Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Skandinavia dan Krisis Keyakinan

Oleh: Saifa Abidillah         Diposkan: 13 Sep 2018 Dibaca: 825 kali


Trend abad 21 sebagai abad kebangkitan agama, menjadi ‘jauh dari panggang api’. Pasalnya, teror, perang, dan kebencian atas nama agama terus berkecamuk. Seolah agama hanya membawa sengsara dan malapetaka. Teror dan peperangan yang dinarasikan sebagai pembelaan terhadap Tuhan, menjadi citra buruk bagi agama. Agama sering disalahgunakan dari berbagai kepentingan.

Tidak menutup kemungkinan, agama menjadi institusi yang terasing. Agama yang selama ratusan tahun, menampakkan diri sebagai ‘Wajah Tuhan’ yang gagah dan tak terkalahkan, tiba-tiba seperti kerdil dan mengenaskan—jutaan orang berpaling, dan terang-terangan mengatakan ‘tidak tertarik’ dengan agama.

Janji-janji agama tentang kedamain dan ajaran kasih sayang yang didengungkan para nabi dan misionaris,menguap di tangan masyarakat modern. Tidak pelak Huston Smith, dalam buku Kebenaran yang Terlupakan (2002), berasumsi bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang benar-benar sekuler. Orang-orang memilih menghindar dari agama, dan sedikit bersikap sinis, berharap tidak mengingatnya lagi: di masa depan, agama pantas dilupakan?

Masyarakat modern menemukan tuhan-tuhan baru, yang lebih menjanjikan dari agama-agama besar dunia. Orang-orang yang haus cahaya kebenaran agama, tidak lagi berharap banyak dari agama—agama tidak lagi dijadikan penuntun dan pegangan hidup masyarakat modern. Masyarakat modern, sanggup menciptakan surga yang lebih nyata di dunia, nyaman, santun, dan rukun.

Buku Masyarakat Tanpa Tuhan - Basabasi

Di Jerman, misalnya, gereja-gereja telah sepi, bangunan yang dulu sering dikunjungi secara rutin selama ratusan tahun, kini telah menjelma restoran, kedai kopi,  dan apartemen (hlm. 237). Gereja-gereja di Jerman, 59 persen sedang berperahu pada sekularisme. Dibandingkan abad lalu, saat ini agama tampak layu di sana.

Senada dengan keadaan Jerman, Belanda saat ini sedang kejang-kejang. Tahun lalu, hampir 100 persen orang Belanda menjadi anggota Gereja, kini hanya 49 persen yang jadi anggota gereja. Juga di Prancis, 91 persen bayi menerima baptis di tahun 1958, representase itu menurun 51 persen pada tahun 1990.Tidak jauh beda dengan Inggris, dalam 100 tahun ke belakang, kekristenan di negara itu sedang di ujung tanduk.

baca juga: Untuk Menghadapi "September Ends"

Sepanjang abad ke-20, kelesuan agama juga tampak di Denmark dan Swedia. Negara yang makmur dan dinobatkan sebagai ‘negara paling bahagia di dunia’ itu, juga menunjukkan masalah yang sama. Hasil riset Phil Zucherman dalam buku ini menunjukkan, dari 149 partisipan sebagian besar orang-orang Denmark dan Swedia mengatakan tidak tertarik dengan agama, hanya sekian persen saja mengatakan ‘iya’ terhadap agama, itu pun mereka diliputi rasa takut, dan sembunyi-sembunyi menganut agama.

Bahkan ada pengakuan terbuka dari Zucherman, selama penulis tinggal satu tahun di Denmark dan Swedia, ia dihantui pertanyaan; mengapa masyarakat Denmark dan Swedia paling tidak religus di dunia? Dan kenapa mereka sanggup menciptakan kedamaian, dan kenyamanan tanpa peran agama?

Kemungkinan pertama, mengapa mereka tidak religius adalah kelesuan gereja mempromosikan agama. Padahal di dunia ‘pasar bebas’ setiap organisasi agama yang ada di negara tersebut, dituntut bersaing mendapatkan rekrutmen anggota-anggota baru. Kedua, tingkat keamanan yang tinggi dalam suatu masyarakat, menyebabkan masyarakat tidak religius. Sedangkan, jika suatu masyarakat penuh dengan kemiskinan, penykit, dan kekacauan, artinya dalam kumpulan orang-orangnya menjalani kehidupan yang relatif tidak aman—mereka akan cenderung religius.

Ketiga, Callum Brown, menjelaskan kemerosotan komunitas Kristenitas di masyarakat Inggris di abad-20. Dengan melihat para wanita. Wanitalah yang secara historis membuat anak-anak dan suami mereka tertarik dan terlibat dengan agama. Lalu ketika wanita memutuskan dan memilih keluar dari agama, anak-anak dan laki-laki juga mengikuti. Kata Brown, wanita adalah benteng bagi dukungan populer, untuk Kristenitas terorganisir dan mereka pula yang memutuskan hubungan dengan kesalehan Kristen di tahun 1960an, sehingga menyebabkan sekularisasi.

Kemungkinan lain mengapa Denmark dan Swedia relatif tidak religius adalah, kurangnya kebutuhan akan pertahanan budaya. Martin dan Bruce, sebagaimana dikutip Zucherman, berasumsi bahwa, agama sering dijadikan identitas nasional, etnis, atau budaya. Dan ketika identitas nasional, etnis, atau budaya terancam, religiositas masyarakat yang terancam tersebut, biasanya menguat. Ketika suatu masyarakat terancam atau tertindas, agama sering menjadi pilar pelindung etnis, komunal atau nasional (hlm. 239-250).

Menukil pendapat Franklin Scott, gereja-gereja di Skandinavia adalah ‘monumen masyarakat’. Gereja juga menjadi simbol identitas nasional mereka. Banyak orang melihat gereja sebagai perlambang dari struktural negara itu sendiri—jadi gereja tentu saja, bukan tempat untuk dikunjungi, bangunan dan bunyi lonceng gereja itu hanya untuk dinikmati sebagai keindahan di kejauhan, tak ada motivasi bagi merekauntuk ikut serta dalam pelayanan gereja.

baca juga: Stories, Caption dan Smartphone Culture

Di Denmark dan Swedia, orang-orang yang berpartisipasi pada kegiatan ritual keagamaan dan baptisme historis pura-pura, kata Zucherman, hanya untuk menyenangkan keluarga pasangan, tidak lebih dari itu—dan hanya menikmatinya sebagai kesenangan semata (hlm. 343). Suatu hal yang ‘tidak berguna’ sama sekali, menanyakan tentang Tuhan, Yesus, surga, neraka, atau masa depan ruh, mereka tidak ubahnya ‘sebagian besar’ orang Yahudi kontemporer, selalu bersikap masa bodo terhadap keyakinan supranatural.

Dan hal yang paling mengejutkan—meski mereka tidak percaya Tuhan, mereka tidak mau dilabeli ateis. Label ateis terlalu negatif dan menghina, kata Frederik seorang partisipan umur 70 tahun. Ia tidak sefanatik itu, menjadi ‘ateis’ adalah menjadi musuh Tuhan. Ia percaya pada ‘sesuatu’, tapi tidak degan kata ‘ateis’.

Menurut temuan Zucherman, hampir tidak ada orang yang membaca atau mempelajari kitab-kitab suci—terutama Injil, dan sedikit orang yang percaya bahwa Injil berasal dari Tuhan; hanya tujuh persen orang Denmark dan tiga persen orang Swedia yang percaya bahwa Injil berasal dari Tuhan. Sisanya menganggap itu buku ‘bagus’, gudang kuno moralitas, karya sejarah, koleksi kisah-kisah tua yang penting penuh kebijaksanaan dan wawasan. Begitulah anggapan mereka, Injil bukan sesuatu yang berasa dari Tuhan yang Kekal.

  •  

Penulis           : Phil Zuchkerman 

Cetakan          : Juli, 2018

Penerbit         : Penerbit Basabasi    

Tebal              : 464 halaman

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: