Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Seni: Nalar Kreatif yang Memberontak

Oleh: Karunia Haganta         Diposkan: 06 Aug 2019 Dibaca: 1115 kali


L’art pour l’art (Seni untuk seni) adalah semboyan yang cukup terkenal di dunia seni. Ungkapan dalam bahasa Prancis yang menyatakan visi seni untuk hanya sekadar berkesenian. Tindakan dan hakikat seni hanya ada di dalam seni itu sendiri. Seni adalah keindahan yang tak perlu hal yang lain untuk mencapai keindahannya. Justru seni tidak bisa dihadapkan dengan hal yang dianggap kotor, politik misalnya.

Ungkapan ini kuat karena seperti itu realita yang bisa kita lihat. Seni harus dipahami dalam dimensinya sendiri. Dimensi yang sepenuhnya terpisah. Melihat seni dengan pandangan dari dimensi di luar seni tidaklah relevan. Jadi adakah seni yang politis?

Saut Situmorang pernah menuliskan buku berjudul Politik Sastra. Tujuan khusus dari buku itu sebaiknya Anda baca sendiri. Tapi dari judulnya sudah dapat diterka, apa maksud umum ditulisnya buku itu. Penyadaran bahwa ada yang namanya politik sastra.

baca juga: Filsafat Mencintai

Gagasan politik sastra ini bukan buah pikiran yang tiba-tiba turun dari langit. Saut bukanlah Nabi Adam dalam penelaahan atas politik sastra. Ada banyak catatan mengenai betapa politis sastra itu sendiri. Serta bagaimana sastra itu berpolitik dengan caranya sendiri.

Buku Seni, Politik, Pemberontakan adalah antologi tulisan mengenai seni politis, meski porsi untuk pembahasan sastra sangatlah besar. Tulisan ini dihimpun dari esai Albert Camus, Leon Trotsky, William Philip, Stephen Spender, Barbara Rose, dan Nicola Chiaromonte.

Tulisan pertama adalah tulisan Albert Camus yang berjudul Seni, Politik, Pemberontakan. Camus meletakkan seni secara radikal dengan kesejalanan seni dengan pemberontakan. Dengan terlebih dahulu menuliskan disingkirkannya seni dalam pemberontakan, karena (anggapan) seni tak berdaya di luar dirinya, Camus justru menunjukkan hubungan sastra dan pemberontakan. Dalam setiap pemberontakan, terlihat tuntutan metafisik bagi adanya suatu kesatuan, ketidakmungkinan memperoleh kesatuan tersebut, dan perlunya diciptakan sesuatu sebagai penggantinya (hal. 5).

baca juga: Genderuwo di Siang Bolong

Meski Nietzsche berkata bahwa “tidak seorang pun seniman dapat menerima kenyataan”, Camus membalas bahwa seniman sekaligus tidak dapat hidup di luar kenyataan. Seniman justru memberi terobosan dalam pemberontakannya melalui seni. Misalnya novel yang disebut “berusaha menemukan dan menciptakan gambaran-gambaran baru untuk dituangkan dalam kreasi mereka.” (hal. 11)

Bagaimana bisa novel yang kisah rekaan itu diletakkan setara dengan hal-hal yang revolusioner, yang mengutamakan tindakan dan aktualitas? Novel justru kerap hadir sebagai ungkapan peyoratif untuk hal yang justru terlalu asyik dengan khayalan dan rekaan. Sifatnya justru kontra-revolusi. Biar bagaimanapun “gambaran-gambaran baru” dalam novel hanyalah pelarian. Camus menjungkirbalikkan argumen ini. Beberapa novel mengisahkan hal-hal tragis yang tidak dapat disebut pelarian. Dunia novel adalah koreksi terhadap dunia kita sendiri (hal. 17).  Koreksi ini pertama-tama bertujuan mencapai kesatuan, dan dengan cara ini sebenarnya ia juga sedang menerjemahkan suatu kebutuhan metafisis (hal. 20). Karenanya pemberontakan itu kreatif (hal. 24).

Tulisan kedua berjudul Seni dan Politik yang ditulis Leon Trotsky. Bagi Trotsky, seni adalah ekspresi dari kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap, yaitu untuk memperoleh hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkela (hal. 27). Dari definis yang ia berikan ini, Trotsky menjadikannya sebagai titik berangkat untuk analisis atas dunia seni, terutama di Soviet, pada zamannya.

baca juga: Harga untuk Kebebasan yang Disangkal

Trotsky melihat bahwa dunia seni menghadapi krisis. Hadirnya seni ternyata masih didominasi oleh masyarakat borjuis. Seiring dengan kemerosotan masyarakat borjuis di dalam kapitalisme, seni menemui jalan buntu. Sehingga perkembangan seni bergantung pada revolusi. Fungsi seni sangat ditentukan oleh hubungannya dengan revolusi (hal. 30).

Tapi Trotsky berpendapat bahwa seniman setelah revolusi hanyalah berganti majikan. Seni tidak mengabdi pada masyarakat borjuis tapi mengagung-agungkan rezim otoriter Stalin. Dengan sifatnya yang jinak, yang disebut seni Soviet ini telah menjadikan mitos birokratik sebagai subjek favorit kreasi artistik (hal. 34). Birokrasi otoriter membunuh kreasi artistik. Sehingga Trotsky menyatakan bahwa untuk menyelamatkan seni maka Stalin harus digulingkan. Suatu pernyataan yang menujukkan betapa seni dan politik saling terkait.

Keterkaitan seni lainnya adalah hubungan seni dengan tradisi intelektual. William Phillips fokus pada perkembangan sastra dan relasinya dengan tradisi intelektual. Analisisnya menunjukkan bahwa seni berkembang pesat  bersamaan dengan berkembangnya kaum intelektual. Misalnya Italia, Prancis, dan Inggris. Hal ini dikarenakan kaum intelektual mampu menyerap pengalaman baru dengan norma masa lalu (hal. 52). Hasilnya adalah gaya pada sastra mereka.

baca juga: Narasi-narasi Laut pada Peta Rasio Masa Kini

Tulisan ketiga adalah tulisan Stephen Spender berjudul Sastra dan Politik. Esai ini diilhami kematian Julian Bell dan John Cornford. Peristiwa yang ia sebut situasi khusus yang menyebabkan penyair campur tangan dalam soal politik (hal. 64). Kedua tokoh ini lekat dengan perjuangan anti-fasisme. Dalam perlawanan mereka, terdapat gagasan di mana sastra bercampur dengan politik. Gagasan ini mengundang polemik, di mana banyak terjadi penolakan. Dengan arogansinya, banyak sastrawan menolak gagasan ini karena politik yang nista tidak pantas bersanding dengan politik.

Bukan berarti para sastrawan itu menolak perjuangan anti-fasisme Bell dan Conford. Mereka bersimpati terhadap gerakan anti-fasisme tersebut. Spender melihat seniman ini selayaknya intelektual yang dalam keberpihakannya memanfaatkan mitos intelektual yang netral. Di bagian berikutnya, Spender memberi “ceramah” sejarah sastra dan kaitannya dengan politik di Eropa. Untuk memahami bagian ini, butuh pengetahuan yang luas akan dunia sastra, terutama sastra Eropa, kontemporer.

Selanjutnya, tulisan Barbara Rose yang berjudul Protes dalam Seni. Ia membahas mengenai perlawanan kaum Dada pada masyarakat borjuis dan kaum anti-otoritarian di tahun 50-an dan 60-an yang disebut “neo-Dada”. Pada awalnya seni Dada tidaklah terkait dengan politik, hanya saja mereka bersifat anti-formalis sebagai “perlawanan” terhadap gaya formalis dalam seni.

baca juga: Mental Issue, Fiksi Populer, dan Syahid Muhammad

Kaum neo-Dada justru sebaliknya. Mereka politis. Seniman mulai menyadari bahwa mereka ada di dalam masyarakat. Sehingga perlawanan mereka seharusnya adalah perlawanan dalam konteks sosial. Namun cara-cara mereka yang anti-formalis dan avant garde ternyata tidaklah mujarab. Pada kenyataannya, gaya mereka itu sudah umum di masyarakat, sehingga sudah tidak lagi disebut bertentangan dengan otoritas yang ada. Jika kita mau melihat konteks kini, hal-hal yang progresif justru seringkali jatuh sebagai sekadar tren, bahkan dikomersialisasi.

Terakhir, esai yang ditulis oleh Nicola Chiaramonte yang membahas pertarungan antara dua sastrawan besar, Jean Paul Sartre dan Albert Camus. Esai ini diberi judul Sartre vs Camus: Sebuah Pertarungan Politis. Ketimbang menyebut perdebatan antar sastrawan, penulis justru memilih pertarungan politis sebagai judul. Bukan tanpa sebab, dan sisa tulisan ini adalah argumen atas pilihan itu dan gambaran akan pertarungan Sartre dan Camus.

Pada dasarnya Camus mengkritik ideologi modern dalam L’Homme Revolte (The Rebel), yang menurutnya telah membawa kepada pembudakan sistematis dan bukan kepada pembebasan (hal. 130). Termasuk di dalamnya adalah ideologi-ideologi Kiri yang didukung Sartre. Balasan atas serangan ini adalah tulisan di Les Temps Moderne yang menuding Camus anti-historisisme. Ketimbang membalas argumen Camus, Sartre hanya melempar tudingan yang tidak menjawab Camus (hal. 140).

baca juga: Melihat Diri Sendiri

Dari tulisan di buku ini, kita melihat realitas seni yang tidak terpisah sepenuhnya dengan masyarakat, bahkan politik sekalipun. Pada dasarnya anggapan itu hanyalah mitos yang justru menghambat perkembangan peradaban. Karena seni hanya dianggap seni jika terpisah dari masyarakat. Padahal seni adalah bagian dari masyarakat. Namun sebaliknya, ada pihak yang justru memanfaatkan mitos seni “objektif” untuk membela penguasa (Misalnya pembahasan di buku Kekerasan Budaya Pasca 1965). Tulisan ini memberi tahu kita situasi “belakang panggung” seni yang tidaklah seobjektif yang kita bayangkan.

  •  

Judul : Seni, Politik, Pemberontakan

Penulis : Albert Camus, dkk

Penerbit : Narasi

Tebal : xxxvi + 160 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: