat, dan umat manusia.” Saat ada kejadian yang di luar kendalinya, dia akan beristirahat dan memutuskan bahwa dia akan menikmati waktunya sendirian untuk dirinya sendiri. Tetapi ketika kemudian pikirannya sudah kembali bersemangat, dia ingin segera kembali ke forum untuk menolong orang meskipun belum tentu berhasil.

Bagi Seneca, apa yang dialami oleh Serenus adalah gejala ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Hal itu dilahirkan oleh kerapuhan mental dan keinginan yang tidak terpenuhi. Ketenangan pikiran bisa diraih dengan memilih jalan tengah di antara dua ekstrem yang lazim: hasrat untuk menjalani hidup dengan kontemplasi dan kebutuhan untuk terlibat aktif dalam politik.

Orang bisa mengalami kejemuan, seperti Serenus, sementara terjun ke dalam politik aktif adalah salah satu solusi. Bagi Seneca sendiri, dunia politik terlalu riuh karena manusia terlalu ambisius, kebenaran seringkali dibelokkan, dan kejujuran tidak lagi luhur, karena itu lebih baik dijauhi. Ketika orang mengasingkan diri dari dunia politik, maka tidak bisa dikatakan dia abai dari “pengabdian kepada negara”, karena dalam masa itu dia bisa mencurahkan waktu hidupnya untuk belajar dan mewariskannya kepada generasi muda yang juga merupakan tindakan bermanfaat.  

Seneca juga menyinggung harta benda sebagai sumber derita yang paling merugikan manusia dan kepura-puraan gaya hidup di hadapan orang lain untuk menjaga gengsi sebagai sumber kegelisahan. Semakin sedikit harta seseorang maka akan semakin sedikit dia merasa merugi saat kehilangan hartanya. Sementara dengan merasa bahwa orang lain selalu memperhatikan kita, kita akan selalu merasa gelisah. Orang hanya bisa mencapai kedamaian pikiran ketika dia sudah merasakan kebebasan, yakni bebas dari “belenggu kekhawatiran, mengemansipasinya, memperkuatnya, dan mempertegasnya”. 

Jadi, begitulah kira-kira konsep hidup bahagia menurut Seneca. Memandang hidup sebagai sebuah tindakan menjalani peran dalam satu sistem besar yang disebut sebagai Alam. Peran itu sudah diberikan kepada manusia dan biasa kita sebut sebagai Takdir. Dalam apapun yang diberikan kepada kita ada kebaikan: ketika diasingkan di Corsica dan harus tinggal di gubuk dan makan serta mengenakan pakaian seadanya, Seneca mengatakan bahwa setidaknya gubuk itu bisa melindungi dia, sementara kebutuhan akan makan dan berpakaian itu sebenarnya tidak besar-besar amat, alam sudah menyediakan makanan dan hanya keserakahanlah yang membuat manusia bersusah payah melakukan upaya-upaya sulit hanya untuk mengenyangkan perut dan memamerkan pakaian indah.

Dengan bersikap seperti itu, manusia sudah melepaskan diri dari “beban nafsu duniawi” yang membuat waktu hidup terasa singkat dan terbuang sia-sia. Jika sudah demikian, manusia akan bisa “merenungi hal-hal spiritual” dan tidak terganggu oleh perubahan lanskap geografis, wujud pakaian, ataupun jenis makanan.

*

Sedikit mengulang apa yang sudah saya singgung di awal tulisan ini, kegandrungan kembali akan stoikisme kini menandakan situasi kita sekarang yang terjepit dalam dua arus, Hedonisme (ditandai dengan kegandrungan akan prinsip kenikmatan dengan menggunakan sarana apapun) dan Pesimisme (yang sampai tataran tertentu bisa dikatakan mirip dengan Sinisme klasik: ketidakpercayaan bahwa perkembangan teknologi bisa memberikan fungsi konstruktif bagi manusia), kita mencari opsi alternatif di antara keduanya. Stoikisme, digandrungi kembali pada awal abad ke-21 sebagai Stoikisme Modern, menjadi opsi yang menarik berdampingan dengan berbagai teori dan/atau praktik “penenangan diri” yang lain.  

Di satu sisi, dunia riil kita didesak oleh kultur yang melihat segalanya berdasarkan wujud luaran untuk bersaing: kemewahan barang elektronik, alat transportasi, perabot rumah, pakaian. Pada saat yang sama pikiran kita dikacaukan oleh keruwetan kombinasi budaya pamer dan bertengkar perihal politik dan agama di dunia maya. Pilihan untuk terjun ke dalam kekacauan itu—dengan risiko kekacauan pikiran dan kesia-siaan—atau menutup diri dari segala perkembangan dunia luar kita seperti seorang sufi yang melakukan uzlah di pucuk gunung menyebabkan kekacauan pikiran yang membuat kita makin jauh dari bahagia, kekacauan pikiran yang kira-kira sama dengan yang dihadapi oleh Serenus dua puluh abad silam.

Sebagian dari kita mungkin menengok pada praktik “penenangan pikiran” untuk menyembuhkan diri sendiri. Bagi sebagian dari kita, agama, yang pada masa kini cenderung menyodorkan raut yang tidak menenangkan pikiran, cenderung bukan merupakan jalan kembali. Menarik melihat bahwa pada dasarnya stoikisme memiliki kemiripan dengan praktik asketisme (askesis bermakna latihan) ringan. Dalam agama Islam, sufisme sebagai bentuk asketisme kerap berada pada posisi bertentangan dengan posisi yang diambil oleh yurisprudensi dan teologi.

Pada zaman kini ketika risalah-risalah yang menyerang organized religion terbit dengan bebas dan digandrungi pembaca, pada zaman ketika kita melihat wajah para penganut agama kerap diwakili oleh raut-raut beringas yang memaksakan kebenaran tunggal, pada zaman ketika kultur pamer dan hobi bertengkar melingkupi kita, stoikisme tampaknya menjadi alternatif yang menyenangkan untuk mencapai kedamaian hidup—yang merupakan tujuan “beragama”—tanpa harus berpihak pada salah satu ekstrem dominan.

Mungkin karena itulah kita menyambut Seneca seperti menyambut seorang kawan lama yang suatu hari pergi lalu kembali lagi kini sebagai si bijak yang siap membantu kita menghadapi zaman kacau, siap menuntun kita menjalani hidup dengan bahagia. 

  •  

Judul: Tentang Hidup yang Singkat

Penulis: Seneca

Penerjemah: Carissa Fadina Permata

Penerbit: Basa Basi

Tebal: 102 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: