Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

SI JURU TULIS MATI TRAGIS

Oleh: Aristayanu Bagus K         Diposkan: 11 Jan 2018 Dibaca: 1334 kali


 

Bayangkan, anda seorang pengacara, membutuhkan arsip berupa salinan berita acara dan di saat yang sama, mesin cetak belum ada, atau biaya mesin cetak itu lebih mahal ketimbang hasil tulis tangan manusia. Suatu hal yang terbalik seratus delapan puluh derajat dari hari ini, semuanya serba manual. Sedangkan hari ini, semuanya serba klikdan jadi! Lalu dengan kesadaran diri sebagai manusia, hal tersebut tidak bisa dilakukan seorang diri, dan anda mempekerjakan orang lain, dengan atau tidak keanehan pegawai anda.

Herman Melville, menuliskan Bertleby the Scrivener: A Short Story of Wall-Street yang diterjemahkan oleh Widya Mahardika Putra dan diterbitkan Penerbit OAK, dan diberi judul Bartleby: Si Juru Tulis. Secara garis besar, Malville, bercerita mengenai seorang pengacara sekaligus Asisten di Pengadilan Tinggi Ekuitas, yang memiliki tiga pegawai—pada awalnya—yang masing-masing namanya:  Kalkun, Catut, dan Biskuit Jahe. Mereka bertiga memiliki keanehan dan ciri khasnya masing-masing, mudahnya, jika si Kalkun moody di siang hari—sekitar pukul dua belas, maka si Catut sebaliknya, ia lebih moody di pagi hari. Sedangkan si Biskuit Jahe, usianya masih sangat muda—dua belas tahun, ia dikirim ayahnya untuk menjadi pembelajar hukum, pesuruh dan tukang bersih-bersih (halaman 14).

Sewajarnya usaha yang makin berkembang, selain membutuhkan integritas yang lebih tinggi dari pekerja lamanya, juga membutuhkan pegawai baru sebagai seorang juru tulis—penyalin teks yang ditulis tangan, agar mampu menyalin dokumen-dokumen lebih banyak lagi. Akhirnya, masuklah si Bartleby, dengan pakaiannya yang rapi namun berwajah pucat. Dengan segala keibaan, pengacara itu menerimanya (Bartleby).

Singkatnya, Bartleby, sama anehnya dengan dua juru tulis yang lain. Namun dia jauh lebih aneh, seorang yang datang bekerja, namun tak mau menyelesaikan secara penuh pekerjaannya, atau bahkan sama sekali tak diselesaikan. Bartleby, awalnya memang bekerja secara  tertib untuk menulis dokumen-dokumen panjang, namun tanpa mau untuk menyelianya.

Aku sudah duduk dengan posisi demikian ketika aku memanggilnya, dan juga menjelaskan apa saja yang perlu dilakukannya, yaitu memeriksa dokumen itu bersamaku. Coba bayangkan betapa terkejutnya—tidak, betapa khawatirnya aku, saat Bartleby, tanpa beranjak sejengkal pun dari bilik kerjanya, dengan suara yang pelan namun tegas, membalas, “Saya tidak mau.” (halaman 19)

Lagi, bayangkan anda selaku pemilik perusahaan, dan mendapati pegawai anda demikian. Apa yang akan anda lakukan? Memecatnya? Tidak semudah  itu, Bartlebey melakukan banyak cara untuk bertahan. Bukan dengan cara yang cerdas. Ia (Bartleby) melakukan cara yang gila, memilih untuk mematung dan menyalin tanpa mau memeriksa ulang pekerjaannya. Sampai pada akhirnya ia benar-benar berhenti menyalin dan memilih tetap dia dan “Saya tidak mau,” Jawaban khas Bartleby.

Dia tetap bertahan di tempat itu, dan berada di ruang kerja lamanya. Hingga penghuni baru kantor itu menemui si pengacara untuk bertanggung jawab, atas ulah Bertleby. Sebelum, penghuni baru itu melakukan tindakan kasar, atau memilih memberitakan masalah itu di koran dan dapat membuat reputasi pengacara itu turun. Sebuah pilihan berat, antara iba dan mempertahankan reputasi. Itu yang ia rasakan sebelum akhirnya Bertleby dipenjarakan oleh penghuni baru kantor itu.

Karena merasa bertanggung jawab atas Bartleby, pengacara itu memilih untuk berkunjung ke The Tombs—julukan untuk Hall of Justice, penjara  kota New York yang dibangun dengan arsitektur gaya Mesir Kuno. Saking merasa bertanggung jawabnya ia kepada Bartleby, ia mengajaknya untuk pulang dan tinggal di rumahnya. Namun Bartleby tak bergeming dan tetap berkata bahwa ia tidak mau.

Singkat cerita, kemurungan si juru tulis ini berakhir tragis. Bartleby, mati karena ia enggan untuk makan selama mengalami masa kurungannya. Dan sampai pada akhirnya, pengacara itu tahu bahwa sebelumnya Bartleby bekerja di sebuah kantor Surat Gagal Antar—tanpa penerima—di Washington, sebagai juru tulis biasa.

Secara garis besar, terjemahan cerita ini tak begitu buruk dan cukup mudah dicerna. Hanya saja, konteks yang diangkat dari cerita ini sangat sulit  saya bayangkan, bagaimana sebelum adanya seorang bekerja sebagai juru tulis, lebih sia-sia lagi bekerja sebagai juru tulis Surat Gagal Antar, menulis surat untuk akhirnya dibakar.

Bartleby: Si Juru Tulis ini, merekam tentang bagaimana keadaan di masa belum adanya mesin cetak. Meskipun cerita yang lumayan tak masuk akal, namun mengandung banyak sekali nilai yang dapat di petik di dalamnya. Salah satunya, bagaimana si pengacara ini masih bertanggung jawab dan sabar dalam mengurus Bertleby semasa hidupnya, hingga akhirnya ia mati kelaparan karena tak ada seorang pun yang mengerti siapa dan bagaimana latar belakang si Juru Tulis itu, sebelum kabar angin beredar setelah kematian Bartleby.

Sisi lain pengacara yang ‘garang’ terhadap kasus yang ia tangani, namun sangat rendah hati dalam menangani pekerjanya. Sisi lain yang bisa dibilang jarang dimiliki oleh Bos atau Tuan. Cerita ini pun menampilkan bahwa depresi, mampu berakibat fatal—kematian, yang juga akhir-akhir ini sering terjadi. Kasus-kasus bunuh diri mahasiswa karena skripsi yang tak kunjung tuntas, PHK, dan masih banyak lagi. Untungnya di era sekarang, jika kita mengalami depresi ada komunitas yang berfokus pada upaya pencegahan bunuh diri, yaitu Into The LightID. Sangat penting untuk berbagi cerita, dan menganggap remeh temeh sebuah upaya bunuh diri atau terlarut dalam hilangnya nafsu makan yang berlarut itu adalah kesalahan besar.

Disarankan, jangan membaca Bartleby ini sebelum tidur, ada baiknya membacanya di sore hari, tepat sebelum matahari hampir saja tenggelam, dengan minuman hangat yang menemani anda. Dan jangan berhenti bercerita tentang si Juru Tulis ini, karena begitu pentingnya penyadaran akan masalah yang kerap kali diacuhkan sesama manusia, bercerita.

  •  

Judul Buku: Bartleby: Si Juru Tulis

Penulis: Herman Melville

Penerjemah: Widya Mahardika Putra

Penerbit: OAK

Tebal: ix+78 hlm

Dimensi: 12 x 18 cm



1 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: