Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Senjakala Kebudayaan Seorang Dokter Desa

Senyap yang Lebih Nyaring

Eka Kurniawan
Stock: Tersedia
Terjual: 48

Kategori : Novel dan Sastra

Setelah beberapa tahun mencoba, saya menemukan sejenis medium berkelamin ganda, pada bentuk yang kemudian berkembang: blog, sebuah ungkapan ringkas dari weblog. Di satu sisi, seperti tulisan di media cetak, ia bersifat publik. Terbuka untuk dibaca siapa saja. Di sisi lain, seperti catatan harian atau surat, bisa juga bersifat pribadi dan personal. Apalagi mengingat bentuk ini nyaris tak memiliki sekat antara ketika ditulis dan diterbitkan: tak ada otoritas media, tak ada saringan editorial. 

Saya bisa memilih sendiri buku yang saya baca dan menulis sesuatu dengan cara yang saya inginkan. Di sini saya bisa menebarkan remah-remah roti Hansel dan Gretel untuk melacak jejak-jejak bacaan saya, juga pikiran, agar mudah kembali ke sana, sekaligus memungkinkan untuk dibaca siapa pun. Siapa tahu dalam perjalanan ini saya tersesat dalam labirin bacaan tak berujung, dan kita dipertemukan di suatu tempat, untuk memulai perbincangan yang lain.

Dunia sastra kita akan dipenuhi penulis-penulis yang bertabiat ugal-ugalan seperti sopir angkutan umum di Jakarta. Dan mereka akan bangga dengan ini. Bangga telah menjadi penulis berpihak, tak peduli caranya menulis menyedihkan. Mungkin seperti kata Lenin (saya kutip semena-mena): "Penyakit kiri kekanak-kanakan." Bangga telah menjejali novel dengan pesan-pesan moral, tapi lupa bagaimana menulis yang benar (belum lagi sampai tahap mengasyikan).  Tapi ah, kenapa saya harus jengkel? Saya bukan guru yang harus mendidik orang bagaimana bersikap, sebagaimana tak perlu mendidik para penulis dan kaum intelektual. Mereka sudah cukup pintar untuk melihat kebodohan-kebodohan di dalam diri sendiri. Barangkali problem utamanya bukan ini, tapi kebutuhan saya untuk mengunjungi psikiater. Untuk meredakan ketegangan-ketagangan estetik, kejengkelankejengkelan yang tak perlu. Beberapa miligram obat pengendali mood mungkin baik buat saya, sehingga tak terlalu terganggu oleh apa pun yang terjadi di dunia kesusastraan. 

Seperti kata Roberto Bolafio, kita para penulis (yang baik, dan saya harap saya bisa menjadi bagiannya, bahkan meskipun saya penulis yang buruk, saya akan mengikuti sarannya), tak memerlukan siapa pun untuk bernyanyi bertepuk tangan atas karya-karya kita. Kenapa? Karena kita sudah dan akan melakukannya sendiri. Kita akan bernyanyi dan bertepuk tangan untuk karyakarya kita sendiri. Dan saya mesti mengingatkan diri sendiri, satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan adalah ukuranukuran yang telah ditancapkan oleh diri sendiri. Jika ingin menulis karya bermoral, tulislah. Jika ingin menulis karya tak bemoral, tulislah. Yang akan membuat saya membaca novel itil, pertama-tama bagaimana ia dituliskan. Menarik atau tidak? Mengasyikan atau tidak? Kalau sekadar ingin bilang "para bayi butuh minum ASI hingga 6 bulan” cukup tuliskan dalam satu baris kalimat, tak perlu satu novel.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Gratis ongkir dengan belanja minimum Rp. 165.000  l  Jauh Dekat Ongkir Rp.5.000 khusus Pulau Jawa l Diskon up to 20% off Tanpa Minimal

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
Penyunting : Tia Setiadi
Ketebalan : xii + 352 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14 x 21 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: Tersedia
Penerbit: Circa
Penulis: Eka Kurniawan
Berat : 400 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa